وَّاَبْصِرْهُمْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ
Wa abṣirhum, fa saufa yubṣirūn(a).
Lihatlah mereka! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).
Dan perlihatkanlah kepada mereka gambaran azab yang akan Allah timpakan kepada orang-orang yang ingkar, maka kelak mereka akan melihat dan merasakan azab itu.
Untuk mewujudkan kemenangan itu, Allah meminta Nabi Muhammad agar berpaling dari mereka. Maksudnya yaitu menunjukkan sikap tidak suka pada sikap pembangkangan mereka, tidak menghiraukan ancaman mereka, dan melanjutkan dakwah pada mereka dengan penuh tawakal kepada Allah, sebagaimana diperintahkan Allah dalam ayat lain:
وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِي ْنَ وَدَعْ اَذٰىهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ٤٨ (الاحزاب)
Dan janganlah engkau (Muhammad) menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah engkau hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (al-Aḥzāb/33: 48)
Di samping diperintahkan berpaling, Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk melihat perkembangan selanjutnya, yaitu menunggu, karena pertolongan Allah pasti datang. Pertolongan itu adalah takluknya kota Mekah, sebagaimana dinyatakan ayat berikut:
اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْه ُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣ (النصر)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (an-Naṣr/110: 1-3)
Mereka juga akan melihat perkembangan dan menunggu. Tetapi yang mereka tunggu hanyalah kekalahan.
Bisāḥatihim بِسَاحَتِهِمْ (aṣ-Ṣāffāt/37: 177)
Kata bisāḥatihim terambil dari kata sāḥah yang memiliki arti suatu tempat yang luas dan lapang. Turunnya sesuatu di halaman yang sangat luas mengisyaratkan banyaknya yang turun. Bentuk jamaknya adalah sāḥāt. Sāḥat ad-dār berarti halaman rumah. As-Sā'iḥ adalah air yang terus mengalir yang berada di halaman, bentuk jamaknya adalah suyūḥ. Dalam hadis Nabi disebutkan “Mā suqiya bissaiḥi fa fīhi al-‘usyr (Lahan yang dialiri oleh air yang mengalir maka zakatnya adalah sepersepuluh). Kata nazala yang mendahuluinya mengisyaratkan kehebatan dan penguasaan apa yang diturunkan (dalam hal ini siksa) atas siapa-siapa yang berada di sekitar halaman itu.
Kata ini berasal dari kata sāḥa yang berarti melakukan perjalanan di muka bumi (fasīḥū fi al-arḍ). Nabi Isa digelari dengan al-Masīḥ karena beliau senang bepergian, jika malam telah tiba ia melakukan salat sampai tiba waktu subuh. Al-Misyāḥ adalah mereka yang melakukan perjalanan dan melakukan perusakan di muka bumi. Sa'īḥ juga diartikan dengan mereka yang melakukan ibadah puasa dengan menjaga anggota tubuh dari kemaksiatan, diibaratkan dengan mereka yang melakukan perjalanan tanpa makanan (at-Taubah/9: 112, at-Taḥrīm/66: 5).
Ayat ini menjelaskan tentang sikap orang-orang musyrik Mekah yang menantang Muhammad untuk membuktikan kebenaran risalah yang dibawanya agar sesegera mungkin menurunkan azab atau siksa. Ini artinya mereka tidak mempercayai akan adanya siksa Allah. Kemudian Allah menegaskan cepat atau lambat siksa itu pasti akan datang. Apabila siksaan itu turun di halaman (sāḥah) mereka, pasti amat dahsyat bencana tersebut dan amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Siksa dan bencana yang menimpa mereka digambarkan seperti serangan tentara yang menghancurkan kampung halaman mereka. Mereka diberikan peringatan untuk menyerah tetapi tidak menghiraukannya. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri mereka. Mereka akan mengalami kehancuran yang pedih.









































