وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّضِلٍّ ۗ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِعَزِيْزٍ ذِى انْتِقَامٍ
Wa may yahdillāhu famā lahū min muḍill(in), alaisallāhu bi‘azīzin żintiqām(in).
Siapa yang Allah tunjuki tidak satu pun yang menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi Maha Memiliki (kekuasaan) untuk membalas?
Dan sebaliknya, barang siapa yang hatinya sudah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa dan mempunyai kekuasaan untuk menghukum orang-orang yang memilih jalan kesesatan?
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah dan dimudahkan baginya untuk menempuh jalan-jalan kebahagiaan dengan mengekang hawa nafsunya dan berbuat kebaikan, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkan dan memalingkannya dari tujuan yang baik itu. Tidak ada juga yang dapat memaksanya melakukan perbuatan maksiat, karena tidak ada yang dapat membendung arus kehendak Allah atau menentang kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa bukankah Allah Mahaperkasa yang tidak dapat dikalahkan, lagi mempunyai kekuasaan untuk mengazab orang-orang yang memusuhi rasul-Nya? Allah lalu mengemukakan beberapa hujjah atas kekuasaan dan keesaan-Nya dan menegaskan kebodohan kaum musyrikin penyembah berhala.
1. Kāsyifāt urrih كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ (az-Zumar/39: 38)
Istilah kāsyifāt ḍurrih terdiri dari dua kata, yaitu kāsyifāt dan ḍurrih. Yang pertama (kāsyifāt) merupakan bentuk jamak mu'annaṡ dari kāsyif yang berasal dari kata kerja kasyafa-yaksyifu, yang maknanya membuka atau menyingkap. Dengan demikian, kāsyif artinya yang membuka atau me-nyingkap. Yang kedua (ḍurr) artinya kemudaratan atau sesuatu yang membahayakan. Dengan demikian, kāsyifāt ḍurr diartikan sebagai yang dapat menyingkap atau menghilangkan kemudaratan.
Pada ayat ini, istilah tersebut dipergunakan untuk menegaskan bahwa tidak satu makhluk pun yang dapat menghilangkan atau meniadakan mudarat jika Allah berkehendak untuk menimpakannya. Demikian pula betapa kecil mudarat yang direncanakan seseorang untuk mencelakai pihak lain, bila Allah tidak mengizinkan, pasti tidak akan terjadi.
2. ‘Ażāb Muqīm عَذَابٌ مُقِيْمٌ (az-Zumar/39: 40)
Istilah ‘ażāb muqīm terdiri dari dua kata, yaitu ‘ażāb dan muqīm. Yang pertama (‘ażāb) maknanya siksaan atau azab (telah terserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sama). Yang kedua (muqīm) berasal dari kata aqāma-yuqīmu, yang artinya tinggal terus-menerus, mendirikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, muqīm dapat diartikan yang tinggal secara terus-menerus. Istilah ‘ażāb muqīm mengandung arti azab atau siksaan yang diberikan secara terus-menerus atau hukuman yang kekal tiada hentinya.













































