قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Qul innī umirtu an a‘budallāha mukhliṣal lahud-dīn(a).
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan tulus dan penuh ketaatan, berserah diri hanya kepada-Nya, dan konsisten dalam melaksanakan ajaran agama.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada rasul-Nya agar mengatakan kepada kaum musyrikin Mekah bahwa dia diperintahkan untuk menyembah Allah dan menaati perintah-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan urusan agama. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa sembahan-sembahan selain Allah harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Begitu pula mengenai urusan-urusan keagamaan, pedomannya adalah perintah yang datang dari Allah, tidak boleh berdasarkan pendapat orang.
Ẓulal ظُلَلٌ (az-Zumar/39: 16)
Bentuk jamak dari ẓullah. Sementara kata aẓ-ẓill jamaknya aẓlāl, ẓilāl dan ẓulūl. Aẓ-ẓill artinya sesuatu yang menaungi. Pada asalnya kata aẓ-ẓillālah kegelapan yang timbul karena adanya sesuatu yang menghalangi dari pancaran cahaya. Jika seseorang berteduh di bawah pohon dari sengatan matahari berarti sisi gelap dari pemandangan tersebut dinamakan “aẓ-ẓill”. Sedangkan kata “aẓ-ẓullah” adalah sesuatu yang dipakai untuk bernaung. Biasa digunakan untuk hal hal yang jelek. Ayat ini menggambarkan bahwa penghuni neraka akan dikepung oleh api dari semua arah. Yang memayungi mereka adalah api, di bawah mereka juga api yang berlapis-lapis.

