ثُمَّ جَاۤءَهُمْ مَّا كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ۙ
Ṡumma jā'ahum mā kānū yū‘adūn(a).
Kemudian, ia (azab) yang diancamkan datang kepada mereka.
Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, sebagaimana permintaan mereka agar azab itu dipercepat datangnya.
Ibnu Abī Ḥātim menukil riwayat tentang asbab nuzul ayat ini dari Abū Yahḍam bahwa Rasulullah terlihat dalam keadaan bingung, kemudian para sahabat bertanya kepadanya apa sebab beliau bingung. Rasulullah menjawab bahwa beliau melihat musuh-musuhnya sesudah beliau wafat dari umatnya sendiri, maka turunlah ayat 205 Surah asy-Syu’arā’, dan kebingungan Rasul akhirnya sirna.
Melalui ayat-ayat ini, Allah memperingatkan orang-orang musyrik Mekah tentang azab-Nya dengan berfirman, “Hai orang-orang musyrik, apakah kamu ingin mengalami nasib seperti yang dialami oleh umat-umat terdahulu? Mereka telah diberi kesenangan hidup, kekuatan tubuh, dan kesanggupan memakmurkan negeri mereka. Mereka mengira bahwa kebahagiaan, kemakmuran, dan kekuasaan yang diperoleh itu dapat mengelakkan mereka dari azab Allah. Kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap merasakan azab yang sangat pedih. Demikian pedihnya azab itu seakan-akan mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan dan kesenangan di dunia.” Allah berfirman:
كَاَنَّه ُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا ࣖ ٤٦
Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya yang hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari. (an-Nāzi’āt/79: 46).
Lama’zūlūn لَمَعْزُوْلُوْ نَ (asy-Syu’arā’/26: 212)
Kata ma’zūlūn adalah isim maf’ūl yang berarti dijauhkan, diambil dari fi’il ‘azala-ya’zilu-’azlan yang berarti memisahkan. Lam adalah ḥarf taukīd, sehingga makna lama’zūlūn adalah benar-benar dijauhkan atau dipisahkan. Maksud kata lama’zūlūn dalam Surah asy-Syu’arā’/26: 212 di atas adalah bahwa setan berbentuk manusia atau jin dijauhkan dari ikut campur tangan terhadap Al-Qur’an karena adanya pemeliharaan dari Allah. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak tersentuh oleh kesesatan dan kesalahan, atau campur tangan setan dan manusia.
























