وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).
Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.
Kami turunkan wahyu melalui Jibril kepada Nabi Muhammad, temanmu yang kamu kenal baik sifatnya. Dan temanmu itu bukanlah orang gila seperti tuduhanmu kepadanya. Dia adalah seorang yang santun, tepercaya, dan berakhlak mulia. Perkataan orang gila bersifat racauan, tidak beraturan, dan tidak mempunyai nilai. Berbeda dari AlQuran, kitab yang susunan kalimat maupun kandungannya mempunyai nilai sangat tinggi.
Dalam ayat ini, Allah menyifati Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Muhammad itu bukanlah orang gila, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Mekah.
Kalimat “ṣāḥibukum” (temanmu) dalam ayat ini merupakan alasan untuk menerangkan kedustaan mereka. Sebab, setiap orang akan mengenal tabiat temannya yang sehari-hari bergaul dengannya. Orang-orang Quraisy itu selalu bergaul dengan Nabi Muhammad semenjak beliau masih kecil dan mengetahui kejujuran beliau. Oleh karena itu, mereka memberikan julukan kehormatan kepadanya dengan kata-kata “al-Amīn” sebelum beliau menjadi nabi.
Beliau tidak pernah berdusta, menyalahi janji, atau berkhianat, sehingga apa-apa yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad itu tentang sifat gila, tukang sihir, atau pendusta adalah bohong semata.
1. Al-Khunnas الْخُنَّسِ (at-Takwīr/81: 15)
Al-Khunnas artinya bintang-bintang yang bercahaya. Pada siang hari, bintang-bintang itu memang tidak kelihatan, tetapi pada malam hari tampak jelas menerangi dan menghiasi langit yang luas. Pada ayat 15, Allah bersumpah dengan bintang-bintang di langit yang bersinar terang. Dalam ‘ilmu ma‘āni sebagai bagian dari ‘ilmu balāgah untuk menghadapi orang-orang atau mukhāṭab yang tidak percaya, perlu menggunakan kalimat yang mengandung taukid lebih dari satu, dan kalimat sumpah adalah taukid yang kuat. Jadi, karena orang-orang kafir Mekah tidak percaya pada adanya hari kebangkitan, Allah sering menggunakan bentuk qasam atau sumpah untuk meyakinkan mereka. Pada ayat 15 ini, Allah berfirman dalam bentuk sumpah dengan bintang-bintang, karena bintang-bintang sangat dikagumi oleh manusia terutama para kafilah di padang pasir. Di samping memberi penerangan perjalanan di padang pasir maupun di tengah lautan, bintang-bintang juga memberi petunjuk tentang waktu, arah yang harus dituju, maupun peredaran musim dan sebagainya.
2. Al-Kunnas اَلْكُنَّسِ (at-Takwīr/81: 16)
Secara kebahasaan kata al-kunnas adalah bentuk jamak dari al-kānisah yang berarti bintang atau bintang yang berjalan. Dalam konteks ayat ini, al-kunnas menjadi sifat bagi bintang. Di sini Allah bersumpah demi bintang-bintang yang beredar atau berjalan.
3. ‘As‘asa عَسْعَسَ (at-Takwīr/81: 17)
Secara kebahasaan kata ‘as‘asa merupakan bentuk kata kerja (fi‘il māḍī) yang berarti malam yang mulai gelap. Dalam konteks ayat ini, Allah bersumpah demi malam yang mulai gelap.
4. Bi Ḍanīn بِضَنِيْنٍ (at-Takwīr/81: 24)
Secara kebahasaan kata bi ḍanīn terdiri dari dua suku kata, yaitu kata bi merupakan zā’idah (tambahan) yang, menurut sebagian mufasir, berfungsi sebagai penegasan, dan kata ḍanīn yang berarti orang yang kikir atau bakhil. Dengan demikian, kata bi ḍanīn di sini bermakna Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang enggan (bakhil) untuk menerangkan yang gaib, yaitu bertemu Malaikat Jibril dan menerima wahyu darinya.












































