Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 33 - Surat Fāṭir (Pencipta)
فاطر
Ayat 33 / 45 •  Surat 35 / 114 •  Halaman 438 •  Quarter Hizb 44.5 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّلُؤْلُؤًا ۚوَلِبَاسُهُمْ فِيْهَا حَرِيْرٌ

Jannātu ‘adniy yadkhulūnahā yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa lu'lu'ā(n), wa libāsuhum fīhā ḥarīr(un).

(Balasan mereka di akhirat adalah) surga ‘Adn yang mereka masuki. Di dalamnya mereka dihiasi gelang-gelang dari emas dan mutiara. Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.

Makna Surat Fatir Ayat 33
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka akan mendapat surga Adn; mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya mereka diberi berbagai kenikmatan jasmani dan rohani. Di antara kemikmatan jasmani ialah perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menerangkan pahala yang akan diterima orang mukmin di atas yakni surga ‘Adn, tempat tinggal abadi buat selama-lamanya, yang akan mereka diami kelak di akhirat ketika mereka telah menghadap Allah. Mereka dianugerahi perhiasan dari emas dan pakaian dari sutra. Diriwayatkan dari Abū Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِيْن َ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوْءُ. (رواه البخاري)

Sebagian dari orang mukmin itu akan memperoleh perhiasan (di surga) diletakkan pada anggota badan yang terbasuh (air) wudu. (Riwayat al-Bukhārī)

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ أَبَا أُمَامَةَ حَدَّثَ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُمْ وَذَكَرَ حُلِيَّ أهلِ الْجَنَّةِ، فَقَالَ: مُسَوَّرُوْنَ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، مُكَلَّلَةٌ بِالدُّرِّ وَعَلَيْهِمْ اَكَالِيْلُ مِنْ دُرٍّ وَيَاقُوْتٍ مُتَوَاصِلَةٍ، وَعَلَيْهِمْ تَاجٌ كَتَاجِ الْمُلُوْكِ شَبَابٌ حُرْدٌ مُرْدٌ مُكْحَلُوْنَ. (رواه ابن أبي حاتم)

Dari Abū Hurairah r.a. bahwa Abu Umamah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah mengatakan kepada para sahabat, dan menyebutkan perhiasan penghuni surga. Beliau berkata, “Mereka diberi gelang emas dan perak yang bertatahkan mutiara, mereka juga memakai mahkota dari mutiara yāqūt yang bersambung. Mereka memakai mahkota seperti mahkota raja-raja. Mereka muda-muda, tidak berjenggot dan berkumis, dan mata mereka bercelak. (Riwayat Ibnu Abī Ḥātim)

Atas anugerah Allah yang berlipat ganda itu, mereka memuji kebesaran-Nya dan bersyukur atas keselamatan mereka dari kesedihan dan kepedihan. Ibnu ‘Abbās mengartikan kesedihan (ḥazan) itu dengan api neraka, karena kepedihan akibat dosa atau kepedihan akibat hebatnya siksaan di padang mahsyar. Lepasnya mereka dari segala siksaan dan ketakutan adalah semata-mata karena ampunan Allah bagi orang yang berbuat kesalahan (dosa) dan balasan syukur bagi orang yang selalu menaati-Nya. Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Ibnu Umar dimana Nabi saw bersabda:

لَيْسَ عَلَى اَهْلِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْشَةٌ فِى الْمَوْتِ فِى قُبُوْرِهِمْ وَلَا فِى نُشُوْرِهِمْ وَكَاَنِّى بِأَهْلِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ يَنْفُضُوْنَ التُّرَابَ عَنْ رُؤُوْسِهِمْ وَيَقُوْلُوْنَ : اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌ. (رواه الطبراني عن ابن عمر)

Orang (yang selalu mengucapkan), “Lā ilāha illallāh” tidak akan merasa kesepian di dalam kematiannya, di dalam kuburnya, dan juga pada hari Kebangkitan. Seolah-olah aku berada dengan mereka di mana mereka membersihkan kepalanya dari tanah/debu, dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan kedukaan dari kami! Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Penerima syukur.” (Riwayat aṭ-Ṭabrānī dari Ibnu ‘Umar)

Ringkasnya, mereka terlepas dari segala ketakutan dan siksaan yang telah diancamkan pada orang-orang yang berdosa akibat bisikan dan rayuan setan ketika hidup di dunia ini.

Isi Kandungan Kosakata

1. Sābiqun bil-Khairāt سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (Fāṭir/35: 32)

Kata sābiq adalah isim fa‘il terambil dari kata al-sabq yakni berlomba/ perlombaan. Makna sābiq adalah seorang yang mencapai batas yang dituju mendahului yang lainnya. Kata sābiq dan turunannya dalam Al-Qur’an disebut 37 kali tersebar dalam 26 surah. Kata al-khairāt adalah bentuk jamak dari kata khair yakni kebajikan. Kata al-khairāt disebut 10 kali dalam Al-Qur’an tersebar dalam 8 surah. Dengan demikian, makna sābiq bi al-khairāt dalam Surah Fāṭir ayat 32 adalah orang yang mendahului dalam kebajikan.

2. Dārul-Muqāmah دَارُ الْمُقَامَةِ (Fāṭir/35 :35)

Kata dār dalam Al-Qur’an disebut 56 kali dalam berbagai bentuk, tersebar dalam 27 surah. Kata dār berasal dari dawara yang secara terminologi bermakna bergerak dan kembali pada tempat semula, istirahat setelah ia bergerak dan melakukan aktivitasnya. Pengertian kata ini kemudian meluas pada pengertian lain, yakni tempat tinggal atau rumah, karena rumah berfungsi sebagai tempat kembali manusia setelah melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Di samping pengertian tersebut di atas, dār bisa bermakna perkampungan karena setelah seseorang melakukan berbagai perjalanan, dia akan kembali ke kampungnya. Kemudian kata ad-dār berarti dataran rendah yang dikelilingi oleh dataran-dataran tinggi (pegunungan).

Kata dār yang dihubungkan dengan konteks pembicaraan dalam Al-Qur’an secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu yang bersifat keduniaan dan yang bersifat keakhiratan. Dari pembicaraan dalam Al-Qur’an, tergambar bahwa kata dār berarti suatu tempat yang menjadi akhir dari berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi. Namun kebanyakan pembicaraan Al-Qur’an mengenai dār lebih mengarah pada pembalasan kehidupan di akhirat, baik berupa balasan kebaikan dengan surga, maupun balasan kejahatan dengan neraka.

Kata al-muqāmah berarti kekal. Jadi makna dār al-muqāmah dalam Surah Fāṭir ayat 35 adalah tempat kediaman yang kekal di akhirat.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto