قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚفَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ
Qīladkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi'sa maṡwal-mutakabūbirīn(a).
Dikatakan (kepada mereka), “Masuklah pintu-pintu (neraka) Jahanam (untuk tinggal) di dalamnya selama-lamanya!” Maka, (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur.
Setelah mendengar pengakuan itu, seketika dikatakan kepada orang-orang kafir itu, “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu sesuai dengan tingkat kedurhakaan yang kalian lakukan, dan kamu akan kekal di dalamnya selama-lamanya.” Maka sungguh neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang angkuh dan menyombongkan diri.
Dengan pengakuan atas kesalahan mereka itu, malaikat menyuruh mereka untuk masuk ke dalam neraka Jahanam. Mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya, tak ada yang dapat keluar walaupun sejenak, karena neraka itu tempat yang layak untuk kediaman orang-orang yang takabur lagi sombong. Neraka adalah tempat yang paling buruk penuh dengan siksaan dan penderitaan.
Zumaran زُمَرًا (az-Zumar/39: 71)
Kata zumar adalah jamak dari kata zumrah. Ia berasal dari kata zamara-yazmuru-zamran yang berarti meniup seruling. Kata mizmar berarti seruling. Ketika Nabi saw mendengar Abū Musa membaca Al-Qur’an, maka beliau bersabda, “Engkau telah diberi salah satu dari seruling-seruling Nabi Daud”. Maksudnya, beliau memuji keindahan suara Abū Musa dalam membaca Al-Qur’an. Kalimat zamara bil-ḥadīṡ berarti ia menyebarkan pembicaraan itu. Dan yang dimaksud dengan kata zumar(an) di sini adalah kelompok-kelompok manusia yang terpisah-pisah.








































