فَكَذَّبُوْهُ فَاَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۗاِنَّهٗ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
Fa każżabūhu fa akhażahum ‘ażābu yaumiẓ-ẓullah(ti), innahū kāna ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).
Lalu, mereka mendustakannya (Syu‘aib). Maka, mereka ditimpa azab pada hari yang berawan gelap. Sesungguhnya itu adalah azab hari yang dahsyat.
Kemudian mereka mendustakan apa yang disampaikan Nabi Syuaib, lalu tidak berapa lama, mereka ditimpa azab pada hari yang gelap karena ditutupi awan. Dengan awan ini, mereka menganggap bahwa mereka telah selamat, tapi secara mengejutkan mereka dihujani dengan api yang besar dari langit. Sungguh, azab itulah azab pada hari yang dahsyat. Peristiwa yang memilukan itu semestinya menjadi pelajaran bagi semua pihak.
Karena penduduk Madyan tetap membangkang, Syuaib mengancam dengan menyuruh mereka menunggu azab yang akan didatangkan Allah. Pada waktu yang dijanjikan Allah, datanglah malapetaka yang dahsyat menimpa mereka. Pada hari itu, mereka merasakan terik panas yang sangat menyesakkan napas. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolong mereka dari keadaan yang demikian, apakah berupa naungan rumah, ataupun air yang dapat diminum, dan sebagainya. Oleh karena itu, mereka ke luar ke tanah lapang dan bernaung di bawah segumpal awan yang menyejukkan. Dalam keadaan demikian, turunlah azab Allah berupa sambaran petir yang dahsyat yang ke luar dari gumpalan awan itu, dengan suara yang keras, dan menyebabkan bumi berguncang. Mereka semua mati tersungkur dengan muka tertelungkup ke tanah. Keadaan mereka itu seperti keadaan kaum Nabi Saleh yang ditimpa azab Allah sebelumnya. Adapun Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu.
1. Aṣḥāb al-Aikah أَصْحَابُ اْلأَيْكَةِ (asy-Syu’arā’/26: 176)
Berbicara tentang “Aṣḥāb al-Aikah” tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syuaib dan Madyan. Kata “aikah” umumnya diartikan para mufasir dengan “hutan,” ada pula yang mengartikan “lembah, wadi.” Al-Mu’jam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm mengartikan kata aikah sebagai pohon belukar. Tentu letaknya di Madyan, tempat Nabi Syuaib diutus. Aṣḥābul Aikah ialah suatu masyarakat Nabi Syuaib, tempat tinggal mereka di daerah pepohonan yang lebat. Akan tetapi, arti ini tidak begitu penting. Kedua kata ini di dalam al-Qur’an terdapat dalam al-Ḥijr/15: 78, asy-Syu’arā’/26: 176, Ṡād/38: 13 dan Qāf/50: 14.
Dalam Surah al-Ḥijr/15: 78, mereka dilukiskan sebagai orang-orang zalim atau durjana. Ayat yang agak terinci mengenai ini terdapat dalam asy-Syu’arā’/26: 176-191. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa para penghuni hutan itu telah mendustakan nabi-nabi mereka, termasuk Nabi Syuaib, yang memperkenalkan diri kepada mereka tanpa mengharapkan imbalan, mengajak bertakwa kepada Allah dan mau menaatinya. Mereka adalah masyarakat pedagang yang suka menipu. Syuaib mengingatkan mereka agar jangan bertindak merugikan orang lain, mengecoh dalam berdagang, memalsukan dagangan dan mempermainkan timbangan dan sukatan. Akan tetapi, mereka berbalik menuduh Syuaib sudah kena sihir, pendusta, dan dia tidak berbeda dengan mereka, manusia biasa. Dia ditantang agar membuktikan kenabiannya dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit, seperti halnya dengan Nabi Muhammad yang menghadapi tantangan Quraisy (al-Isrā’/17: 92). Para penghuni hutan itu kemudian mengalami bencana yang membinasakan mereka. (Lihat juga Kosakata “Syuaib” dan “Madyan”)
2. Al-Jibillah al-Awwalīn الْجِبِلَّة الْأَوَّلِيْن (asy-Syu’arā’/26: 184)
Al-Jibillah al-awwalīn artinya umat terdahulu. Akar katanya (jim-ba’-lam) arti dasarnya adalah berkumpulnya sesuatu dan meninggi. Dari sini muncul kata “jabal” artinya gunung. Jika kita mendengar kata gunung maka yang terbenak dalam hati kita ialah sesuatu yang besar, tinggi, kekar. Al-Jabal atau jibill juga diartikan dengan kelompok manusia yang banyak (Lihat Surah Yāsīn/36: 62). Al-Jabal diartikan juga dengan karakter atau sifat yang ada pada seseorang yang sulit untuk diubah sebagaimana sulitnya mengalihkan gunung. Jika dikatakan: Fulan Jabal artinya si Fulan mempunyai pendirian yang kokoh bagaikan gunung.
Ayat ini menjelaskan tentang perintah Nabi Syuaib kepada kaumnya agar mereka bertakwa kepada Allah yang menciptakan mereka dan Yang menciptakan kaum sebelum mereka. Dengan melihat arti dasar dari kata ini bisa dibayangkan bahwa kaum sebelum mereka terdiri dari umat yang banyak dengan perawakan mereka yang besar dan kekar. Mereka mempunyai watak dan karakter yang sulit untuk diubah.
3. Aẓ-Żullah الظُّلَّة (asy-Syu’arā’/26: 189)
Kata aẓ-ẓullah jamaknya ẓulal-ẓilal berarti awan, dari fi’il ẓalla-yaẓallu-ẓalālat an, yang berarti teduh, redup, mendung, berawan. Siksa hari berawan yang disebut dalam ayat 189 Surah asy-Syu’arā’ di atas adalah siksa yang bersumber dari awan berupa guntur dan kilat yang sahut-menyahut, sehingga memorak-porandakan bangunan dan membinasakan orang-orang kafir.






























