وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ
Wal-lażīnajtanabuṭ-ṭāgūta ay ya‘budūhā wa anābū ilallāhi lahumul-busyrā, fabasysyir ‘ibād(i).
Orang-orang yang menjauhi tagut, (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali (bertobat) kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.
Demikianlah azab yang Allah janjikan bagi orang musyrik. Dan adapun orang-orang yang menjauhi tagut-yaitu setan dan apa saja yang dipertuhankan-serta tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira berupa ampunan dan surga dari Allah. Sebab itu, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,
Ayat ini menerangkan orang-orang yang selalu menjaga dirinya dan menghindarkan diri dari menyembah ṭāgūt, berhala, serta tabah dalam menghadapi godaan setan, menghambakan diri dan menyembah kepada Allah semata, tidak menyembah selain-Nya. Mereka akan memperoleh kabar gembira dari para rasul bahwa mereka akan terhindar dari azab kubur sesudah mati, kesengsaraan di Padang Mahsyar. Mereka akan mendapat kenikmatan yang abadi di dalam surga. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada umatnya yang selalu menyembah Allah, dan selalu mendengar perkataan yang benar, serta mengerjakan mana yang paling baik dari semua perkataan yang benar itu. Mereka pun akan memperoleh apa yang diperoleh oleh hamba-hamba Allah yang takwa. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk Allah dan selalu menggunakan akal yang sehat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abī Ḥātim dari Zaid bin Aslam bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan tiga sahabat Rasulullah, yaitu Zaid bin ‘Amr, Abū Żār Al-Gifārī, dan Salmān al-Fārisī, ketiga orang itu adalah orang-orang yang pernah mengucapkan kalimat “Lā ilāha illallāh” di masa Arab Jahiliah.
Guraf غُرَفٌ (az-Zumar/39: 20)
Kata guraf adalah bentuk jamak dari kata gurfah, yang terbentuk dari kata garafa-yagrifu-gurfatan. Kata gurfah memiliki dua makna, yaitu seciduk sebagaimana yang terdapat dalam ayat, “Kecuali menciduk seciduk tangan..” (al-Baqarah/2: 249). Selebihnya kata gurfah di dalam Al-Qur’an digunakan untuk makna tingkatan yang tinggi di antara tingkatan-tingkatan surga, atau tempat yang tinggi di dalam surga. Ia disebut dengan bentuk tunggal, yaitu gurfah sebanyak satu kali dalam Surah al-Furqān ayat 75; dengan bentuk jamak guraf sebanyak 3 kali, yaitu pada Surah al-‘Ankabūt ayat 58 dan pada Surah az-Zumar ayat 20 ini; dan dengan bentuk jamak ta'nīṡ sekali dalam Surah Saba’ ayat 27.












































