Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 12 - Surat At-taḥrīm (Pengharaman)
التّحريم
Ayat 12 / 12 •  Surat 66 / 114 •  Halaman 561 •  Quarter Hizb 56.75 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ ࣖ ۔

Wa maryamabnata ‘imrānal-latī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhi mir rūḥinā wa ṣaddaqat bikalimāti rabbihā wa kutubihī wa kānat minal-qānitīn(a).

Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat.

Makna Surat At-tahrim Ayat 12
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat ini menjelaskan kesalehan seorang perempuan yang tak pernah bersuami, tetapi memiliki seorang putra. Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Allah memberikan penghargaan, penghomatan, dan kemuliaan kepadanya, maka Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh ciptaan Kami sehingga ia hamil dan melahirkan bayi tanpa bapak; dan dia, Maryam putri Imran, membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya yang menjelaskan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan kitab-kitab-Nya, yaitu Kitab Taurat dan Zabur; dan dia termasuk orang-orang yang taat kepada Allah dengan rukuk dan sujud dan menjaga kehormatan dirinya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah sekali lagi membuat perumpamaan bagi orang-orang mukmin yaitu keadaan Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya dan telah diberikan karamah di dunia dan akhirat. Ia dipilih Tuhannya karena bereaksi kepada Jibril tentang pengisian rahimnya dengan ucapan sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an:

قَالَتْ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ اِنْ كُنْتَ تَقِيًّا ١٨

Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” (Maryam/19: 18).

Dengan demikian, kesalehannya menjadi mantap dan sempurna kesuciannya, maka ditiupkanlah ke dalam rahimnya oleh Jibril sebagian roh ciptaan Allah, yang mewujudkan seorang nabi yaitu Isa bin Maryam binti Imran, membenarkan syariat Allah dan kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada nabi-Nya. Dia termasuk dan terbilang orang yang bertakwa, tekun beribadah, merendahkan diri, dan taat kepada Tuhan-Nya.

Aḥmad meriwayatkan dalam Musnadnya bahwa penghulu wanita penghuni surga ialah Maryam lalu Fatimah menyusul Khadijah dan Āsiyah.

Di dalam kitab Ṡaḥīḥ diterangkan bahwa laki-laki yang sempurna banyak bilangannya, tetapi perempuan yang sempurna hanya empat yaitu Āsiyah binti Muzāhim (istri Fir‘aun), Maryam binti ‘Imrān, Khadījah binti Khuwailid, dan Fāṭimah binti Muhammad. Sedangkan kelebihan Siti ‘Āisyah atas wanita-wanita yang lain seperti kelebihan ṡarid atas makanan-makanan yang lain.

Isi Kandungan Kosakata

1. Imra’ata Nūḥ اِمْرَأَتَ نُوْحٍ (at-Taḥrīm/66: 10)

Imra'ata Nūḥ artinya istri Nabi Nuh. Tidak terdapat keterangan yang rinci tentang hal ini, selain berupa isyarat sedikit, sekalipun kisah tentang Nabi Nuh sudah disebutkan lebih terinci dalam Surah Hūd/11 dan Nūh/71, dan di sana sini dalam beberapa ayat yang lain. Beberapa mufasir mengatakan, istri Nabi Nuh itu bernama Wāgilah atau Wā'ilah, tanpa ada yang menyebutkan sumbernya. Tetapi tidak semua tafsir Al-Qur’an menyebutkan namanya. Ia adalah istri orang yang saleh, istri nabi, yang seharusnya juga istri dan perempuan teladan ketakwaan dan kesalehan. Tetapi sebaliknya, ia malah berkhianat, khianat dalam arti rohani dengan bersikap munafik; berpihak kepada musuh-musuh suaminya, kaum kafir penyembah berhala, dan tidak peduli pada ajakan suaminya agar hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan istri Nuh mengatakan kepada kaumnya bahwa suaminya sudah gila.

Nuh memang dianggap demikian oleh kaumnya. Mereka tidak percaya Nuh adalah utusan Allah karena dia sama dengan mereka, manusia biasa. Kalau Tuhan menghendaki, tentu yang diutus malaikat. Akibat dari sikap dan perbuatan mereka itu, Tuhan mendatangkan banjir sehingga mereka binasa tertelan air banjir.

