قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
Qālū āmannā birabbil-‘ālamīn(a).
Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
Para pesihir berkata dengan penuh keyakinan “Kami beriman, yakin, dan percaya kepada Tuhan pencipta seluruh alam sebagaimana yang diyakini oleh Musa, yaitu Tuhan Musa dan Harun, Tuhan seluruh alam.”
Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah menyaksikan apa yang terjadi, ahli-ahli sihir Fir‘aun itu menyerah kalah. Mereka tersungkur dan lalu bersujud kepada Allah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa, sambil berikrar, “Kami telah beriman kepada Tuhan semesta alam, yaitu Tuhan yang disembah Musa dan Harun.” Mereka berbuat demikian karena sadar bahwa apa yang mereka perlihatkan kepada orang banyak hanyalah khayalan dan tipuan semata. Adapun apa yang diperlihatkan Musa adalah mukjizat, dan betul-betul bukan sihir. Itu adalah suatu kekuasaan yang jauh lebih unggul dari apa yang mereka ketahui, dan datangnya dari langit untuk memperkuat Musa di dalam pengakuannya sebagai seorang rasul Allah.
Talqafu mā Ya’fikūn تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 45)
Talqafu terambil dari kata al-laqf yang berarti mengambil dengan cepat atau menelan. Adapun al-ifk adalah memalingkan sesuatu yang diyakini benar kepada yang batil, dari omongan yang benar kepada kebohongan, dan dari sesuatu yang baik kepada yang jelek. Ayat ini menjelaskan bagaimana tongkat Nabi Musa yang dengan seizin Allah berubah menjadi ular dan menelan ular-ular para tukang sihir Fir‘aun yang mereka sangka ular-ular sungguhan. Padahal, semua itu hanya tali-tali yang berubah dalam pandangan mereka akibat pengaruh sihir sehingga seolah-olah menjadi ular sungguhan. Kata ini disebutkan dua kali pada surah ini dan pada Surah al-A‘rāf/7: 117.

























