لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ
Lā yassammā‘ūna ilal-mala'il-a‘lā wa yuqżafūna min kulli jānib(in).
Mereka (setan-setan) tidak dapat mendengar (percakapan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru
Dengan adanya penjagaan ketat terhadap setan-setan durhaka itu, mereka tidak dapat mendengar pembicaraan para malaikat yang akan menyampaikan wahyu kepada rasul-Nya. Dan mereka dilempari dengan benda langit yang menyala dari segala penjuru sehingga mereka tidak bisa menambah atau mengurangi wahyu yang akan diturunkan.
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa setan tidak dapat mendengar pembicaraan malaikat. Setan-setan itu dilempari dari segala penjuru karena ulah mereka yang suka merusak tatanan alam dan menggoda manusia untuk berbuat maksiat kepada Allah.
1. Aṣ-Ṣāffāt الصَّافَّاتِ (aṣ-Ṣāffāt/37: 1)
Aṣ-Ṣāffāt bentuk jamak dari aṣ-ṣāf isim fa‘il dari fi‘il maḍī ṣaffa. Kata aṣ-ṣaff artinya garis lurus pada setiap hal (as-saṭr al mustawi min kulli syai’). Baris artinya kembali kepada munculnya sesuatu secara teratur, rapih, tertib. Aṣ-ṣafuf adalah unta yang membiarkan kedua kaki depannya tetap di tempat untuk memberikan peluang bagi pemerah susunya sehingga tempat susu berbaris dengan teratur untuk mendapatkan giliran diisi dengan air susu unta tersebut. Daging yang ditaruh di atas bara api untuk dibakar dinamakan as-ṣafif. Daging tersebut biasanya ditaruh dengan teratur. Dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan rombongan siapa yang berbaris dengan teratur, oleh karena itu para mufasir berbeda pendapat dalam hal ini. Apakah itu merupakan rombongan malaikat atau yang lainnya.
2. Az-Zājirāt الزَّاجِرَاتِ (aṣ-Ṣaffāt/37: 2)
Az-Zājirāt berasal dari kata az-zajr yang artinya mendorong, mengusir dengan suara keras, dan kasar dari sesuatu yang tidak diinginkan oleh pelakunya. Menurut ar-Ragib al-Iṣfahānī, az-zājirāt pada ayat ini adalah malaikat yang menggiring awan ke lokasi yang ditetapkan Allah untuk diturunkan hujan. Namun demikian, banyak ulama yang memahami az-zājirāt dengan malaikat-malaikat yang menghardik dan mencegah manusia melakukan pelanggaran, baik pelanggaran hukum, syariat, maupun pelanggaran batas-batas yang sudah ditentukan Allah untuk menjamin kelestarian di alam raya ini.
3. At-Tāliyāt التَّالِيَاتِ (aṣ-Ṣaffāt/37: 3)
At-Tāliyāt berasal dari kata talā yang artinya datang sesudahnya atau mengikuti. Objek yang diikuti bisa berupa benda, hukum, atau peraturan. Dari kata ini lahir makna yang berarti membaca karena membaca berarti mengikuti huruf demi huruf. Kata talā khusus untuk membaca kitab suci dan mengikuti perintah, larangan, janji, dan ancaman yang tercantum dalam kitab suci tersebut. At-Tāliyāt dalam ayat ini dipahami sebagai malaikat yang membacakan wahyu-wahyu Ilahi kepada para nabi. Pada ayat ini, Allah bersumpah demi malaikat-malaikat yang berbaris teratur yang menghardik setan sehingga tidak mengganggu proses penurunan wahyu atau ketika malaikat membacakannya kepada para nabi.

