وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
Dan karena kesabaran serta ketabahannya dalam menyampaikan agama tauhid, Kami abadikan untuk Nabi Ilyas suatu pujian yang mulia di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
Ayat ini menjelaskan kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Ilyas atas perjuangannya yang tidak kenal lelah dalam menyampaikan dakwah kepada manusia. Kemuliaan itu sama dengan kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Harun, yaitu dikenangnya nama mereka sepanjang masa oleh umat beragama. Di antaranya adalah dipujinya nama mereka dalam Al-Qur’an yang lestari sampai akhir zaman.
Ilyās اِلْيَاسَ (aṣ-Ṣāffāt/37: 123)
Nama Ilyas tidak banyak disinggung dalam Al-Qur’an, hanya dalam ayat ini dan dalam Surah al-An‘ām/6: 85, dan kisahnya pun sedikit sekali. Beberapa mufasir mengatakan Ilyas termasuk salah seorang dari cabang keturunan Nuh (Bagawi). Ilyas anak Yasin, salah seorang cucu Nabi Harun, saudara Nabi Musa, atau Ilyas anak Basyir anak Finhas anak Aizar (atau Gaizran) anak Harun anak Imran. Sesudah Yehezkiel mati, terjadi kekacauan di kalangan Bani Israil. Mereka melupakan janji Allah dalam Taurat sehingga mereka menyembah Ba‘l, berhala-berhala sembahan orang Funisia (Libanon). Pada waktu itulah Allah mengutus Ilyas, yang juga salah seorang nabi Bani Israil kepada suatu kaum di Baalbek (Ba‘lbak, Heliopolis), Libanon sekarang. Ilyas memperingatkan kaumnya tentang azab Allah. Kaum Ilyas ini menyembah Ba‘l, sembahan orang Funisia (Libanon sekarang), dan tempat mereka memohon. Mereka mendirikan beberapa kuil dan mazbah untuk Ba‘l dan berhala-berhala lain lengkap dengan pendeta-pendetanya, dan mereka mengadakan bermacam-macam upacara, pesta, dan hari raya. Mereka mempersembahkan kurban-kurban manusia untuk sang berhala. Mereka menolak seruan Ilyas supaya menyembah Allah Yang Esa, sebaliknya mereka menganggapnya pendusta. Sikap ini menyebabkan mereka kemudian mendapat azab.
Ilyas dalam Alkitab (Perjanjian Lama) sama dengan Elia (Inggris, Elijah), salah seorang nabi besar Israel, dan dikenal dengan sebutan kehormatan “Elia orang Tisbe,” penduduk Gilead di kerajaan Israel utara, mendapat gelar “yang paling terhormat dan romantis yang pernah dilahirkan Israel.” Ceritanya terdapat dalam beberapa kitab dalam Perjanjian Lama (Bilangan 22 dan 25, Raja-raja I, 17-19, dan Raja-raja II, 1-2, dan di sana sini), tanpa menyebut asal-usulnya. Elia hidup pada masa kekuasaan raja Ahab dan Ahaziah (abad ke-9 SM). Ahab anak raja Omri, raja Israel yang ketujuh, dan Ahaziah raja Yudah yang keenam, termasuk raja-raja kerajaan Israel atau Samaria, dan Elisa, yang di dalam Al-Qur’an tampaknya sama dengan Yasa‘ (al-Yasa‘), murid Elia yang kemudian menggantikannya sebagai nabi kerajaan Israel (Raja-Raja I, 19: 16-17). Latar belakangnya sangat bertolak belakang dengan Elisa. Elia orang Badwi sejati, hidup di sahara. Ia memasuki kota hanya untuk menyampaikan dakwahnya. Sebaliknya Elisa adalah orang kota, berperadaban kota, potongan rambut dan memakai pakaian cara Israel, yang barangkali sama dengan abaya pakaian panjang orang Suria.
Hubungan Ilyas dengan al-Yasa‘ (sama dengan Elisa (Elisha) dalam Perjanjian Lama), dimulai ketika Ilyas datang ke rumah seorang perempuan yang punya anak bernama al-Yasa‘ bin Ukhtub (dalam Perjanjian Lama Elisa bin Safat). Ia sedang mengidap penyakit. Ketika itu Ilyas sudah berusia lanjut sedang Yasa‘ baru dalam usia remaja. Ilyas mendoakannya, maka ia pun sembuh dari penyakitnya. Sejak itu ia beriman kepada Ilyas dan menjadi pengikutnya yang setia. Ke mana pun Ilyas pergi ia ikut bersamanya, sampai akhirnya Ilyas naik ke langit dengan meninggalkan jubahnya di tangan Elisa. (lihat lebih lanjut dalam Kosakata “Yasa‘”)
Raja Ahab dan Ahaziah kemudian terjerumus ke dalam kemusyrikan dan penyembahan Baal (Ba‘l), dewa matahari di Suria. Penyembahan Baal sudah dikenal dan tersebar luas di kalangan orang Moab dan Madyan, juga di kalangan orang Israel pada zaman Nabi Musa. Pada zaman raja-raja, sudah menjadi agama istana dan masyarakat dari sepuluh suku. Raja Ahab kawin dengan putri Sidon, Izebel (Jezebel), seorang perempuan durjana yang telah membawa suaminya meninggalkan Allah dan ikut memuja Baal. Didirikannya kuil untuk Baal di Samaria (Raja-Raja I, 16: 29-33). Segala perbuatan dosa Ahab, demikian juga Ahaziah dicela oleh Elia dan dia sendiri menyingkir meninggalkan mereka. Ia meneruskan perjalanan bersama Elisa. “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke surga dalam angin badai.” Setelah itu, Elisa memungut jubah Elia yang terjatuh. (Raja-raja II, 2: 11-13)













































