اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Innahū huwas-samī‘ul-‘alīm(u).
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Sungguh, Dia Maha Mendengar semua apa yang kau katakan dan engkau keluhkan, serta Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan. Semua yang terjadi tidak berlalu begitu saja, tetapi akan mendapatkan perhitungan dari Allah.
Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad jika ia telah melaksanakan perintah Allah menyampaikan agama-Nya kepada orang-orang Mekah, tetapi mereka tidak mengindahkan seruan, maka hendaklah ia bertawakal dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Hanya Allah yang sanggup membela Nabi dari segala tipu daya musuh, dan menolongnya dari segala macam bencana yang akan menimpa. Hanya Allah yang melimpahkan rahmat, dan mengetahui segala perbuatan dan gerak-gerik hamba-Nya. Allah melihat Nabi ketika melakukan salat Tahajud, rukuk, sujud, dan mengimami orang-orang yang sujud.” Kata “sujud” dalam ayat ini maksudnya ialah orang-orang yang salat. Allah menyebut orang-orang yang salat dengan orang-orang yang sujud adalah untuk menunjukkan bahwa pada waktu sujud itulah seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya.
Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia Maha Mendengar segala tutur dan percakapan beliau, dan Maha Mengetahui perbuatan Nabi, baik yang beliau nyatakan ataupun yang tidak, dan Dia mengetahui segala isi hati beliau. Allah Mahakuasa memberi pembalasan kepada beliau dengan seadil-adilnya.
1. ‘Asyīrataka عَشِيْرَتَكَ (asy-Syu’arā’/26: 214)
Kata ‘asyīrah (keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-’asy rah. Kata ini terambil dari kata ‘asyrah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa Arab dengan kata ‘asyīrah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyīrah ar-rajuli (keluarga seseorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyrah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyīrah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dari kata ini diambil kata ‘asyīr yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’āsyarah yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut....” (an-Nisā’/4: 19) Maksud kata ‘asyīrah di dalam surah ini adalah keluarga.
2. Taqallubaka تَقَلُّبَكَ (asy-Syu’arā’/26: 219)
Kata taqallub terbentuk dari kata taqallaba-yataqallabu-taqall uban yang berarti berbolak-balik. Ia terambil dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍa berarti membalik tanah (memba-jak). Kata qalbun secara spiritual berarti hati, dan ia disebut demikian karena hati tidak bisa berada dalam satu kondisi. Kata qalbun secara fisik berarti jantung, disebut demikian karena jantung selalu berdenyut-denyut. Kata taqallub berikut derivasinya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali, dan keseluruhannya berkisar pada makna menjelajah dan berbolak-balik. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.” (al-Baqarah/2: 144) Maksud kata taqallab di sini adalah gerak naik turun di dalam sujud.
