Dalam Surah Hūd/11: 40 dan al-Mu'minūn/23: 27 ada kata tannūr yang kemudian menimbulkan berbagai macam penafsiran di kalangan para mufasir. Sampai ada di antara mereka, sadar atau tidak, yang terpengaruh oleh cerita-cerita Perjanjian Lama. Seperti dikutip oleh beberapa mufasir, Ibnu ‘Abbās mengatakan tannūr berarti permukaan bumi, yakni bumi yang menjadi mata air dan air menyembur keras ke permukaan. Firman Allah:

وَّفَجَّرْ نَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ ۚ ١٢

Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. (al-Qamar/54: 12)

Berbagai pendapat datang pula dari para tabiin, seperti dikutip oleh Ibnu Kaṡīr. Menurut Mu‘jam Alfāẓul-Qur'ānil-Karīm, ungkapan wa fārat-tannūr berarti bumi yang menyemburkan air.

Dalam keluarga Nuh sendiri ada orang yang jahat. Putranya yang tidak patuh kendati Nabi Nuh sudah berusaha menyelamatkannya dan mendoakan salah seorang “anggota keluarganya,” tetapi Allah berfirman bahwa dia tidak termasuk anggota keluarganya, karena perbuatannya tidak baik (Hūd/11: 42-46). Nuh merasa telah melampaui batas dalam tugasnya, ia hendak membela anak istrinya. Akan tetapi, Allah menegurnya sebagai orang yang tidak tahu persoalan yang akan dibelanya.

Beberapa pelajaran dapat ditarik dari kisah ini. Nabi Nuh orang yang berhati lembut, seperti semua nabi. Betapa ikhlas dia mengajak kaumnya termasuk istri dan salah seorang anaknya, tetapi mereka, termasuk anggota keluarganya yang sudah tidak beriman itu, menolak begitu saja seruan suami dan bapak itu. Nabi Nuh sudah cukup berusaha mengajak mereka semua dengan cara yang lemah lembut. Namun apa hendak dikata, tak ada jalan lain bagi orang beriman selain mengadukan halnya kepada Allah, “Tuhanku! Aku sudah mengajak kaumku siang dan malam. Tetapi ajakanku hanya membuat mereka bertambah jauh (dari kebenaran).” Allah menegur Nuh agar tidak berkompromi dengan kejahatan (Hūd/11: 46) Namun istri Nabi Nuh memang orang jahat, perempuan tak beriman, hatinya sudah tertutup dari cahaya iman. Nuh menyadari dan meminta ampun dan rahmat Tuhan (Hūd/11: 46-47). Melihat watak dan tingkah laku ibunya yang sudah nista, mungkin saja anaknya terpengaruh oleh sikap dan perangai sang ibu. Mereka termasuk golongan orang celaka di dunia dan di akhirat.

Tentang istri Nuh dalam Bibel terdapat dalam Kejadian 6: 18, “Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu.” Kejadian 7: 13, “Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, dan ketiga istri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu.” Di bagian lain disebutkan, “Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: ‘Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan istrimu serta anak-anakmu dan istri anak-anakmu,’ lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan istrinya dan istri anak-anaknya” (Kejadian 8: 15-18)

Berbeda dengan kisah dalam Al-Qur’an, dalam Bibel istri Nuh dan ketiga anaknya ikut dalam kapal dan mendarat dengan selamat. Kita merasa tidak melihat ada pelajaran yang perlu dibicarakan dalam cerita ini.

2. Imr’ata Lūṭ اِمْرَأَتَ لُوْطٍ (at-Taḥrīm/66: 10)

Imra'ata Lūṭ artinya istri Nabi Lut. Juga tidak terdapat keterangan yang memadai tentang istri Nabi Lut kecuali sepintas lalu dalam beberapa ayat di sana sini, kendati suaminya sebagai nabi yang saleh disebutkan lebih terinci dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Lut terdapat dalam Surah al-A‘rāf/7: 80-84, Hū d/11: 77-83, dan beberapa surah lain di sana sini. “Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya, “Kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu.” (al-‘Ankabū t/29: 28). Lihat juga al-A‘rāf/7: 80.

