وَكَانَ يَأْمُرُ اَهْلَهٗ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِۖ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهٖ مَرْضِيًّا
Wa kāna ya'muru ahlahū biṣ-ṣalāti waz-zakāh(ti), wa kāna ‘inda rabbihī marḍiyyā(n).
Dia selalu menyuruh keluarganya463) untuk (menegakkan) salat dan (menunaikan) zakat. Dia adalah orang yang diridai oleh Tuhannya.
Dengan kerasulan itu Nabi Ismail mengajak kaumnya mematuhi Allah dan dia selalu menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat sebagai ibadah dan ungkapan syukur kepada-Nya dan menunaikan zakat kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Dengan ketulusan dan keteguhannya memegang janji, dia menjadi salah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Ismail selalu menyuruh keluarganya tetap mengerjakan salat dan menunaikan zakat, karena salat dan zakat itu telah disyariatkan semenjak Nabi Ibrahim. Risalah yang disam-paikan oleh Nabi Ismail adalah risalah yang dibawa oleh bapaknya Ibrahim. Meskipun yang diterangkan di sini hanya mengenai keluarganya tetapi perintah itu mencakup seluruh kaumnya karena rasul itu diutus bukan untuk keluarga semata tetapi diutus untuk semua umatnya. Nabi Muhammad sendiri pada mulanya hanya disuruh menyampaikan ajaran Islam kepada keluarganya dan kemudian baru diperintahkan mengajak seluruh manusia mengikuti ajaran yang dibawanya. Hal ini terdapat dalam firman Allah:
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْن َ ۙ ٢١٤
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,(asy- Syu’arā’/26: 214)
Dan firman-Nya:
وَأْمُر اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. (Ṭāhā/20: 132)
Kemudian Allah menerangkan bahwa Ismail itu adalah orang yang diridai Allah karena dia tidak pernah lalai menaati perintah Tuhannya, dan selalu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Marḍiyya مَرْضِيًّا (Maryam/19:55)
Lafal مَرْضِيًّا adalah bentuk ism al-maf’ūl yang berarti orang atau barang yang dikenai perbuatan. Berasal dari fi’il رضى -يرضى -رضى -ورضوانا artinya rida atau suka dan senang. مَرْضِي berarti orang yang diridai, disukai atau disenangi. Firman Allah dalam ayat 55 Surah Maryam, artinya: dia yaitu Nabi Ismail adalah seorang yang diridai atau disukai di sisi Tuhannya. Hal ini karena Nabi Ismail selalu mengingatkan keluarganya dan juga umatnya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Pada ayat sebelum ini yaitu ayat 54 juga diterangkan bahwa Nabi Ismail adalah seorang yang selalu menepati janji sehingga beliau disebut ṣādiqal-wa’di artinya orang yang benar-benar memegang janji. Maka keridaan Allah pada Nabi Ismail adalah tepat karena Nabi Ismail seorang nabi dan rasul yang lurus, rajin, setia pada janji dan mau berkurban apa saja, bahkan bersedia untuk disembelih dalam rangka memenuhi perintah Allah.

























