فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Ketahuilah bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah.
Melihat sikap yang demikian itu, Nabi Hud mengingatkan mereka agar bertakwa dan menghambakan diri kepada Allah. Nabi Hud mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka mensyukuri nikmat itu agar Allah menambahnya dengan nikmat yang lebih banyak lagi dan lebih tinggi nilainya.
1. Rī’in رِيْعٍ (asy-Syu’arā’/26: 128)
Kata rī’in, dalam qira’at ‘Āṣim al-Jahdarī, dibaca rai’in dengan fatḥah huruf ra’. Rī’in artinya kawasan dataran tinggi, kebalikan dari dataran rendah. Kata āyah dalam firman Allah ini bisa berarti bangunan megah yang memperoleh kemasyhuran sebagai tanda kebesaran. Umumnya orang kaya memilih dan menetapkan kawasan dataran tinggi sebagai kapling tempat membangun rumahnya yang megah untuk menunjukkan dan membanggakan kekayaan. Kebiasaan seperti itulah yang kemudian diangkat menjadi pertanyaan dalam ayat ini, pertanyaan yang terkait dengan suatu realitas sebenarnya.
2. Baṭasytum بَطَشْتُمْ (asy-Syu’arā’/26: 130)
Kata ini merupakan fi’il māḍī (kata kerja lampau), baṭasya-yabṭisyu- baṭsy(an). Dengan berbagai derivasinya disebutkan tidak kurang dari 11 kali dalam Al-Qur’an. Pengertiannya berbeda, tergantung siyāq al-kalām (alur pembicaraan) atau qarīnah (indikator)nya. Dalam ayat ini, baṭasytum berarti berjalan, menyerbu, menyiksa. Penyebutannya di sini memperlihatkan ucapan Nabi Hud kepada kaumnya (kaum ‘Ad) yang memiliki kekuatan fisik, apabila melakukan penyerbuan, mereka melakukannya dengan dahsyat dan sewenang-wenang. Kalau melakukan penyiksaan, mereka melakukannya dengan amat biadab dan angkuh.



































