Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 16 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 16 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 367 •  Quarter Hizb 37.5 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Fa'tiyā fir‘auna faqūlā innā rasūlu rabbil-‘ālamīn(a).

Maka, datanglah berdua kepada Fir‘aun dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 16
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun tanpa dihinggapi rasa takut dan katakanlah dengan kesungguhan hati dan kepercayaan diri, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah para rasul Tuhan seluruh alam.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat-ayat ini, Allah menegaskan kepada Musa a.s. bahwa semua yang dikhawatirkannya itu tidak akan terjadi. Dia tidak akan dapat dibunuh oleh Fir‘aun karena Fir‘aun tidak akan dapat berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Adapun permintaan Musa agar saudaranya, Harun, diangkat menjadi rasul telah dikabulkan oleh Allah. Dengan begitu, perintah untuk pergi berdakwah kepada Fir‘aun dan kaumnya dibebankan kepada Musa dan Harun. Di dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa permintaan Musa itu dikabulkan yaitu:

قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى ٣٦

Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa! (Ṭāhā/20: 36).

Allah menceritakan kepergian Musa dan Harun menyeru Fir‘aun dan kaumnya kepada agama tauhid dengan membawa mukjizat yang akan menguatkan seruannya yaitu tongkat Musa yang dapat menjadi ular, dan tangannya bila dimasukkan ke ketiaknya akan menjadi putih bercahaya. Untuk menghilangkan segala was-was dan kekhawatiran dalam hati Musa dan Harun, Allah menegaskan bahwa Ia selalu akan mendengar dan memperhatikan apa yang akan terjadi di kala keduanya telah berhadapan dengan Fir‘aun. Hal ini dengan jelas diterangkan pada ayat lain yaitu:

قَالَ لَا تَخَافَآ اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى ٤٦

Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. (Ṭāhā/20: 46).

Allah menyuruh Musa dan Harun agar mengatakan dengan tegas kepada Fir‘aun bahwa mereka datang menghadap kepadanya untuk menyampaikan bahwa mereka berdua adalah rasul yang diutus Allah, Tuhan semesta alam, kepadanya dan kaumnya. Selain itu keduanya harus meminta kepada Fir‘aun agar membebaskan Bani Israil yang telah diperbudak selama ini. Keduanya ingin membawa mereka kembali ke tanah suci Baitul Makdis, tanah tumpah darah mereka, di mana nenek moyang mereka semenjak dahulu kala telah berdiam di sana. Hal ini bertujuan agar mereka dapat dengan bebas memeluk agama tauhid tanpa ada tekanan atau hambatan dari siapa pun.

Dalam Tafsir al-Maragī diterangkan bahwa menurut riwayat, Bani Israil yang tinggal di Mesir diperbudak oleh Fir‘aun dan kaumnya dalam waktu yang lama, yaitu selama 400 tahun. Fir‘aun memang sangat berkuasa dan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya, terutama Bani Israil. Menurut al-Qurtubī, sebagaimana dikutip oleh al-Maragī, Musa dan Harun harus menunggu satu tahun untuk dapat menghadap Fir‘aun.

Isi Kandungan Kosakata

1. Lā Yanṭaliqu Lisānī لاَ يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ (asy-Syu’arā’/26: 13)

Lā yanṭaliqu lisānī bermakna tidak lancar lidahku berbicara. Dipahami oleh para ulama sebagai gangguan pada lidah Nabi Musa sehingga tidak dapat berbicara dengan fasih. Permohonan beliau agar diperlancar lidahnya dapat dikaitkan dengan kemarahan yang beliau khawatirkan muncul akibat penolakan kaumnya terhadap seruan untuk beriman kepada Allah. Sebagaimana dada beliau dapat merasakan sesak akibat kemarahan, maka lidah pun menjadi tidak lancar mengemukakan aneka penjelasan. Kata yanṭaliqu lisānī hanya disebutkan dalam ayat ini.

2. ‘Abbadta Banī Isrā’īl عَبَّدْتَ بَنِي اسْرَائِيْلَ (asy-Syu’arā’/26: 22)

Potongan ayat ini lengkapnya adalah: Wa tilka ni’matun tamunnuhā ‘alayya an ‘abbatta banī isrā’īl(a) (Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani Israil). Dari kata kerja ‘abada, ya’budu, ‘ābidun, menyembah, beribadah kepada; ‘abbada, ista’bada, memperbudak, memperhamba seseorang. Ini adalah kata-kata Nabi Musa yang ditujukan kepada Fir‘aun untuk menyatakan bahwa karena Fir‘aun merasa telah memberi kenikmatan kepadanya, maka ia mau memperbudak saudara-saudaranya Bani Israil. Semasa kecil, Musa memang pernah dipelihara, dibesarkan, dan diangkat sebagai anak dalam istana Fir‘aun (Ṭāhā/20: 39-40). Akan tetapi, Musa bukan orang yang dapat disuap dengan kata-kata bujukan semacam itu. Sebagai nabi, ia sadar betul bahwa nikmat sebagai seorang nabi yang dikaruniakan Allah kepadanya jauh lebih besar dan lebih berharga.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto