Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 182 - Surat Aṣ-Ṣāffāt (Barisan-Barisan)
الصّٰۤفّٰت
Ayat 182 / 182 •  Surat 37 / 114 •  Halaman 452 •  Quarter Hizb 46 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Makna Surat As-Saffat Ayat 182
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan ungkapan yang pantas ditujukan kepada Allah adalah pengakuan bahwa segala puji hanya layak bagi Allah Tuhan seluruh alam. Dia Mahakuasa, Maha Esa, dan Mahaperkasa. Dia menolong hamba-Nya yang berhak dan menyiksa siapa saja yang menentang risalah-Nya.[]

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Selanjutnya Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar bertasbih mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan kelemahan. Allah Mahaperkasa, tidak lemah sebagaimana pandangan kaum kafir itu, yang membutuhkan anak, teman hidup, dan tidak mampu memenangkan mereka yang beriman atau menjatuhkan azab segera. Karena Ia Mahasuci dari sifat kekurangan dan kelemahan itu, maka ia pasti akan menghukum yang kafir dan jahat dan membahagiakan yang beriman dan berbuat baik.

Kepada para rasul dan pengikut mereka, khususnya kepada Nabi Muhammad dan umat Islam, Allah memberikan selamat, yaitu memastikan bahwa mereka memperoleh kemenangan di dunia dan kebahagiaan nanti di akhirat, yaitu menjadi penghuni surga.

Dengan hancurnya mereka yang membangkang dan diazabnya mereka di dalam neraka, dan menangnya mereka yang beriman dan masuknya mereka menjadi penghuni surga, berarti Allah Mahaadil dan Mahakuasa. Ia memberi ganjaran yang baik sesuai dengan kebaikannya dan membalas perbuatan yang jahat sesuai dengan kejahatannya. Dengan demikian terbuktilah bahwa Ia terpuji dan memang patut selalu dipuji.

Isi Kandungan Kosakata

Bisāḥatihim بِسَاحَتِهِمْ (aṣ-Ṣāffāt/37: 177)

Kata bisāḥatihim terambil dari kata sāḥah yang memiliki arti suatu tempat yang luas dan lapang. Turunnya sesuatu di halaman yang sangat luas mengisyaratkan banyaknya yang turun. Bentuk jamaknya adalah sāḥāt. Sāḥat ad-dār berarti halaman rumah. As-Sā'iḥ adalah air yang terus mengalir yang berada di halaman, bentuk jamaknya adalah suyūḥ. Dalam hadis Nabi disebutkan “Mā suqiya bissaiḥi fa fīhi al-‘usyr (Lahan yang dialiri oleh air yang mengalir maka zakatnya adalah sepersepuluh). Kata nazala yang mendahuluinya mengisyaratkan kehebatan dan penguasaan apa yang diturunkan (dalam hal ini siksa) atas siapa-siapa yang berada di sekitar halaman itu.

Kata ini berasal dari kata sāḥa yang berarti melakukan perjalanan di muka bumi (fasīḥū fi al-arḍ). Nabi Isa digelari dengan al-Masīḥ karena beliau senang bepergian, jika malam telah tiba ia melakukan salat sampai tiba waktu subuh. Al-Misyāḥ adalah mereka yang melakukan perjalanan dan melakukan perusakan di muka bumi. Sa'īḥ juga diartikan dengan mereka yang melakukan ibadah puasa dengan menjaga anggota tubuh dari kemaksiatan, diibaratkan dengan mereka yang melakukan perjalanan tanpa makanan (at-Taubah/9: 112, at-Taḥrīm/66: 5).

Ayat ini menjelaskan tentang sikap orang-orang musyrik Mekah yang menantang Muhammad untuk membuktikan kebenaran risalah yang dibawanya agar sesegera mungkin menurunkan azab atau siksa. Ini artinya mereka tidak mempercayai akan adanya siksa Allah. Kemudian Allah menegaskan cepat atau lambat siksa itu pasti akan datang. Apabila siksaan itu turun di halaman (sāḥah) mereka, pasti amat dahsyat bencana tersebut dan amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Siksa dan bencana yang menimpa mereka digambarkan seperti serangan tentara yang menghancurkan kampung halaman mereka. Mereka diberikan peringatan untuk menyerah tetapi tidak menghiraukannya. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri mereka. Mereka akan mengalami kehancuran yang pedih.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto