فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوْٓا اَبْنَاۤءَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ وَاسْتَحْيُوْا نِسَاۤءَهُمْ ۗوَمَا كَيْدُ الْكٰفِرِيْنَ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ
Falammā jā'ahum bil-ḥaqqi min ‘indinā qāluqtulū abnā'al-lażīna āmanū ma‘ahū wastaḥyū nisā'ahum, wa mā kaidul-kāfirīna illā fī ḍalāl(in).
Ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, “Bunuhlah anak laki-laki orang-orang yang beriman bersama dia dan biarkan hidup perempuan-perempuan mereka.” Tidaklah tipu daya orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka.
Maka ketika dia, Nabi Musa, datang kepada mereka, yakni kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun, membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, “Bunuhlah anak-anak laki-laki dari orang-orang yang beriman bersama dia dan juga Musa, dan biarkan hidup perempuan-perempuan mereka untuk dijadikan budak.” Begitulah para pendurhaka mengatur tipu daya, namun tipu daya orang-orang kafir itu pasti akan sia-sia belaka.
Nabi Musa menjelaskan kepada Fir‘aun, Hāmān, dan Karun tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan kewajiban manusia untuk beriman dan berbuat baik, serta tentang kerasulan-Nya. Akan tetapi, mereka marah sekali. Mereka tidak mau menerima apa yang disampaikan Nabi Musa karena bertentangan dengan kepercayaan yang sudah ditanamkan kepada penduduk Mesir bahwa Tuhan itu adalah Fir‘aun. Juga karena ajaran yang dibawa Nabi Musa bisa membahayakan kekuasaan dan kedudukan mereka. Lalu mereka memerintahkan agar anak-anak laki-laki Bani Israil dibunuh dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Perintah membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil itu adalah perintah kedua. Perintah pertama dikeluarkan Fir‘aun atas nasihat ahli-ahli nujumnya yang menakwil mimpinya bahwa dari kalangan Bani Israil akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menggulingkannya dan meruntuhkan kerajaannya. Maksud pembunuhan itu adalah untuk melemahkan Bani Israil, karena kaum laki-laki mereka akan habis, sedangkan kaum perempuan mereka akan dapat dikuasai. Juga bertujuan untuk memusnahkan etnis Bani Israil dari bumi Mesir karena mereka bisa mengalahkan penduduk asli Mesir sendiri. Akan tetapi, Allah mempunyai rencana lain. Dengan rencana-Nya, Allah justru membuat Musa yang masih bayi diasuh dan dibesarkan di istana Fir‘aun sendiri sebagai anaknya. Setelah dewasa, Musa harus keluar dari Mesir karena jiwanya terancam akibat membunuh seorang Mesir.
Perintah kedua pembunuhan setiap bayi laki-laki Bani Israil ini dikeluarkan Fir‘aun setelah Nabi Musa kembali ke Mesir sebagai nabi yang diperintahkan Allah untuk menyadarkan Fir‘aun dan mengajaknya untuk beriman. Menurut Ibnu Kaṡīr, tujuan Fir‘aun hendak membunuh anak laki-laki Bani Israil itu adalah untuk menanamkan rasa tidak puas di kalangan para pengikut Nabi Musa sendiri terhadapnya. Sebab dengan ancaman pembunuhan kedua kali itu, berarti Nabi Musa telah mengakibatkan dua kali kesulitan bagi mereka, pertama ketika Nabi Musa belum lahir dan kedua setelah beliau menjadi nabi yang menyeru Fir‘aun. Dalam pikiran Fir‘aun, bila Bani Israil tidak puas kepadanya, maka Nabi Musa akan dikalahkan oleh bangsanya sendiri. Kemungkinan itu dikisahkan dalam Al-Qur’an:
قَالُوْ ٓا اُوْذِيْنَا مِنْ قَبْلِ اَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْۢ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۗقَالَ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَ كُمْ فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ ࣖ ١٢٩ (الاعراف)
Mereka (kaum Musa) berkata,”Kami telah ditindas (oleh Fir‘aun) sebelum engkau datang kepada kami dan setelah engkau datang.” (Musa) menjawab, “Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi; maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (al-A‘rāf/7: 129).
Akan tetapi, maksud itu tidak tercapai. Rencana kedua kalinya untuk membunuhi anak-anak laki-laki Bani Israil gagal total, karena Allah menurunkan berbagai musibah sebagai azab-Nya, seperti datangnya topan dahsyat, munculnya serangan belalang, kutu, katak, dan air yang berubah menjadi darah (lihat al-A‘rāf/7: 133). Maksud untuk menghalang-halangi manusia dari beriman kepada Nabi Musa dan ajaran yang disampaikannya juga tidak berhasil, karena kebenaran tidak mungkin ditampik dan kehendak Allah pasti terjadi sebagaimana difirmankan-Nya:
كَتَب َ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ٢١ (المجادلة)
Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-Mujādalah/58: 21)
1. Kaid al-Kāfirīn كَيْدَ الْكَافِرِيْنَ (Gāfir/40: 25)
Al-kaid artinya tipu daya. Ibnu Fāris menjelaskan bahwa arti asal dari akar kata (kaf-ya’-dal) adalah menangani sesuatu dengan keras. Dari sini lalu muncul arti sinonimnya yaitu al-makr (tipu daya) karena seorang yang menipu akan mengerahkan segala cara untuk keberhasilan hasratnya. Al-Kaid juga digunakan untuk arti haid, perang, teriakan keras dari burung gagak. Semuanya mempunyai unsur kesungguhan. Dengan demikian maka arti kaidul kāfirīn adalah tipu daya orang kafir. Dijelaskan di sini bahwa tipu daya orang kafir akan sia-sia belaka karena melawan kebenaran.
2. Fir‘aun فِرْعَوْن (Gāfir/40: 26)
Nama Fir‘aun dalam Al-Qur’an paling sering disebutkan dalam hubungannya dengan orang-orang Israil, dan Musa secara khusus. Secara keseluruhan, nama ini disebutkan 74 kali. Yang pertama dalam Surah Baqarah/2: 49-50. Dalam ayat di atas, Nabi Musa berhadapan dengan Fir‘aun di istananya. Saat Musa mengajaknya beriman kepada Allah Yang Maha Esa, maka terjadi dialog panjang semacam debat. Kendati Fir‘aun sendiri tetap keras kepala, beberapa orang dekatnya yang menyembunyikan imannya berpihak kepada Musa dan Harun, di tengah-tengah kemarahan dan ancaman Fir‘aun, dan meninggalkan pemujaan mereka kepada Fir‘aun (Ṭāhā/20: 42-54; 57-63, dan lain-lain).
Musa berada di Mesir hingga peristiwa pelariannya bersama Bani Israil. Mereka menyeberangi' laut, dikejar oleh Fir‘aun dan rombongannya. Sebelum itu, orang-orang Israil mengalami berbagai siksaan berat dari Fir‘aun, setiap anak laki-laki harus dibunuh dan yang perempuan dibiarkan hidup. Ini suatu cobaan berat bagi mereka dari Allah. Kemudian Allah menolong dan menyelamatkan mereka, dan menenggelamkan Fir‘aun dan kaumnya. Tetapi, supaya menjadi pelajaran bagi generasi yang akan datang Allah menyelamatkan jasad Fir‘aun (Yūnus/10: 92). Cerita-cerita demikian juga dapat dibaca di beberapa tempat dalam Perjanjian Lama, terutama dalam Kitab Keluaran.
Sejarah Mesir sebelum Musa dan Bani Israil, bahkan sebelum Fir‘aun sudah pernah mengenal Ibrahim, kemudian Yusuf. Siapa yang memerintah Mesir waktu itu? Al-Qur’an tidak menyebut-nyebut nama Fir‘aun selaku penguasa Mesir seperti tatkala zaman Musa, melainkan selalu dengan sebutan malik, yang berarti raja. Penguasa Mesir masa itu memang seorang raja dari Dinasti Hyksos, bukan dinasti Fir‘aun. Berbeda dengan Alkitab, dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian), penguasa Mesir masa Abram (Abraham, Ibrahim) dan masa Yusuf disebut Fir‘aun. Dalam kepustakaan Bibel yang kemudian disebutkan, bahwa Fir‘aun masa Ibrahim di Mesir mungkin sama dengan raja, yang menurut perkiraan tahun Ussher (James Ussher, 1581-1656) 1921 tahun Pra Masehi, yang pada waktu itu Mesir diperintah oleh Hyksos. Begitu juga raja pada masa Yusuf.
Waktu itu, Mesir memang diperintah oleh seorang raja. Dalam Surah Yūsuf/12, kata malik—yang berarti raja—disebut sebanyak lima kali, bukan dengan sebutan kata Fir‘aun, dan tidak sekali pun nama itu disebut-sebut dalam surah tersebut. Al-Qur’an begitu cermat dalam menyebut nama-nama dan peristiwa, yang ketika ayat itu turun sama sekali belum diketahui siapa yang dimaksud dengan sebutan raja itu. Nama raja dan nama dinastinya baru belakangan diketahui, dan berdasarkan penelitian sejarah, dia memang bukan Fir‘aun.
Menurut Encyclopedia Britannica, ada sebuah kelompok ras campuran Semit dan Asia tinggal di bagian utara Mesir selama abad ke-18 PM (Pra Masehi) yang dikenal dengan nama Hyksos. Pada kira-kira tahun 1630 PM mereka memegang kekuasaan, dan Raja Hyksos memerintah Mesir sebagai dinasti ke-15 (sekitar 1630-1521 PM). Nama Hyksos dipakai oleh sejarawan Mesir Manetho (300 PM), yang menurut sejarawan Yahudi Josephus (sekitar abad pertama Masehi), menerjemahkan kata itu sebagai “gembala-gembala raja” atau “gembala-gembala tawanan.” Josephus ingin menunjukkan ke-agungan orang-orang Yahudi masa lalu dan dengan demikian menyamakan Hyksos dengan orang-orang Ibrani (Yahudi). Kebanyakan sarjana tidak mendukung pandangan ini, kendati memang mungkin saja bahwa orang-orang Yahudi itu memasuki Mesir pada masa Hyksos, atau bahwa beberapa orang Hyksos adalah nenek moyang beberapa orang Ibrani.
Dinasti Hyksos memegang kekuasaan di Mesir kira-kira tahun 1630 PM sebagai dinasti yang ke-15 (1630-1521 PM), atau sekitar 108 tahun mereka berkuasa di Mesir. Mereka berkuasa seperti Fir‘aun dan tercatat dalam Papyrus Turin sebagai raja-raja yang sah. Mereka sudah sebagai orang Mesir, dan tidak mencampuri soal-soal kebudayaan Mesir di luar lingkungan politik.
Mengenai pribadi raja Hyksos masa Yusuf, dalam beberapa kitab tafsir Al-Qur’an dikatakan bernama ar-Rayyān bin al-Walīd. Hyksos kerap kali disamakan dengan al-'Amālīq dalam bahasa Arab. Tampaknya mereka sangat ramah, seperti yang kita lihat sikapnya terhadap Yusuf, tidak seperti raja-raja Fir‘aun yang bengis dan zalim..
Adapun Fir‘aun, dari bahasa Arab Fir‘aun, dan dalam ejaan bahasa Inggris pharaoh (dari bahasa Mesir dalam tulisan Hieroglif per’aa, “rumah besar”), aslinya istana kerajaan di Mesir purbakala. Kata itu dipakai sama artinya sebagai raja Mesir di bawah Kerajaan Baru (mulai dinasti ke-18, tahun 1539-1292 PM), dan sejak dinasti ke-22 (sekitar tahun 945-750 PM) diadopsi sebagai suatu gelar kehormatan. Sejak itu istilah ini menjadi nama jenis (generik) untuk semua raja Mesir purba, kendati secara resmi tidak pernah dipakai sebagai gelar raja. Raja-raja Mesir purba itu banyak dan sejarah mereka pun cukup panjang. Mereka ada yang hidup jauh sebelum Hyksos, seperti Amenemhet I abad ke-20 PM, atau yang lain sebelumnya, sebelum ada gelar Fir‘aun seperti yang sudah dikenal sejarah, sampai kepada Fir‘aun-Fir‘aun yang kemudian. Ahmose yang berkuasa sekitar abad ke-16, dan pendiri dinasti ke-18, yang berhasil mengusir kekuasaan Hyksos, juga anaknya yang lebih terkenal, Amenhotep I, sampai kepada Fir‘aun-Fir‘aun berikutnya, misalnya Thothmes I dan Ramses.
Fir‘aun yang disebut dalam Al-Qur’an tidak sendirian. Waktu Musa diutus oleh Allah kepada Fir‘aun, di sampingnya ada Hāmān, wazirnya, dan Karun (Qarun) orang terkaya pada masanya. Mereka mengatakan Musa adalah pesihir dan pembohong (Gāfir/40: 23-27). Siapa Hāmān dan Karun ini, yang namanya disebutkan dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an, dan kesemuanya erat hubungannya dengan Fir‘aun. Kedudukan Hāmān* begitu tinggi sebagai pembantu dekatnya, sehingga ia menempati orang kedua sesudah Fir‘aun.
Peristiwa yang dikisahkan dalam Al-Qur’an memang berbeda. Fir‘aun sangat angkuh ketika menghadapi Musa yang datang membawa bukti-bukti hidayah dari Allah. Mereka menuduh Musa datang membawa sihir dan Fir‘aun berkata kepada para pembesarnya bahwa tuhan mereka hanyalah Fir‘aun, tak ada yang lain. Ia memerintahkan kepada Hāmān untuk mendirikan sebuah bangunan yang tinggi, supaya dia dapat melihat Tuhan Musa (al-Qaṣaṣ/28: 36-40).
Sebagian besar mufasir menganggap kata-katanya itu sungguh-sungguh, dan membayangkan bahwa Fir‘aun “berpikir hendak mencapai langit dengan membangun sebuah menara yang tinggi.” Tetapi, Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad berpendapat bahwa apa yang dikatakan Fir‘aun kepada Hāmān itu hanya sebagai sindiran, sebab mereka sudah tahu rakyat Mesir menganut banyak dewa.
Nama Hāmān pertama kali muncul dalam Al-Qur’an dalam Surah al-Qaṣaṣ/28: 6, yang melukiskan kekhawatiran Fir‘aun, Hāmān, dan pasukan-nya. Nabi Musa menghadapi Fir‘aun dan para pembesarnya yang begitu sombong. Dalam beberapa ayat, Fir‘aun dan Hāmān disejajarkan dengan Karun yang sama-sama memusuhi dan menuduh Musa sebagai pesihir dan pembohong (lihat kosakata “Nabi Musa,” “Hāmān” dan “Qarun” dalam Tafsir ini).
Fir‘aun berusaha mengusir atau membunuh semua orang Israel. Musa yang ketika masih bayi dipungut dari sungai oleh keluarga Fir‘aun dan dibesarkan di istananya, adalah pemimpin orang-orang Israil itu. Fir‘aun dan jajarannya dalam ketakutan, karena diberitakan bahwa kehancuran Fir‘aun kelak di tangan salah seorang dari Bani Israil itu.
Hal ini kemudian memang terbukti. Ketika Mesir menghadapi musim malapetaka, mereka meminta bantuan Musa agar mendoakan keselamatan mereka, dan mereka akan beriman kepadanya dan membebaskan Bani Israil. Akan tetapi, setelah diselamatkan karena doa Nabi Musa, mereka ingkar janji. Maka Allah menjatuhkan hukuman kepada mereka. Fir‘aun dan pasukannya pun tenggelam di laut ketika mengejar Musa dan rombongannya (al-A‘rāf/7: 130-136).
