سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ
Salāmun ‘alā nūḥin fil-‘ālamīn(a).
“Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.”
Kesejahteraan Kami limpahkan atas Nuh di seluruh alam.
Kemudian disebutkan salam kesejahteraan bagi Nuh “Salāmun ‘alā Nūhin” sebagai pengajaran bagi para malaikat, jin, dan manusia supaya mereka juga mengucapkan salam sejahtera kepada Nuh sampai hari Kiamat. Allah berfirman:
قِيْلَ يٰنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ
Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. (Hūd/11: 48)
Dengan ucapan salam sejahtera untuk Nuh oleh umat manusia dari masa ke masa maka nama Nabi Nuh akan tetap harum dan diingat sepanjang masa.
Al-Mujībūn الْمُجِيْبُوْن َ (aṣ-Ṣāffāt/37: 75)
Secara kebahasaan, al-mujībūn yang merupakan bentuk jamak (plural) dari al-mujīb bermakna yang menjawab atau yang memperkenankan. Dalam konteks ayat di atas, al-mujībūn dialamatkan kepada Allah sebagai Zat yang mengabulkan seruan doa Nabi Nuh. Diceritakan, ketika Nabi Nuh merasa yakin bahwa kaumnya tidak ada harapan lagi untuk beriman kepada Allah, maka beliau berdoa kepada Allah supaya menurunkan azab kepada mereka. Menjawab seruan doa Nabi Nuh itu, Allah swt menyatakan, “Sesungguhnya Nuh telah menyeru kepada Kami; maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).” Allah pun lalu menurunkan azab kepada mereka, kecuali pengikut setia Nabi Nuh. Allah menegaskan, “Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.”







































