فَاَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ اِنَّا لَنَحْنُ الْغٰلِبُوْنَ
Fa alqau ḥibālahum wa ‘iṣiyyahum wa qālū bi‘izzati fir‘auna innā lanaḥnul-gālibūn(a).
Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, “Demi kekuasaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang benar-benar sebagai pemenang.”
Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata dan bersumpah dengan penuh keyakinan, “Demi kekuasaan Fir’aun, pasti kamilah yang akan menang.” Tongkat dan tali temali yang dilemparkan para penyihir itu terlihat oleh pengunjung seperti ular-ular yang berkeliaran ke sana ke mari yang menakutkan. Inilah puncak prestasi sihir mereka. Melihat gelagat ini, Nabi Musa merasa takut, tapi Allah menentramkannya, “Wahai Musa, jangan takut, kamu pasti menang.” Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya.
Ayat ini menggambarkan suasana adu kekuatan antara para pesihir Fir‘aun dengan mukjizat Nabi Musa. Musa menawarkan kepada para pesihir itu untuk memulai sihirnya, yang mereka yakini bisa menggugurkan pengakuan Musa sebagai seorang rasul Allah. Para pesihir Fir‘aun segera melemparkan tali-tali yang mereka siapkan seraya menyebut nama Fir‘aun, dan mereka merasa yakin akan menang. Dengan kecepatan gerak tangan dan ilmu sihir mereka, tali-tali itu seolah-olah bergerak, mengecoh orang-orang yang menyaksikannya, sehingga mereka menyangka tali-tali itu berubah menjadi ular sesungguhnya, yang merayap ke sana kemari. Hal ini digambarkan dalam firman Allah:
فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى
Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka. (Ṭāhā/20: 66)
Dengan sihirnya, para pesihir itu telah menakut-nakuti dan mengelabui mata orang banyak. Mereka mengeluarkan segenap kemampuan yang ada pada mereka, dan menganggap telah cukup untuk memperoleh kemenangan dalam adu kekuatan itu.
Talqafu mā Ya’fikūn تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 45)
Talqafu terambil dari kata al-laqf yang berarti mengambil dengan cepat atau menelan. Adapun al-ifk adalah memalingkan sesuatu yang diyakini benar kepada yang batil, dari omongan yang benar kepada kebohongan, dan dari sesuatu yang baik kepada yang jelek. Ayat ini menjelaskan bagaimana tongkat Nabi Musa yang dengan seizin Allah berubah menjadi ular dan menelan ular-ular para tukang sihir Fir‘aun yang mereka sangka ular-ular sungguhan. Padahal, semua itu hanya tali-tali yang berubah dalam pandangan mereka akibat pengaruh sihir sehingga seolah-olah menjadi ular sungguhan. Kata ini disebutkan dua kali pada surah ini dan pada Surah al-A‘rāf/7: 117.































