Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 12 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 12 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 367 •  Quarter Hizb 37.5 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ

Qāla rabbi innī akhāfu ay yukażżibūn(i).

Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 12
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah mendengar perintah dari Allah, Nabi Musa berkata, “Ya Tuhanku yang memelihara diriku, aku tahu kezaliman mereka perilaku dan sifat mereka yang sangat buruk. Oleh karena itu, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku ketika aku menyampaikan pesan-pesan-Mu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad menceritakan kepada kaumnya yang kafir cerita Nabi Musa a.s. yang berhadapan dengan Fir‘aun. Kisah ini dimulai ketika Nabi Musa masih di bukit Sinai, dia menerima perintah supaya pergi ke Mesir menyeru Fir‘aun bersama kaumnya yang telah sesat. Mereka adalah kaum yang senantiasa berbuat zalim yang telah lama memperbudak Bani Israil dan berlaku sewenang-wenang terhadap mereka. Nabi Musa diperintahkan menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kaumnya yang demikian congkak dan sombong. Kaum yang menganggap diri mereka keturunan dewa-dewa, sedangkan bangsa lain adalah bangsa yang hina, termasuk bangsa Israil, kaum Musa sendiri.

Fir‘aun mempunyai kerajaan yang kuat serta tentara yang berani dan lengkap persenjataannya. Kepada Fir‘aun dan kaumnya itu, Musa diperintahkan Allah untuk menyeru mereka agar mengubah kepercayaan yang telah mendarah daging menjadi orang yang beriman dan bertakwa dengan meninggalkan segala perbuatan dan kepercayaan yang tidak benar itu. Tentu saja Musa agak merasa cemas dan khawatir akan nasibnya berhadapan dengan kaum yang kasar dan sombong itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Lā Yanṭaliqu Lisānī لاَ يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ (asy-Syu’arā’/26: 13)

Lā yanṭaliqu lisānī bermakna tidak lancar lidahku berbicara. Dipahami oleh para ulama sebagai gangguan pada lidah Nabi Musa sehingga tidak dapat berbicara dengan fasih. Permohonan beliau agar diperlancar lidahnya dapat dikaitkan dengan kemarahan yang beliau khawatirkan muncul akibat penolakan kaumnya terhadap seruan untuk beriman kepada Allah. Sebagaimana dada beliau dapat merasakan sesak akibat kemarahan, maka lidah pun menjadi tidak lancar mengemukakan aneka penjelasan. Kata yanṭaliqu lisānī hanya disebutkan dalam ayat ini.

2. ‘Abbadta Banī Isrā’īl عَبَّدْتَ بَنِي اسْرَائِيْلَ (asy-Syu’arā’/26: 22)

Potongan ayat ini lengkapnya adalah: Wa tilka ni’matun tamunnuhā ‘alayya an ‘abbatta banī isrā’īl(a) (Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani Israil). Dari kata kerja ‘abada, ya’budu, ‘ābidun, menyembah, beribadah kepada; ‘abbada, ista’bada, memperbudak, memperhamba seseorang. Ini adalah kata-kata Nabi Musa yang ditujukan kepada Fir‘aun untuk menyatakan bahwa karena Fir‘aun merasa telah memberi kenikmatan kepadanya, maka ia mau memperbudak saudara-saudaranya Bani Israil. Semasa kecil, Musa memang pernah dipelihara, dibesarkan, dan diangkat sebagai anak dalam istana Fir‘aun (Ṭāhā/20: 39-40). Akan tetapi, Musa bukan orang yang dapat disuap dengan kata-kata bujukan semacam itu. Sebagai nabi, ia sadar betul bahwa nikmat sebagai seorang nabi yang dikaruniakan Allah kepadanya jauh lebih besar dan lebih berharga.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto