وَزُخْرُفًاۗ وَاِنْ كُلُّ ذٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَالْاٰخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِيْنَ ࣖ
Wa zukhrufā(n), wa in kullu żālika lammā matā‘ul-ḥayātid-dun-yā, wal-ākhiratu ‘inda rabbika lil-muttaqīn(a).
(Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan dari emas. Semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan hidup dunia, sedangkan (kenikmatan hidup) akhirat di sisi Tuhanmu (dikhususkan) bagi orang-orang bertakwa.
Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia semata, yang bersifat sementara sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu disediakan khusus bagi orang-orang yang bertakwa.
Begitu juga pintu-pintu rumah orang-orang kafir, dan tempat tidur yang mereka tiduri akan dibuat dari perak. Semua itu adalah perhiasan tempat manusia berbangga-bangga; semua itu hanya merupakan kesenangan kehidupan dunia yang sifatnya sementara, dan hanya dapat bertahan beberapa saat saja lalu hilang lenyap, sedangkan kehidupan akhirat yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang beraneka ragam dan tak terhitung banyaknya serta kekal abadi telah dipersiapkan untuk orang yang bertakwa kepada Allah, yang tidak menyekutukan-Nya, yang tidak berbuat maksiat dengan melanggar perintah-Nya, tetapi taat dan patuh melaksanakan perintah-Nya. Firman Allah:
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧
Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (al-A‘lā/87: 16-17)
1. Kalimatan Bāqiyatan كَلِمَةً بَاقِيَةً (az-Zukhruf/43: 28)
Istilah kalimah bāqiyah merupakan ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu kalimah dan bāqiyah. Yang pertama, yaitu kalimah, artinya kata atau ungkapan. Yang kedua, yaitu bāqiyah, berasal dari kata kerja baqiya-yabqā yang artinya kekal, dan bāqiyah diartikan sebagai yang kekal. Dengan demikian kalimah bāqiyah maknanya adalah kalimat atau ungkapan yang kekal.
Pada ayat ini, kata kalimah bāqiyah merupakan ungkapan yang maknanya adalah kalimat yang kekal, yaitu istilah yang tidak akan hilang karena selalu diungkapkan manusia sepanjang zaman. Maksud kalimah bāqiyah adalah kalimat tauhid, yaitu ungkapan yang menyatakan keesaan Allah. Kalimat yang diungkapkan oleh Nabi Ibrahim ini akan selalu kekal, karena selalu diimani oleh manusia. Dari keturunan Nabi ini senantiasa akan ada yang beribadah kepada Allah yang Maha Esa.
2. ‘Aqibihi عَقِبِهِ (az-Zukhruf/43: 28)
Kata ‘aqibihi berasal dari kata ‘aqibun yang mendapat tambahan ḍamīr hi. Kata ‘aqib berasal dari kata kerja ‘aqaba-ya‘qabu yang artinya yang datang sesudahnya. Sedang ‘aqibun sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang datang sesudahnya, atau anak dan anaknya anak (keturunan). Pada ayat ini kata tersebut digunakan untuk menyebut keturunan, yaitu keturunan dari Nabi Ibrahim. Dengan demikian, keturunan Nabi ini akan selalu memelihara kalimah bāqiyah dengan cara senantiasa melaksanakan ajaran tauhid dan melaksanakan ajaran-ajaran sesuai dengan syariat masing-masing.
3. Sukhriyyan سُخْرِيًّا (az-Zukhruf/43: 32)
Kata sukhriyyan berasal dari kata kerja sakhara-yaskharu, artinya membebani seseorang dengan pekerjaan tanpa upah, menindas dan menghinakan. Dengan demikian sebagai bentuk maṣdar (kata benda) sukhriyyan diartikan sebagai pemberian pekerjaan tanpa upah atau penindasan dan membuat terhina. Pada ayat ini, kata tersebut dipergunakan untuk menyatakan pemanfaatan atau penggunaan sebagian kelompok atas kelompok manusia lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa status dan keadaan manusia itu memang tidak akan pernah sama. Sebab bila demikian, niscaya tidak akan ada yang mau dipekerjakan oleh yang lain. Karena itu, perbedaan status itu dimaksudkan agar manusia dapat saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Dengan cara ini, mereka akan dapat saling mengambil manfaat dari lainnya.
4. Zukhrufan زُخْرُفًا (az-Zukhruf/43: 35)
Kata zukhruf berasal dari kata kerja zakhrafa-yuzakhrifu, artinya membuat baik atau menghiasi. Dengan demikian zukhruf dapat diartikan sebagai memperbaiki atau perhiasan. Pada ayat ini kata ini ditujukan untuk mengungkapkan tentang perhiasan yang sangat digemari oleh manusia. Secara khusus ungkapan ini untuk menyatakan bahwa kesenangan orang kafir pada segala macam perhiasan itu merupakan hal yang tidak abadi. Sedang bagi orang mukmin akan disediakan perhiasan yang lebih abadi, yaitu yang ada di akhirat kelak. Karena itu, perhiasan yang terbaik adalah yang disediakan Allah bagi umat manusia yang selalu taat pada tuntunan-tuntunan-Nya, patuh pada ajaran-ajaran-Nya, dan selalu melaksanakan syariat-Nya.














































