وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ ࣖ
Wa minal-laili fa sabbiḥhu wa idbāran-nujūm(i).
Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar).
Dan selain itu, pada sebagian malam, ketika kebanyakan orang tidur, dekatkanlah dirimu kepada Allah, bertasbihlah kepada-Nya, dan berzikir serta bertasbihlah pada waktu terbenamnya bintang-bintang pada waktu fajar.
Kemudian Allah dalam ayat ini memerintahkan kepada Muhammad saw supaya ia bertasbih kepada Allah dengan salat malam. Karena ibadah pada waktu itu berat melaksanakannya, dan jauh dari ria, dan supaya ia salat tatkala terbenamnya bintang-bintang pada waktu subuh. Dalam ayat yang sama artinya Allah berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (al-Isrā'/17: 79)
Makna membaca tasbih dalam ayat ini dapat berarti membaca tasbih seperti pada hadis di atas, juga dapat diartikan melaksanakan salat, baik salat isya, salat malam maupun salat subuh.
Saḥābun-Markūm سَحَابٌ مَرْكُوْمٌ (aṭ-Ṭur/52: 44).
Ungkapan saḥābun-markūm terdiri dari dua kata, saḥāb dan markūm. Yang pertama mauṣuf (yang disifati), dan yang kedua, markūm, adalah sifat yang artinya “terhimpun” atau bertumpuk. Saḥābun-markūm berarti “awan yang terhimpun dan menumpuk.” Orang kafir, kalau mereka melihat hujan deras turun dari langit, hanya berkomentar: itu merupakan bagian dari awan yang lebat di langit. Kejadian itu tidak membuat mereka surut dari kekafiran. Ini menggambarkan betapa keras keingkaran mereka, meskipun kejadian berupa turunnya air hujan dari langit bukankah sekadar kejadian alami semata, tetapi terjadi karena kekuasaan Allah swt.












