Orang Mesir percaya Fir‘aun-Fir‘aun mereka adalah tuhan, yang mereka samakan dengan Horus, dewa (tuhan) langit, dengan dewa-dewa matahari Re, Amon, dan Aton. Sampai mati pun Fir‘aun tetap dituhankan, yang kemudian menjelma menjadi Osiris, bapak Horus dan tuhannya orang mati, dan ini berlanjut melalui kekuasaan suci dan posisinya, sampai kepada Fir‘aun yang baru, yaitu anaknya yang laki-laki.
Ada beberapa referensi mengatakan bahwa Fir‘aun masa Musa itu adalah Ramses II. Ia terkenal dengan program-program pembangunannya yang kolosal dan patung-patung dirinya yang terdapat di seluruh Mesir. Ia juga dikenal sebagai Fir‘aun Penindas. Tetapi Ramses II ini dari dinasti ke-19 yang berkuasa pada tahun 1279 PM, sementara masa Musa yang lahir di Gosyen, Mesir, jauh sebelum itu, yakni pada tahun 1571 PM (Peloubet’s Bible Dictionary). Atas dasar ini, Fir‘aun masa Musa itu lebih masuk akal adalah Thotmes I, yang berkuasa tahun 1571 PM, yang juga sama dengan tahun kelahiran Musa. Perjanjian Lama tidak menyebut nama Fir‘aun atau masa Fir‘aun yang mana. Hanya dalam Peloubet’s di atas disebutkan bahwa yang berkuasa di Mesir pada masa Eksodus (Musa) itu adalah Menephthah II, anak Ramses II. Pendapat-pendapat ini masih terasa rancu sekali.
Lalu siapa Fir‘aun yang dalam kisah Musa itu? Perkiraan yang dikemukakan oleh Abdullah Yusuf Ali di bawah ini rasanya lebih mendekati kenyataan sejarah. “Kalau prasasti-prasasti dapat membantu kita, kita dapat menjawab dengan beberapa kepastian, tetapi sayangnya prasasti-prasasti ini tidak dapat membantu juga. Suatu kemungkinan bahwa kejadian itu pada masa Fir‘aun yang mula-mula dalam dinasti ke-18, misalnya Thothmes I, sekitar tahun 1540 PM.” Masalah ini dibahasnya lebih jauh dalam sebuah lampiran tersendiri (Tafsir Abdullah Yusuf Ali).
Supaya Fir‘aun ini menjadi bukti abadi di kemudian hari, Al-Qur’an mengisyaratkan, bahwa jasad kasarnya telah diselamatkan oleh Allah:
فَالْيَوْم َ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ ࣖ ٩٢ (يونس)
Hari ini Kami selamatkan jasadmu agar menjadi bukti bagi mereka yang sesudahmu. Tetapi banyak orang yang melalaikan tanda-tanda (kekuasaan) Kami. (Yūnus/10: 92).
Fir‘aun mati tenggelam di laut, tetapi jasadnya diselamatkan oleh Allah dan terdampar di pantai. Setelah dilakukan upacara-upacara kematian di istana sebagaimana mestinya, sesuai dengan kebiasaan, tubuh Fir‘aun dibalsam untuk dijadikan mumi sehingga utuh. Mumi itu tersimpan sampai sekarang bersama mumi-mumi yang lain. Hikmahnya, agar kisah ini menjadi peringatan dan pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya.
Demikian secara ringkas keadaan kekuasaan di Mesir purba. Kekuasaan dan para penguasa di Mesir yang tercatat dalam kitab-kitab suci hanya yang ada hubungannya dengan para nabi, seperti masa Ibrahim, Yusuf, dan Musa.













































