Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 18 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 18 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 367 •  Quarter Hizb 37.5 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَ ۗ

Qāla alam nurabbika fīnā walīdaw wa labiṡta fīnā min ‘umurika sinīn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.538)

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 18
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mendengar ucapan Nabi Musa, dia Fir’aun, menjawab dengan nada marah dan mengungkit jasanya terhadap Nabi Musa di masa lalu, “Bukankah kami telah mengasuhmu, memeliharamu dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan keluarga kami, yaitu waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu yaitu semenjak engkau masih bayi sampai engkau menjadi pemuda?”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Tatkala Musa dan Harun diperkenankan menghadap Fir‘aun dan menegaskan kepadanya bahwa mereka berdua adalah rasul Allah Pencipta alam semesta dan meminta supaya Bani Israil dibebaskan dari perbudakan dan diizinkan meninggalkan Mesir, Fir‘aun sangat terkejut dan merasa tercengang. Ia menjadi heran mengapa keduanya begitu berani menentang kekuasaannya, sedangkan dia sendiri menganggap dirinya sebagai tuhan bagi rakyatnya, termasuk dalam hal ini Bani Israil. Kemudian Musa dan Harun juga menuntut pembebasan semua Bani Israil dari cengkeraman perbudakan.

Fir‘aun heran mengapa Musa sampai berani mengemukakan dua hal yang amat tidak masuk akal itu? Fir‘aun mengetahui benar bahwa Musa adalah anak asuhnya sendiri. Semenjak kecil, dia dididik dan dibesarkan dalam istananya. Fir‘aun mengetahui pula bahwa setelah dewasa, Musa pernah membunuh seorang rakyatnya yang dekat dengannya, yaitu tukang masaknya sendiri ketika ia berkelahi dengan salah seorang Bani Israil. Fir‘aun juga heran mengapa Musa dengan riwayat hidup seperti itu, berani menentang kekuasaannya dan menuntut hal yang tidak masuk akal menurut pendapatnya.

Dengan nada yang keras dan rasa amarah yang tak tertahankan, Fir‘aun menjawab, “Bukankah engkau telah kami asuh dan kami didik semenjak kecil? Kami selamatkan kamu dari pembunuhan di mana pada waktu itu kami memerintahkan agar setiap anak laki-laki Bani Israil harus dibunuh. Kami didik dan kami besarkan di istana kami, kami sayangi dan santuni seperti menyayangi dan menyantuni anak kami sendiri. Akan tetapi, sekarang kamu meminta kepada kami dua hal yang tak mungkin terjadi yaitu agar aku turun dari singgasana ketuhananku serta mengakui bahwa kamu adalah rasul dari Tuhan yang tidak kami kenal. Kemudian kamu meminta pula agar Bani Israil yang telah berabad-abad tinggal di negeri Mesir ini dibebaskan dan kamu bawa ke negeri yang kamu anggap tanah leluhurmu. Ini adalah suatu lelucon yang tidak lucu dan suatu kebodohan dan ketololan yang menunjukkan bahwa kamu berdua adalah manusia yang tak berbudi bahkan mungkin manusia yang telah gila.”

Isi Kandungan Kosakata

1. Lā Yanṭaliqu Lisānī لاَ يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ (asy-Syu’arā’/26: 13)

Lā yanṭaliqu lisānī bermakna tidak lancar lidahku berbicara. Dipahami oleh para ulama sebagai gangguan pada lidah Nabi Musa sehingga tidak dapat berbicara dengan fasih. Permohonan beliau agar diperlancar lidahnya dapat dikaitkan dengan kemarahan yang beliau khawatirkan muncul akibat penolakan kaumnya terhadap seruan untuk beriman kepada Allah. Sebagaimana dada beliau dapat merasakan sesak akibat kemarahan, maka lidah pun menjadi tidak lancar mengemukakan aneka penjelasan. Kata yanṭaliqu lisānī hanya disebutkan dalam ayat ini.

2. ‘Abbadta Banī Isrā’īl عَبَّدْتَ بَنِي اسْرَائِيْلَ (asy-Syu’arā’/26: 22)

Potongan ayat ini lengkapnya adalah: Wa tilka ni’matun tamunnuhā ‘alayya an ‘abbatta banī isrā’īl(a) (Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani Israil). Dari kata kerja ‘abada, ya’budu, ‘ābidun, menyembah, beribadah kepada; ‘abbada, ista’bada, memperbudak, memperhamba seseorang. Ini adalah kata-kata Nabi Musa yang ditujukan kepada Fir‘aun untuk menyatakan bahwa karena Fir‘aun merasa telah memberi kenikmatan kepadanya, maka ia mau memperbudak saudara-saudaranya Bani Israil. Semasa kecil, Musa memang pernah dipelihara, dibesarkan, dan diangkat sebagai anak dalam istana Fir‘aun (Ṭāhā/20: 39-40). Akan tetapi, Musa bukan orang yang dapat disuap dengan kata-kata bujukan semacam itu. Sebagai nabi, ia sadar betul bahwa nikmat sebagai seorang nabi yang dikaruniakan Allah kepadanya jauh lebih besar dan lebih berharga.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto