وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Wa iż ta'ażżana rabbukum la'in syakartum la'azīdannakum wa la'in kafartum inna ‘ażābī lasyadīd(un).
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Dan ingatlah pula ketika Tuhanmu memaklumkan suatu maklumat yang dikukuhkan, “Sesungguhnya Aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku kepadamu, niscaya Aku akan menambah kepadamu nikmat lebih banyak lagi, tetapi sebaliknya, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Dalam ayat ini Allah swt kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Bila mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya, dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.
Mensyukuri rahmat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan ucapan yang setulus hati; kedua, diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara. Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai serta dihormati dalam pergaulan. Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah, bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, dan di akhirat memperoleh hukuman yang berat.
Ayyāmillāh أَيَّامِ اللهِ (Ibrāhīm/14: 5)
Ungkapan ayyāmillāh terdiri dari dua kata, yaitu kata “ayyām” yang di-iḍafat-kan (disandarkan) pada kata “Allāh.” Dalam Al-Qur’an, ungkapan ini disebutkan dua kali, yaitu dalam ayat ini dan dalam Surah al-Jāṡiyah /45: 14. Secara bahasa, ungkapan tersebut berarti “hari-hari Allah.” Menurut Mujāhid, Qatādah, dan Ibn Qutaibah, berdasarkan riwayat Ubay bin Ka‘ab dari Nabi saw, kata ayyāmullāh artinya kenikmatan Allah. Pemakaian ungkapan yang artinya serupa dengan itu sudah dikenal dalam kesusastraan Arab, misalnya kata ayyām al-‘arab atau hari-hari Arab, digunakan dalam arti pertempuran bangsa Arab, karena pertempuran merupakan sumber kenikmatan bagi yang menang, dan sumber kesusahan bagi yang kalah. Maka kata ayyāmullāh atau hari-hari Allah artinya perlakuan kasih sayang Allah terhadap orang yang tulus dalam beramal dan siksaan Allah terhadap orang yang durhaka kepada-Nya.












































