فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ ۙ
Fī jannātiw wa ‘uyūn(in).
(Yaitu,) di dalam kebun-kebun dan mata air.
Di dalam kebun-kebun yang rindang serta mata air yang jernih dan melimpah,
Nabi Saleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yaitu:
1. Mereka hidup dengan aman di negeri mereka, bebas dari gangguan musuh, dan memperoleh kebahagiaan serta ketenteraman hidup.
2. Mereka mempunyai tanah pertanian yang subur, binatang ternak yang banyak, dan memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kanal-kanal irigasi yang teratur. Mereka hidup sebagai petani, penggembala, saudagar, dan penggali logam dari dalam tanah. Oleh karena itu, negeri mereka menjadi indah, dipenuhi tanaman yang menyenangkan mata orang yang memandangnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa negeri merekalah sebenarnya surga yang dijanjikan Allah.
3. Mereka diberi kemampuan memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal.
Itulah berbagai nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kaum Samud. Mereka seharusnya mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah itu, tetapi semakin hari mereka semakin sombong. Mereka merasa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu hanya karena usaha mereka sendiri, bukan karena nikmat Allah. Oleh karena itu, mereka tidak percaya akan adanya hari Kiamat. Hidup yang sebenarnya menurut mereka adalah hidup di dunia ini dan mereka menginginkan agar kekal di dunia.
Kaum Samud tidak lagi memikirkan bagaimana nasib mereka nanti, seandainya pada suatu waktu, Allah secara tiba-tiba mencabut semua kebahagiaan dan kemakmuran mereka dan menukarnya dengan malapetaka yang dahsyat. Semua itu bisa dilakukan Allah karena keingkaran dan kesombongan mereka sendiri.
Ayat ini mengandung makna bagaimana dengan bekal akal yang kuat maka manusia dapat memahat batu gunung untuk dijadikan tempat tinggal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Samud. Pada saat ini, teknologi alat-alat pemahat sudah berkembang dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, antara lain untuk memotong dan membelah batu gunung yang keras. Peralatan-peralatan tersebut sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin atau robot. Bahkan manusia telah mampu menciptakan teknologi pemahatan super-canggih di mana objek dipotong atau dibelah dengan sinar laser. Hasilnya sangat halus dan tepat. Dengan alat mutakhir ini, batuan granit yang sangat keras pun menjadi mudah dibelah atau dipotong. Itulah hasil pikiran manusia.
1. Haḍīm هَضِيْم (asy-Syu’arā’/26: 148)
Kata dengan huruf dasar ha’, ḍad, dan mim disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama di Surah Ṭāhā/20: 112, dan kedua dalam ayat ini. Haḍīm merupakan kata sifat bagi aṭ-ṭal’u sebelumnya. Kata terakhir ini berarti buah (al-ṡamar) atau mayang pohon kurma. Mayang atau buah kurma inilah yang disifati haḍīm untuk menggambarkan bahwa mayang atau buah pohon kurma yang mereka miliki terlihat lembut dan tersusun rapi. Kata haḍīm dengan arti lembut, sesuai dengan pendapat Imam Qatādah yang memaknainya dengan al-layyin (lembut).
2. Tanḥitūn تَنْحِتُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 148)
Tanḥitūn merupakan fi’il muḍāri’ dari naḥata-yanḥitu-naḥt(an ) yang berarti mengukir atau memahat. Memahat merupakan keterampilan atau keahlian kaum Samud pada zamannya. Penggunaan fi’il muḍāri’ dalam konteks menggambarkan keterampilan kaum Samud dalam hal memahat, untuk memperlihatkan bahwa mereka telah memiliki budaya memahat, terutama gunung-gunung batu untuk dijadikan sebagai rumah atau tempat tinggal. Mereka telah menguasai teknologi tepat guna dalam membangun rumah-rumah tempat tinggal dengan jalan memahat gunung-gunung batu, sesuai dengan perkembangan budaya mereka waktu itu.




































