Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 21 - Surat Aṭ-Ṭūr (Gunung)
الطّور
Ayat 21 / 49 •  Surat 52 / 114 •  Halaman 524 •  Quarter Hizb 53 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۗ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Wal-lażīna āmanū wattaba‘athum żurriyyatuhum bi'īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min ‘amalihim min syai'(in), kullumri'im bimā kasaba rahīn(un).

Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Makna Surat At-Tur Ayat 21
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Di surga Allah akan mempertemukan orang tua dengan keturunannya yang seiman. Dan orang-orang yang beriman dan mendapat balasan surga, beserta anak cucu mereka atau ibu bapak mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, walaupun derajat keimanannya tidak serupa, akan Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga sebagai anugerah atas ketakwaan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan yang telah mereka perbuat di dunia. Setiap orang terikat dan akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya, dan dia tidak akan dihukum karena dosa orang lain.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang beriman yang diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan, akan dipertemukan Allah dalam satu tingkatan dan kedudukan yang sama sebagai karunia Allah kepada mereka meskipun para keturunan itu ternyata belum mencapai derajat tersebut dalam amal mereka. Sehingga orang tua mereka menjadi senang, maka sempurnalah kegembiraan mereka karena dapat berkumpul semua bersama-sama.

Ketika membaca ayat 21 ini Ibnu ‘Abbās berkata, bahwa keturunan anak cucu orang-orang beriman akan ditingkatkan oleh Allah swt derajatnya bila ternyata tingkatan mereka lebih rendah dari derajat orang tua mereka.

Kemudian Allah swt memberikan gambaran tentang situasi surga penuh kenikmatan seperti tersedianya makanan mereka di dalam surga. Setiap buah-buahan atau makanan yang mereka inginkan pasti mereka peroleh sesuai dengan selera mereka.

Kemudian digambarkan bagaimana mereka hidup senang di sana. Mereka saling berebutan minum, minum tetap dalam kesopanan, berbicara tentang hal lucu, di sana mereka dilayani oleh pelayan-pelayan yang sangat ramah dan cantik. Mereka juga membicarakan hal ihwal mereka di dunia dahulu sebelum mereka berada di dalam kesenangan dan kemewahan surgawi.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

اِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ سَأَلَ عَنْ أَبَوَيْهِ وَزَوْجَتِهِ وَوَلَدِهِ. فَيُقَالُ لَهُ إِنَّهُمْ لَمْ يَبْلُغُوْا دَرَجَتَكَ وَعَمَلَكَ. فَيَقُوْلُ رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ لِي وَلَهُمْ فَيُؤْمَرُ بِإِلْحَاقِهِم ْ بِهِ. (رواه ابن مردويه والطبراني عن ابن عباس)

Apabila seseorang memasuki surga, ia menanyakan kedua orang tuanya, istrinya, dan anaknya, maka dikatakan kepadanya: “Mereka belum sampai pada derajat dan amalanmu.” Maka ia berkata: “Ya Tuhanku, aku telah beramal untukku dan untuk mereka”. Maka (permohonannya dikabulkan Tuhan) disuruhlah mereka (orang tua, istri, anak) untuk bergabung dengan dia.” (Riwayat Ibnu Mardawaih dan aṭ-Ṭabrānī dari Ibnu ‘Abbās)

Ini merupakan karunia Allah swt terhadap anak cucu yang beriman dan berkat amal bapak-bapak mereka sebab bapak pun memperoleh karunia Allah swt dengan berkat anak cucu mereka sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:

اِنَّ اللّٰهَ لَيَرْفَعُ الْعَبْدَ الدَّرَجَةَ فَيَقُوْلُ رَبِّ أَنَّى لِيْ هٰذِهِ الدَّرَجَةُ فَيَقُوْلُ بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لَكَ. (رواه أحمد والبيهقي عن أبي هريرة)

Sesungguhnya Allah swt niscaya mengangkat derajat seorang hamba, lalu ia bertanya, “Ya Tuhanku, bagaimana aku memperoleh derajat ini?” Allah menjawab, “Kamu memperolehnya sebab doa anakmu.” (Riwayat Aḥmad dan al-Baihaqi dari Abū Hurairah)

Hadis ini sejalan dengan hadis Nabi sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ إِذَا مَاتَ ابْنُ ﺁدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ. (رواه مسلم عن أبي هريرة)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Apabila meninggal seorang anak Adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: amal jariah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang saleh yang mendoakannya.” (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

Kemudian pada ayat ini Allah menjelaskan lagi, bahwa pahala amal saleh para bapak yang saleh tidak dikurangi, meskipun kedudukan anak dan isteri mereka yang beriman diangkat derajat mereka menjadi sama dengan suami/bapak mereka sebagai karunia Allah swt. Pada akhir ayat ini Allah menegaskan, bahwa setiap orang memang hanya bertanggungjawab terhadap amal dan perbuatan masing-masing. Perbuatan dosa istri atau anak tidak menjadi tanggung jawab ayah/suami, demikian pula perbuatan dosa ayah/suami tidak dibebankan pada anak atau istrinya.

Hal ini perlu ditegaskan bahwa hal itu merupakan prinsip dasar. Tetapi Allah memberi karunia banyak kepada orang tua yang beriman dan beramal saleh dengan menambah kebahagiaan orang tua untuk memenuhi keinginan orang tua berkumpul di surga bersama anak, istri dan cucu-cucunya, selama mereka beriman, meskipun derajat mereka lebih rendah, tetapi Allah mengangkat mereka menjadi sama dengan bapak yang mukmin dan saleh tadi. Apabila si anak berbahagia masuk surga dan merindukan bersama orang tuanya, maka Allah melimpahkan karunia-Nya, mengangkat bapak ibunya yang beriman untuk mendapat kebahagiaan bersama anak mereka di surga.

Karunia Allah yang demikian tidak mengubah prinsip setiap orang, hanya bertanggung jawab atas perbuatan masing-masing, meskipun tetap ada pengecualian yang lain seperti firman Allah swt:

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ ٣٨ اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ ۛ ٣٩

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan. (al-Muddaṡṡir/74: 38-39)

Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah swt. Tanggung jawab itu tidak akan terlepas dari mereka kecuali golongan kanan yaitu orang-orang yang berbuat baik. Mereka inilah yang akan terlepas dari tanggung jawab disebabkan oleh ketaatan mereka beribadah kepada Allah swt.

Isi Kandungan Kosakata

1. Alatnāhum أَلَتْنَاهُمْ (aṭ-Ṭūr/52: 21)

“Alatnāhum” atau tepatnya “wa mā alatnāhum” adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau), dari alata-ya‘litu-altan. Kata tersebut artinya sama dengan naqaṣnāhum. Ungkapan wa mā alatnāhum artinya “Kami tidak mengurangi mereka (para ayah).” Yang dimaksud adalah bahwa Allah swt tidak akan mengurangi apapun yang seharusnya diberikan kepada para ayah dengan sebab ada yang harus diberikan-Nya kepada para anak keturunan. Ini berarti Tuhan akan memberikan apa pun berupa balasan kepada para ayah sesuai dengan amalnya. Demikian pula kepada para anak-keturunan diberikan balasannya sesuai amal mereka, dan apa yang diberikan kepada anak-keturunan mereka itu tidak mengganggu atau mengurangi apa yang semesti-nya diberikan kepada para ayah mereka. Jadi, para ayah mempunyai balasan atas amal mereka. Begitu pula para anak akan memperoleh balasannya sendiri dari Allah, sesuai amal mereka sewaktu di dunia.

Kalimat ini menurut qiraat Imam Nafi‘, Abu ‘Amru, Ibn Amir, Imam ‘Aṣim, Imam Hamzah dan Imam al-Kisa'i, dibaca wa mā alatnāhum (dengan hamzah dan fatḥah huruf lam). Sedangkan Imam Ibn Kaṣīr membacanya wa mā alitnāhum (dengan kasrah huruf lām), dan menurut riwayat Ibn Syambużi dari riwayat Qunbul dari Imam Ibn Kaṣīr, ungkapan tersebut dibaca wa ma litnāhum (dengan meniadakan hamzah dan kasrah huruf lām). Abu al-‘Āliyah, Abu Nahik dan Mu‘āż al-Qāri' membacanya dengan meniadakan huruf hamzah dan fatḥah huruf lām: wa mā latnāhum. Ibn al-Samifa` membacanya dengan memanjangkan bunyi huruf hamzah, wa mā ālatnāhum, dan ‘Aṣim al-Jahdariy serta aḍ-Ḍaḥḥak membacanya wa mā walatnāhum (dengan huruf wāw yang fathah, tanpa huruf hamzah dan dengan fathah huruf lam). Sedangkan Ibn Mas‘ūd dan Abu al-Mutawakkil membacanya wa mā alatnāhum (dengan mutakallim waḥdah).

Ungkapan tersebut, baik dibaca wa mā alatnāhum maupun wa mā alattuhum artinya tidak berbeda jauh, yaitu bahwa Tuhan tidak mengurangi apa yang menjadi bagian para ayah dengan sebab Dia memberikan apa yang menjadi bagian para anak-keturunan mereka.

2. Rahīn رَهِيْنٌ (aṭ-Ṭūr/52: 21).

Kata rahīn atau rahīnah diungkap dua kali dalam kitab suci: yaitu dalam surah aṭ-Ṭūr/52: 21 dan dalam surah al-Muddaṡṡir/71: 38. Yang pertama mużakkar dan yang kedua mu'annaṡ berasal dari rahana-yarhanu-rahnan-wa rahīnan. Kata ini artinya tergadai atau terikat (murtahinun). Maksudnya adalah bahwa setiap orang terikat dengan perbuatannya sendiri, dan sese-orang tidak disiksa dengan sebab dosa atau kesalahan orang lain. Masing-masing orang akan dipertemukan dengan hasil amalnya sendiri sewaktu hidup di dunia. Ungkapan serupa ini dinyatakan untuk menyifati secara khusus penghuni neraka, bahwa balasan apapun yang diterima mereka sangat terikat dengan yang mereka lakukan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto