قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
Qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
Katakanlah pula wahai Nabi, kepada manusia, “Sesungguhnya aku takut akan murka Allah dan azab yang menimpa pada hari yang sangat besar lagi dahsyat yaitu hari Kiamat jika aku durhaka kepada Tuhanku dengan melanggar perintah-Nya.”
Pada ayat ini, Rasulullah juga diperintahkan agar merasa takut melanggar larangan-larangan Allah, seperti tidak berbuat ikhlas dalam menjalankan perintah dan mengesakan-Nya. Apabila ia takut melanggar larangan-larangan-Nya berarti takut akan siksa yang amat dahsyat yang akan ditimpakan pada hari perhitungan. Pada hari itu semua perbuatan manusia baik atau pun buruk diperiksa dan diberi balasan yang setimpal.
Ẓulal ظُلَلٌ (az-Zumar/39: 16)
Bentuk jamak dari ẓullah. Sementara kata aẓ-ẓill jamaknya aẓlāl, ẓilāl dan ẓulūl. Aẓ-ẓill artinya sesuatu yang menaungi. Pada asalnya kata aẓ-ẓillālah kegelapan yang timbul karena adanya sesuatu yang menghalangi dari pancaran cahaya. Jika seseorang berteduh di bawah pohon dari sengatan matahari berarti sisi gelap dari pemandangan tersebut dinamakan “aẓ-ẓill”. Sedangkan kata “aẓ-ẓullah” adalah sesuatu yang dipakai untuk bernaung. Biasa digunakan untuk hal hal yang jelek. Ayat ini menggambarkan bahwa penghuni neraka akan dikepung oleh api dari semua arah. Yang memayungi mereka adalah api, di bawah mereka juga api yang berlapis-lapis.

