يَّوْمَ تَمُوْرُ السَّمَاۤءُ مَوْرًاۙ
Yauma tamūrus-samā'u maurā(n).
(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya
Siksa bagi para pengingkar itu akan datang pada hari ketika langit berguncang dan bergerak naik turun
Allah menerangkan bahwa azab tersebut tak seorang pun yang dapat menolaknya. Dan tidak pula ada jalan untuk keluar dari azab itu yang merupakan balasan bagi orang-orang yang telah menodai dirinya dengan perbuatan syirik dan dosa, dan yang telah menodai jiwanya dengan dusta terhadap para rasul dan hari kebangkitan.
Kemudian diterangkan pula dalam ayat ini bahwa azab yang tidak dapat dihindarkan itu terjadi pada suatu hari tatkala langit berguncang di tempatnya.
1. Aṭ-Ṭūr اَلطُّوْر (aṭ-Ṭūr/52: 1)
Arti kata aṭ-ṭūr sangat beragam di antaranya, sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab. Kata aṭ-ṭūr dari kata bahasa Suryani, yang berarti “gunung,” atau memang nama sebuah gunung di Syam. Dalam ayat ini berarti “gunung” secara umum, dengan catatan semua gunung yang ada tumbuhannya, dan secara tidak langsung berarti khusus Gunung Sinai di Madyan (sekarang negara Mesir) tempat Nabi Musa menerima wahyu yang sangat menentukan. Dalam pembukaan surah ini dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam surah at-Tīn, yang sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah, tin, zaitun, Gunung Sinai dan kota Makkah. Dalam surah aṭ-Ṭūr hanya disebut satu nama, sebagai isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.
2. Al-Baitul-Ma‘mūr الْبَيْتُ الْمَعْمُوْرُ (aṭ-Ṭūr/52: 4)
Al-Baitul-ma‘mūr, yang secara harfiah berarti rumah atau tempat ibadah yang ramai dikunjungi orang. Ayat ini dapat ditafsirkan, bahwa rumah ibadah yang dimaksud biasanya Ka‘bah yang banyak dikunjungi Muslimin setiap hari dalam melaksanakan salat dan umrah, terutama pada musim haji. Atau mungkin juga rumah ibadah lain secara umum yang digunakan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, rumah (kemah) ibadah orang Yahudi (tabernakel) di daerah gurun, tempat ibadah Nabi Sulaiman (Haikal Sulaiman), rumah tempat Nabi Isa beribadah. Umumnya para ulama mengaitkan ayat ini dengan Ka‘bah setelah dibersihkan oleh Nabi Muhammad dari segala macam berhala seperti disebutkan di atas. Menurut beberapa mufasir juga bermakna, “jantung manusia, tempat segala hasrat dan keinginan yang membara untuk menemukan dan menyembah Allah.”












































