قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ اِذًا لَّمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ
Qāla na‘am wa innakum iżal laminal-muqarrabīn(a).
Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti akan menjadi orang-orang yang dekat (kepadaku).”
Fir’aun menjawab, “Ya, kalian akan mendapatkan imbalan yang besar dan bahkan di samping itu, kamu pasti akan mendapat kedudukan yang dekat kepadaku. Dengan kedudukan itu, kamu pasti akan mendapatkan fasilitas-fasilitas terbaik dariku.”
Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah berkumpul di ruangan tempat Fir‘aun, para ahli sihir itu meminta kebijaksanaan Fir‘aun supaya mau memberikan bayaran dan menjadikan mereka lebih dekat dengannya apabila menang nanti. Fir‘aun menerima baik permintaan itu, bahkan ia berjanji akan menjadikan mereka penasihat yang selalu diajak duduk bersama, dan dijadikan orang-orang yang terdekat dengannya. Setelah ada pengertian bersama antara ahli-ahli sihir dengan Fir‘aun tentang bayaran dan fasilitas lainnya, mereka kemudian mengadu kekuatan dengan Musa. Mereka bertanya kepadanya, “Wahai Musa! Engkaukah yang lebih dahulu menampilkan dan mendemonstrasikan sihirmu atau kami yang lebih dahulu?”
Talqafu mā Ya’fikūn تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 45)
Talqafu terambil dari kata al-laqf yang berarti mengambil dengan cepat atau menelan. Adapun al-ifk adalah memalingkan sesuatu yang diyakini benar kepada yang batil, dari omongan yang benar kepada kebohongan, dan dari sesuatu yang baik kepada yang jelek. Ayat ini menjelaskan bagaimana tongkat Nabi Musa yang dengan seizin Allah berubah menjadi ular dan menelan ular-ular para tukang sihir Fir‘aun yang mereka sangka ular-ular sungguhan. Padahal, semua itu hanya tali-tali yang berubah dalam pandangan mereka akibat pengaruh sihir sehingga seolah-olah menjadi ular sungguhan. Kata ini disebutkan dua kali pada surah ini dan pada Surah al-A‘rāf/7: 117.






















