وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Wa min kulli syai'in khalaqnā zaujaini la‘allakum tażakkarūn(a).
Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).
Dan segala sesuatu di alam semesta telah Kami ciptakan secara berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Yang demikian ini agar kamu selalu mengingat kekuasaan dan kebesaran Allah.
Selanjutnya Allah swt menerangkan bahwa Dia menciptakan segala macam kejadian dalam bentuk yang berlainan dan dengan sifat yang bertentangan. Yaitu setiap sesuatu itu merupakan lawan atau pasangan bagi yang lain. Dijadikan-Nya kebahagiaan dan kesengsaraan, petunjuk dan kesesatan, malam dan siang, langit dan bumi, hitam dan putih, lautan dan daratan, gelap dan terang, hidup dan mati, surga dan neraka, dan sebagainya. Semuanya itu dimaksudkan agar manusia ingat dan sadar serta mengambil pelajaran dari semuanya, sedangkan Allah Maha Esa tidak memerlukan pasangan. Dengan demikian hanya Allah yang tidak membutuhkan yang lain. Sehingga mengetahui bahwa Allah-lah Tuhan yang Maha Esa yang berhak disembah dan tak ada sekutu bagi-Nya. Dia-lah yang kuasa menjadikan segala sesuatu dan Dia pulalah yang kuasa untuk memusnahkannya, Dialah yang juga kuasa menciptakan segala sesuatu berpasang-pasang, bermacam-macam jenis dan bentuk, sedangkan makhluk-Nya tidak berdaya dan harus menyadari hal itu.
Penjelasan mengenai Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan menurut kajian ilmiah dapat dilihat pada penjelasan Surah asy-Syūrā/42: 11.
1. Bi’aidin بِأَيْدٍ (aż-Żāriyāt/51 : 47)
Kalimat bi'aidin terbentuk dari dua kata yaitu bi sebagai ḥarfu jar dan aid. Kata aid adalah bentuk jamak dari kata yad yang berarti tangan. Kata aid berasal dari kata āda-ya'īdu-aidan yang berarti kekuatan baik secara fisik atau non fisik. At-ta‘yīd berarti menguatkan, dalam firman-Nya “Iż ayyadtuka birūḥil-quds. Dalam ayat ini Allah berfirman: Wassamā'a banaināhā bia'idin. (Dan langit Kami bangun dengan “tangan-tangan” Kami). Rajulun ayyidun artinya lelaki yang sangat kuat. Iyād adalah sesuatu yang bisa menguatkan dan menjaga.
Dalam konteks ayat ini, ulama salaf memahaminya dengan tangan, tetapi tangan-tangan tersebut hanya Allah yang mengetahui dan tidak serupa dengan tangan-tangan makhluk-Nya. Sebagian ulama memahaminya dalam arti kuasa, dan ada juga yang mengartikannya dengan nikmat. Kata ini memang digunakan dalam dua makna di atas secara kiasan atau majazi. Yang pasti makna hakiki tidak mungkin dimaksudkan disini karena Allah Mahasuci dari sifat kemakhlukan. Oleh karena itu, makna ayat ini bisa berarti Allah Mahakuasa, kekuasaan-Nya teramat luas yang apabila tujuh samudera dijadikan tinta untuk menuliskan kekuasaan-Nya maka tidaklah cukup. Kekuasaan yang tidak ada batasan dan tidak ada tandingannya. Langit, bumi, dan alam semesta merupakan bukti atas kekuasaan-Nya yang tidak bertepi. Kalimat ini juga bisa berarti Allah Mahaluas nikmat-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang tidak memperolehnya. Dan betapa pun Dia menganugerahkannya kepada setiap wujud maka yang terambil hanya bagaikan setetes dari air samudera.
2. Mūsi‘ūn مُوْسِعُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 47)
Kata al-Mūsi‘ūn merupakan bentuk jamak dari kata mūsi‘ yang berasal dari kata wasi‘a yang memiliki arti keluasan. Dari sini lahir makna seperti kaya, cukup, mampu, meliputi, langkah yang panjang dan sebagainya.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang kemahaluasan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya. Kekuatan dan kemahaluasan ini sangat jelas terlihat pada penciptaan langit yang demikian kokoh dan serasi. Samā'. dalam arti lintasan bintang-bintang atau planet, maupun kumpulan dari planet-planet yang disebut dengan galaksi yang menghimpun miliaran bintang atau apa pun itu namanya, kesemuanya menjelaskan tentang kemahaluasan ciptaan dan ilmu Allah. Kemahaluasan ini mengisyaratkan tentang perbendaharaan rezeki Allah yang telah dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa kata lamūsi‘ūn mengindikasikan adanya beberapa rahasia ilmiah. Di antaranya bahwa Allah menciptakan alam ini dengan kekuasaan-Nya. Alam semesta ini menyimpan rahasia yang teramat luas dan tak terbatas. Yang kita lihat dengan kasat mata hanyalah sebagian kecil dari kemahaluasan tersebut. Ayat ini juga menunjukkan bahwa meluasnya alam terus berlangsung sepanjang masa atau dalam teori modern disebut dengan teori ekspansi. Menurut teori ini, nebula di luar galaksi tempat kita tinggal menjauh dari kita dengan kecepatan yang berbeda-beda, bahkan benda-benda langit dalam suatu galaksi pun saling menjauh satu sama lainnya. Jadi wa innā lamūsi‘ūn berarti “Sesungguhnya Kami Maha Memperluas alam raya ini.”
3. Al-Māhidūna الْمَاهِدُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 48)
Kata al-māhidūn adalah bentuk jamak dari kata al-māhid yang berasal dari kata mahada yang berarti sesuatu yang dipersiapkan bagi seorang bayi. Al-Qur’an menggunakannya pada kisah Nabi Isa yang mampu berbicara ketika dalam buaian/ayunan “Kaifa nukallimu man kāna fil-mahdi ṣabiyyā” (Maryam/19: 29). Al-Mahd atau al-mihād adalah sebutan untuk tempat yang dibentangkan atau dihamparkan, (Ṭāhā/20: 53, az-Zukhruf/43: 10)
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa dengan kekuasaan-Nya Dia menjadikan bumi sebagai tempat hunian manusia dalam keadaan terham-par dan Dia adalah sebaik-baik penghampar.
















































