مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗهَلْ يَنْصُرُوْنَكُمْ اَوْ يَنْتَصِرُوْنَ ۗ
Min dūnillāh(i), hal yanṣurūnakum au yantaṣirūn(a).
selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong dirinya sendiri?”
Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan berhala-berhala itu dan para penyembahnya akan masuk neraka bersama-sama.
Kemudian pada saat menghadapi neraka yang siap menerima orang-orang kafir dan musyrik, dilontarkan pertanyaan untuk mencemoohkan mereka, “Di manakah tuhan-tuhan berhala yang kamu sembah itu kini berada? Sanggupkah mereka menyelamatkan kamu dari siksaan Allah?” Jangankan untuk menyelamatkan orang lain, melepaskan diri mereka saja, tuhan-tuhan berhala itu tidak sanggup.
Kubkibū كُبْكِبُوْا (asy-Syu’arā’/26: 94)
Kata ini disebut hanya sekali dalam Al-Qur’an. Asalnya adalah kubkiba. Pada kata ini berkumpul tiga huruf ba’. Ba’ yang di tengah digantikan huruf kaf, menjadi kubkibu, yang artinya “mereka dilemparkan”. Menurut as-Suddī, dalam hal ini yang dilemparkan ke dalam neraka adalah al-musyrikūn (orang-orang musyrik). Mufassir lain berpendapat bahwa yang dilemparkan adalah benda-benda sembahan orang musyrik waktu mereka menyekutukan Allah di dunia. Mereka itu dilemparkan ke dalam neraka sebagai bahan bakarnya bersama-sama dengan manusia yang menyembahnya.




























