Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 192 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 192 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 375 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa innahū latanzīlu rabbil-‘ālamīn(a).

Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 192
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sungguh Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan pemilik dan pemelihara seluruh alam, Tuhan yang sangat menyayangi makhluk-Nya. Al-Qur’an tidak berasal dari selain Allah, sebagaimana yang dituduhkan kaum musyrik, itu bukan untuk mencelakakan mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat-ayat ini diterangkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad adalah kitab suci yang berasal dari Tuhan semesta alam. Diturunkan kepada Muhammad secara berangsur-angsur dengan perantaraan Jibril, malaikat yang bertugas membawa wahyu kepada para rasul. Al-Qur’an itu ditanamkan ke dalam hati Muhammad, maksudnya ialah Al-Qur’an itu dibacakan oleh Jibril sedemikian rupa sehingga Nabi Muhammad memahami betul arti dan maksudnya. Dengan pemahaman dan pengertian yang demikian, maka Nabi Muhammad mudah menyampaikan kepada umatnya dan umatnya mudah pula menerimanya.

Sebagai contoh, ketika Surah al-An‘ām yang ayatnya berjumlah 165 ayat dan Surah Yūsuf sebanyak 111 ayat diturunkan sekaligus, Rasulullah langsung menerima dan menghafalnya. Ini bukti bahwa Al-Qur’an telah dihunjamkan ke hati Rasul oleh malaikat dengan lisannya.

Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas dan fasih serta gaya bahasa yang indah. Di dalamnya terdapat pula ayat-ayat yang menantang orang-orang musyrik Mekah agar membuat ayat-ayat yang lain seperti ayat-ayat Al-Qur’an itu, kalau mereka tidak percaya bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Allah dan hanyalah buatan Muhammad sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu menandinginya, walaupun dengan membuat satu surah pun yang sefasih dan seindah gaya bahasa Al-Qur’an. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi orang-orang musyrik Mekah itu untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu hanyalah buatan Muhammad semata. Tegasnya, kendati Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab, yakni bahasa mereka sendiri, tetapi mereka tidak mampu menandingi ayat-ayatnya. Kalau Muhammad dapat membuat Al-Qur’an, tentu menurut logikanya, mereka juga dapat membuatnya, karena sama-sama bangsa Arab dan sama-sama berbahasa Arab.

Mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an itu, mengetahui keindahan gaya bahasanya, dan meyakini bahwa Al-Qur’an itu bukan bersumber dari manusia. Mereka mengetahui betul sampai di mana batas kemampuan manusia, namun mereka tetap tidak mau beriman kepadanya karena sifat takabur dan keingkaran yang berurat dan berakar pada diri mereka.

Isi Kandungan Kosakata

1. Bilisān ‘Arabiy Mubīn بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُبِيْنٍ (asy-Syu’arā’/26: 195)

Kata lisān diambil dari fi’il lasina-yalsanu-lasanan berarti fasih lidahnya. Jamaknya adalah alsinah berarti lidah, bahasa. Kata ‘araby berarti bangsa Arab yang sebenarnya, diambil dari fi’il aruba-ya’rubu-’arabatan- ’uruban-’araban yang berarti berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Lisān al-’arab artinya bahasa Arab. Kata lisan yang diiringi oleh kata sifat ‘arabiy sehingga menjadi lisān ‘arabiy mengandung pengertian khusus, yaitu bahasa Al-Qur’an. Pengertian ini dapat ditemukan antara lain dalam Surah an-Naḥl/16:103, asy-Syu’arā’/26:195 dan al-Aḥqāf/46:12. Jadi pengertian bi lisān ‘arabiyyin mubīn adalah dengan bahasa Arab yang jelas, atau dengan bahasa Al-Qur’an yang jelas.

2. ‘Ulamā’ عُلَمٰؤُا (asy-Syu’arā’/26: 197)

Kata ‘ulamā’ adalah bentuk jamak dari kata ‘alīm yang terambil dari akar kata yang berarti mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim, selalu menunjuk kepada kejelasan, seperti ‘alam/bendera, ‘alam/alam raya atau makhluk yang memiliki rasa atau kecerdasan, alamah/alamat.

Banyak pakar agama seperti Ibnu ‘Āsyūr dan aṭ-Ṭabāṭabā’ī memahami kata ‘ulamā’ dalam arti yang mendalami ilmu agama. Aṭ-Ṭabāṭabā’ī menulis bahwa mereka itu adalah yang mengenal Allah dengan nama, sifat, dan perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tenang, keraguan dan kegelisahan menjadi sirna, dan tampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan mereka. Ṭāhir bin ‘Āsyūr menulis bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat.

Sayyid Quṭb mengatakan, “Ulama adalah mereka yang memperhatikan kitab yang menakjubkan itu (Al-Qur’an). Oleh karena itu, mereka mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya. Mereka mengenal-Nya melalui hasil ciptaan-Nya, mereka menjangkau-Nya melalui dampak kuasa-Nya, serta merasakan hakikat kebesaran-Nya dengan melihat hakikat kepada-Nya serta bertakwa sebenar-sebenarnya.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto