Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 224 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 224 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 376 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَالشُّعَرَاۤءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوٗنَ ۗ

Wasy-syu‘arā'u yattabi‘uhumul-gāwūn(a).

Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 224
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang kafir Quraisy menuduh Nabi Muhammad sebagai seorang penyair. Allah membantah anggapan itu dengan tegas, “Dan penyair-penyair itu yang kamu sekalian terpukau dengan syair-syair mereka, diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidak demikian halnya pengikut Nabi Muhammad yang sangat taat kepada aturan-aturan agama.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa para penyair pada waktu itu sering diikuti orang-orang yang sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus serta cenderung kepada perbuatan yang merusak. Sedangkan pengikut-pengikut Nabi Muhammad bukanlah demikian. Mereka banyak beribadah terutama salat dan selalu bersikap zuhud.

Isi Kandungan Kosakata

1. Asy-Syu’arā’ اَلشُّعَرَاءُ (asy-Syu’arā’/26: 224)

Kata asy-syu’arā’ adalah jamak dari kata syā’ir yang berarti penyair. Kata ini terambil dari kata sya’ura-yasy’uru-syu’ r yang berarti mengetahui secara cermat. Ia bisa juga terambil dari kata sya’run yang berarti rambut. Kata syi’r (syair) secara harfiah berarti pengetahuan yang cermat atau detail. Secara terminologis berarti ucapan yang bersajak dan mengikuti pola tertentu. Seseorang disebut syā’ir (penyair) karena ia mengetahui hal-hal yang detail secara cermat, lalu ia mengungkapkannya kepada orang lain. Kata sya’āir berarti tempat ibadah atau tanda dalam haji dan hewan kurban yang dibawa ke Baitul Haram. Hewan ini disebut demikian karena dihilangkan sebagian rambutnya pada tempat penyembelihannya. Adapun maksud kata syu’arā’ di dalam ayat ini adalah para penyair yang kebanyakan di antara mereka mengumbar kata-kata bohong, dan biasanya perkataan mereka itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

2. Yahīmūn يَهِيْمُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 225)

Kata yahīmūn terbentuk dari kata hāma-yahīmu-haimanah. Ia terambil dari kata al-huyam yang berarti gila. Kata hayyim dan mahyum berarti unta yang terkena penyakit di kepalanya. Kata al-hā’im berarti orang yang linglung. Jadi, kata hāma ar-rajul berarti orang itu pergi tanpa tujuan seperti orang yang linglung. Dalam ayat ini, kata ini dijadikan Allah sebagai perumpamaan tentang kepandaian mereka untuk memuji suatu kaum dengan ucapan yang tidak benar, dan mengecam kaum lain dengan ucapan bohong dan palsu. Ibnu ‘Abbās berkata, “Maksudnya, mereka tenggelam dalam setiap perkara lagwu (sia-sia).”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto