الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ غَمْرَةٍ سَاهُوْنَۙ
Allażīna hum fī gamratin sāhūn(a).
(yaitu) orang-orang yang terbenam (dalam kebodohan) lagi lalai (dari urusan akhirat)!
mereka yang berperilaku demikian yaitu orang-orang yang terbenam dalam ke-sesatan, kebodohan dan sering kali berada dalam kelalaian, sehingga tidak memperhatikan bukti-bukti tentang kekuasaan Allah dan petunjuk-petunjuk-Nya.
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang banyak berdusta dikutuk oleh Allah. Mereka termasuk golongan orang-orang yang sangat jahil, yang berkecimpung dalam kegelapan dan kesesatan, juga terbenam dalam kebodohan dan kelalaian yang sangat menyedihkan.
1. Żātil-ḥubuk ذَاتِ الْحُبُكِ (aż-Żāriyāt/51: 7)
Kata żāt berarti yang memiliki. Sedangkan kata al-ḥubuk jamak dari kata al-ḥabku dan al-ḥabikah, sebuah kata jadian dari ḥabaka-yaḥbuku-ḥabkan. Kata ḥabaka memiliki akar makna “mengencangkan jalinan.” Kain yang ditenun dengan rapat dan padat disebut maḥbūk. Darinya diambil kata ḥabikah yang berarti jalur-jalur di atas pasir akibat angin yang bergerak di atasnya. Inilah akar makna kata yang sedang ditafsirkan ini. Ada beberapa riwayat pendapat mengenai makna kata al-ḥubuk ini. Menurut Ibnu ‘Abbas, artinya adalah “yang memiliki keindahan kemegahan, keelokan, dan kokoh.” Demikian pula pendapat Mujāhid, ‘Ikrimah, Sa‘id bin Jubair, Abu Malik, dan lain-lain. Namun, menurut aḍ-Ḍaḥḥāk dan al-Minhal bin ‘Amr, kata ḥubuk berarti garis-garis di atas pasir yang terkena angin. Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena kedua sifat ini bisa dikompromikan.
2. Al-Kharrāṣūn الْخَرَّاصُوْن َ (aż-Żāriyāt/51: 10)
Kata al-kharrāṣūn adalah bentuk mubālagah (melebih-melebihkan/ hiperbola) dari kata al-khāriṣ, isim fā‘il yang terbentuk dari kata kharaṣa-yakhruṣu-kharṣ an. Kata kharaṣa memiliki akar makna “menduga-menduga apa yang tidak diyakininya.” Kalimat kharaṣat-tamar berarti menaksir kema-tangan kurma kering. Menaksir kurma disebut kharṣun karena tindakan ini dilakukan atas dasar dugaan, bukan pengetahuan pasti. Selanjutnya kebohongan disebut dengan kata kharṣun karena di dalam dusta itu terdapat unsur praduga yang tidak benar. Makna inilah yang dimaksud dengan ayat ini. Jadi, yang dimaksud dengan kata al-kharraṣūn adalah orang-orang yang berdusta. Ada beberapa riwayat yang berbeda tentang makna kata ini. Ada yang mengatakan mereka itu orang-orang yang ragu, ada yang mengatakan para dukun, dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengatakan tidak ada kebangkitan setelah mati. Tetapi bila diamati, seluruh pendapat tersebut tidak keluar dari aspek bahasa.








































