وَاِذْ يَتَحَاۤجُّوْنَ فِى النَّارِ فَيَقُوْلُ الضُّعَفٰۤؤُا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ اَنْتُمْ مُّغْنُوْنَ عَنَّا نَصِيْبًا مِّنَ النَّارِ
Wa iż yataḥājjūna fin-nāri fayaqūluḍ-ḍu‘afā'u lil-lażīnastakbarū innā kunnā lakum taba‘an fahal antum mugnūna ‘annā naṣībam minan-nār(i).
(Ingatlah) ketika mereka berbantah-bantahan di dalam neraka. Orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Sesungguhnya kami (dahulu) adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?”
Ayat yang lalu memberitakan azab yang diterima oleh Fir’aun dan pengikut-pengikutnya di dalam neraka. Melalui ayat ini dan ayat-ayat berikut, Allah menjelaskan kondisi saling menghujat di kalangan penghuni neraka. Dan ingatlah bagaimana kelak pada waktu mereka berada dalam neraka, ketika itu mereka berbantah-bantahan di dalam neraka, maka orang yang lemah sebagai pengikut berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri yang memimpin mereka, “Sesungguhnya kami dahulu ketika kita sama-sama hidup di dunia adalah pengikut-pengikutmu yang setia. Maka oleh sebab itu, dapatkah kamu melepaskan kami dari azab ini ataupun memikul sebagian dari azab api neraka yang sedang menimpa kami?
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menceritakan kepada orang musyrik Mekah tentang malapetaka yang telah menimpa Fir‘aun dan kaumnya, serta azab kubur dan akhirat yang akan mereka derita nanti. Hal ini bertujuan agar berita itu menjadi pelajaran bagi mereka sehingga mereka sadar dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Dalam perintah itu, Nabi Muhammad diminta untuk menceritakan kepada orang-orang musyrik Mekah tentang perbantahan orang-orang kafir yang mengingkari seruan rasul ketika mereka berada di dalam neraka nanti. Para pengikut memohon pertolongan kepada sembahannya agar diselamatkan dari azab neraka yang sedang menimpa mereka, atau menguranginya. Akan tetapi, sembahan-sembahan itu berlepas tangan dari permintaan itu karena mereka sendiri tidak berdaya mengurangi atau mengelakkan diri dari azab yang sedang menimpa mereka itu. Para penyembah berhala itu menggugat sembahan-sembahan itu dengan mengatakan, “Kami adalah penyembah-penyembahmu waktu di dunia dahulu, dan kami adalah penjaga-penjagamu yang selalu taat kepadamu dan mencukupkan segala keperluanmu, sehingga kami mengingkari seruan rasul yang disampaikan kepada kami. Sekiranya kami tidak menyembah kamu semasa hidup di dunia dahulu, tentulah kami akan mengikuti seruan rasul, sehingga kami tidak dimasukkan ke dalam neraka seperti sekarang ini. Apakah kamu mau menghindarkan kami dari azab ini atau meringankannya dengan kesediaan kamu memikul sebagian dari azab yang telah menimpa kami ini? Seandainya bukan karena kamu sekalian, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”
1. Yataḥājjūna يَتَحاَجُّوْنَ (Gāfir/40: 47)
Kalimat yataḥājjūna merupakan bentuk muḍāri’ yang berasal dari kata ḥājja yang berarti bermaksud atau menuju. ḥaji menjadi istilah untuk ziarah menuju Baitullah dengan cara-cara tertentu yang telah disyariatkan. ḥujjah adalah dalil atau alasan yang jelas yang ditujukan kepada lawan bicara dengan maksud mengalahkannya. Dinamakan ḥujjah karena dalam kata itu terkandung maksud. At-Taḥājj adalah permusuhan atau perselisihan. Iḥtajja bi asy-syai' berarti menjadikannya sebagai hujjah. Al-Muḥājjah adalah meminta lawannya untuk menjawab bantahannya. Dalam Al-Qur’an, kata ḥājja dalam arti meminta dalil (hujjah) terulang sebanyak 20 kali, selebihnya kata ini diulang dalam arti melaksanakan ibadah haji. ḥājja juga diartikan dengan memeriksa dan mengobati dalamnya luka. Bentuk kata kerja ḥājja menunjukkan adanya dua pihak yang saling mengajukan ḥujjah atau dalil dan alasan untuk membantah dan menyalahkan rekannya.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menceritakan keadaan kaum kafir Mekah kelak di akhirat jika mereka tetap menyembah berhala. Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kaum musyrik akan mendapatkan azab kubur setiap pagi dan petang. Azab selanjutnya adalah mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat nanti. Mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala. Pada saat itulah mereka berbantah-bantahan antara rakyat dan pemimpinnya yang dahulu disembah dan diagung-agungkan. Mereka meminta pertanggungjawaban para penguasa untuk menyelamatkannya dengan alasan merekalah yang dahulu menjadikannya mendapatkan siksaan seperti sekarang ini. Akan tetapi, tidak ada artinya perselisihan tersebut karena mereka yang berkuasa saat di dunia tidak memiliki kekuatan untuk menghindarkan dirinya dari siksaan api neraka. Jawaban para penguasa adalah sekarang tidak ada perbedaan di antara mereka dengan pengikutnya, karena sama-sama ada dalam neraka. Seandainya mereka dapat menyelamatkan diri atau mengurangi siksa yang sedang menimpa ini, tentu mereka akan melakukan dan mengusahakannya untuk diri sendiri lebih dahulu. Akan tetapi, sekarang mereka berada dalam posisi yang sama, berbeda pada saat di dunia dahulu.
2. Mugnūn مُغْنُوْنَ (Gāfir/40: 47)
Kalimat mugnūn merupakan bentuk jamak dari kata mugni yang berarti merasa cukup. Kata ini berasal dari bentuk dasar yang terdiri dari huruf gain, nūn, dan ya'. Ada beberapa macam pengertian dari kata ini, yaitu pertama, tidak membutuhkan sesuatu sama sekali atau tidak menggantungkan kebutuhannya kepada yang lain. Sifat ini hanyalah untuk Allah. Salah satu Asmā' al-ḥusnā adalah al-Ganiyy wa al-Mugniyy (Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Kekayaan). Dari sini lahir kata gāniyah sebutan untuk wanita yang tidak kawin dan merasa berkecukupan hidup di rumah orang tuanya atau merasa cukup hidup sendirian tanpa bersuami. Kedua, sedikit sekali kebutuhannya atau merasa cukup. Ketiga, yang terpenuhi segala kebutuhannya.
Di dalam Al-Qur’an, kata gāniy terulang sebanyak 20 kali. Dua kali menunjuk kepada manusia, sedang selebihnya menjadi sifat Allah. Sedang-kan kata mugniy tidak ditemukan baik yang menunjuk kepada Allah maupun manusia. Akan tetapi, ditemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang menun-jukkan bahwa Allah memberi kecukupan kekayaan (at-Taubah/9: 28, an-Nūr/24: 32-33). Dalam Al-Qur’an dan hadis, kalimat ini tidak selalu diartikan dengan banyaknya harta kekayaan. Dalam hadis yang cukup populer, Nabi saw mengatakan bahwa gina (kekayaan) tidak dinilai dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang yang lemah yang meminta kepada para pemimpinnya dahulu di dunia untuk mencukupkan siksaan dalam arti menghindarkan dari siksa yang mereka terima dengan alasan merekalah yang menjadikannya seperti itu.











