Khusus mengenai istrinya selain dalam ayat di atas (at-Taḥrīm/66: 10), terdapat juga di bagian Surah Hūd/11: 81. Dalam Surah A‘rāf/7: 83 disebutkan, “Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal.” Dan dalam Surah Hūd/11: 81 dengan sedikit perbedaan ungkapan, “Dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka.”

Lut (dalam Bibel Lot) menurut cerita Bibel, “Istri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.” (Kejadian 19: 26). Al-Qur’an tidak menyebutkan nama kota terjadinya peristiwa itu. Menurut Perjanjian Lama “kota-kota maksiat” itu adalah Sodom dan Gomorah, yang mungkin meliputi perairan dangkal selatan al-Lisan, sebuah semenanjung di dekat ujung selatan Laut Mati di Israel sekarang.

Dimulai ketika Tuhan mengutus para malaikat kepada Lut. Mereka datang dalam bentuk manusia. Kaum Lut yang sudah biasa melakukan perbuatan keji berdatangan ke rumah Lut, mau menyongsong tamu-tamu yang baru datang. Mereka mengira para tamu itu laki-laki biasa. Lut menawarkan putri-putrinya yang lebih suci kepada mereka jika mereka mau mengawini, dengan permintaan jangan mengganggu tamu-tamunya. Tetapi kata mereka, “Engkau sudah tahu aku tidak memerlukan putri-putrimu. Sungguh engkau sudah tahu apa yang kami inginkan!” Tampaknya Lut merasa sedih sekali, dan sampai pada waktu itu ia tak berdaya menghadapi kaumnya yang memang sudah tak bermoral itu. Tamu-tamu itu para malaikat sebagai utusan Tuhan, dan atas perintah-Nya Lut dan keluarganya diminta meninggalkan tempat itu pada akhir malam, dan jangan ada yang menengok ke belakang. Tetapi istrinya melanggar perintah itu dan menengok ke belakang, dan dia akan mengalami nasib seperti yang menimpa kaumnya. Setelah tiba keputusan Tuhan, kota itu pun dijungkirbalikkan disertai hujan batu belerang. Mereka binasa sebagai akibat kejahatan yang mereka lakukan. (Hūd/11: 77-83).

Seperti dikatakan oleh Ibnu Kaṡīr (Tafsīr al-Qur'ān al-‘Aẓīm, dan beberapa kitab tafsir lain), Lut anak Haran dan Azar, yakni kemenakan Nabi Ibrahim, dan bersama-sama mereka pindah ke Syam. Setelah itu Allah mengutusnya kepada penduduk Sodom dan kota-kota sekitarnya, mengajak mereka beribadah kepada Allah, berbuat baik, dan melarang mereka melakukan kejahatan, berbagai macam perbuatan keji, serta melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis. Di bagian-bagian ini hampir senada kendati sedikit berbeda dengan cerita Bibel (Kejadian 11: 27-32).

Dalam keadaan Lut seorang diri semacam itu, menghadapi jelata beringas yang sama sekali sudah tak bermoral, dan istrinya yang berkhianat dengan berpihak kepada kaum kafir, pertolongan Allah datang tak disangka-sangka. Para tamu yang datang di luar dugaan, yang semula dikira tamu biasa itu, ternyata mereka para malaikat utusan Tuhan, menyuruh dia dan keluarganya keluar sebelum waktu subuh, sebelum kota-kota maksiat yang celaka itu hancur dijungkirbalikkan.

3. Imra ata Fir‘aun اِمْرَأَتَ فِرْعَوْنَ (at-Taḥrīm/66: 11)

Imra'ata Fir‘aun (istri Fir‘aun) dalam beberapa tafsir Al-Qur’an sering disebut bernama Āsiyah (Ibnu Kaṡīr, Abū as-Su‘ud, az-Zamakhsyarī, dan yang lain). Di dalam Al-Qur’an namanya tidak disebutkan, hanya dengan sebutan imra’ata Fir‘aun sebagai identitas, yang terdapat dalam Surah al-Qaṣaṣ/28: 9 dan dalam at-Taḥrīm/66: 11. Nama Āsiyah ini terdapat antara lain dalam hadis al-Bukhārī. Āsiyah juga disebut sebagai salah seorang dari empat “perempuan termulia penghuni surga; Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam putri Imran dan Āsiyah binti Muzāhim istri Fir‘aun.” Āsiyah yang rendah hati dan hidup saleh, yang bertahan dengan keimanannya di tengah-tengah lingkungan Fir‘aun yang mendakwakan diri sebagai Tuhan, sombong dan zalim. Hal ini benar-benar merupakan teladan keluhuran rohani yang luar biasa. Ada dugaan Fir‘aun ini ialah Thothmes I, ketika Musa sang bayi diselamatkan oleh anggota keluarganya dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak.” (al-Qaṣaṣ/28: 9).

Dalam cerita Bibel, saat putri Fir‘aun akan mandi di sungai Nil, dilihatnya peti. Ketika dibuka, dilihatnya ada bayi yang kemudian dia minta agar disusukan oleh seorang perempuan atas usul kakak anak itu, yang menunjuk seorang perempuan yang tak lain adalah ibu Musa sendiri. Sesudah bayi itu besar, dibawanya kepada putri Fir‘aun dan ia diberi nama Musa. (Keluaran 5-10).

Di dalam beberapa tafsir Al-Qur’an disebutkan “dia seorang perempuan Israil” dan “percaya kepada ajaran Musa.” Fir‘aun mengeluarkan perintah agar istrinya itu dibunuh, dilengkapi dengan berbagai cerita panjang sekitar peranannya dalam istana Fir‘aun. Semua cerita berjalan tanpa sumber yang jelas. Cerita semacam ini pula yang dikutip oleh Dā’irah al-Ma‘ārif al-Islāmiyah (edisi bahasa Arab, dari Encyclopaedia of Islam, yang disusun oleh kalangan Orientalis), yang bersumber dari beberapa tafsir, seperti aṭ-Ṭabarī, Ibnu Asīr dan Qaṣaṣul-Anbiyā’ oleh Ṡa‘labī. A.J. Wensinck yang menulis artikel ini mengatakan bahwa karena keyakinannya itu, Āsiyah mengalami berbagai macam penderitaan di tangan Fir‘aun, dan dia seorang perempuan Israil. Akhirnya Fir‘aun memerintahkan agar dia diletakkan di atas sebuah batu. Dia berdoa kepada Tuhan, maka ketika itu rohnya dicabut, dan yang jatuh di atas batu itu hanya badannya. Diceritakan juga adanya perintah dari Fir‘aun agar ia dibunuh di tonggak-tonggak dengan jalan disiksa sampai mati. Tetapi Musa berdoa kepada Tuhan, agar siksaan itu diringankan. Setelah itu azab tidak terasa sakit.

Dalam Surah at-Taḥrīm/66: 11 di atas, istri Fir‘aun berdoa, “Tuhanku! Buatkanlah untukku di dekat-Mu sebuah rumah di taman surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim!” Doa ini yang dikatakan di dalam tafsir Abdullah Yusuf Ali, bahwa wawasan rohaninya terarah kepada Tuhan, bukan kepada kemegahan duniawi istana Fir‘aun. Doanya itu barangkali mengandung suatu keinginan untuk mati syahid, dan mungkin ia telah mencapai mahkota mati syahidnya itu.

Banyak tokoh lain yang di dalam Al-Qur’an hanya disebut identitasnya tanpa menyebut nama pribadi, seperti imra'atul-‘azīz (Yūsuf/12: 30), yang secara tradisional lalu diberi nama “Zulaikha,” “imra'at tamlikuhum” (an-Naml/27: 23), yaitu Ratu Saba' yang dalam tradisi Arab disebut bernama “Balqis,” atau “syaikhun kabīr” (al-Qaṣaṣ/28: 23) biasa diberi nama “Syuaib,” dan sekian lagi yang hanya disebut identitasnya, dalam beberapa tafsir diberi nama pribadi. Tentu nama-nama yang tak dikuatkan oleh hadis Nabi atau referensi lain yang otentik dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal seperti ini orang perlu lebih berhati-hati.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto