اَمْ لَهُمْ مُّلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗفَلْيَرْتَقُوْا فِى الْاَسْبَابِ
Am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqū fil-asbāb(i).
Atau, apakah mereka mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya? (Jika ada,) biarlah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).
Atau apakah mereka mendustakan Nabi Muhammad karena merasa mempunyai kerajaan dan kekuasaan di langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya? Jika tidak, semestinya mereka tidak mencampuri urusan Allah dalam menentukan seseorang menjadi rasul karena Dialah yang memiliki wewenang mutlak untuk itu. Jika tetap ingkar, maka biarlah mereka menaiki tangga-tangga menuju langit guna menghalangi turunnya wahyu Kami kepada Rasulullah.
Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang Quraisy atas sikap mereka yang ingkar dan sombong. Pertanyaan ini mengandung cemoohan karena memang mereka tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun terhadap langit, bumi, dan isi keduanya. Kalau mereka merasa tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun di jagat raya, mestinya mereka juga tidak ikut campur tangan dalam pengangkatan rasul, yang termasuk urusan gaib, yang kekuasaannya berada pada yang Mahaperkasa dan Mahaagung.
Di akhir ayat, Allah memerintah Rasul-Nya agar menantang mereka menaiki tangga-tangga ke langit, dan mencari daya upaya agar menghalang-halangi wahyu yang didatangkan kepada rasul pilihan Allah. Sesungguhnya mereka tidak akan mampu melakukannya. Dengan demikian, jelaslah pengingkaran mereka kepada wahyu hanya karena sikap ḥasad (dengki).
1. Manāṣ مَنَــاص (Ṣād/38: 3)
Kata manāṣ terambil dari kata nāṣa-yanūṣu-manīṣan -wa manāṣan yang berarti berlindung dari sesuatu. Sebagian yang lain terutama masyarakat jahiliah Arab menggunakan kata ini sebagai istilah untuk berlari mundur ke belakang ketika terjadi kepanikan dan kekalutan dalam peperangan. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan sesuatu gerakan yang tidak tentu baik ke depan atau ke belakang untuk mencari sebuah perlindungan, akan tetapi gerakan maju mundur ini disertai dengan perasaan panik yang tidak menentu. Sebagian mengartikan bergerak dan pergi. Intāṣat asy-syams artinya matahari telah bergerak dan terbenam. An-Nauṣ berarti melarikan diri. Nāṣa al-faras berarti kuda itu berlari dan bergerak. Kata ini juga mengandung arti keterlambatan, yang pasti kata ini menunjukkan kepada arti gerakan yang tidak menentu dan pasti.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang kisah umat terdahulu sebagai iktibar untuk kaum kafir Mekah. Dijelaskan oleh Allah bahwa umat-umat sebelum mereka karena kesombongan dan keangkuhannya, maka Allah membinasakan mereka dan menurunkan azab yang hebat. Pada saat azab ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah padahal saat itu bukanlah waktu untuk meminta pertolongan, tidak ada gunanya lagi walaupun mengiba sepenuh hati. Mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari siksa tersebut (Walāta ḥīna manāṣ).
2. ‘Ujāb عُجَــاب (Ṣād/38: 5)
Kata ‘Ujāb menggunakan pola wazan fu‘āl dengan ḍammah di awalnya untuk menunjukkan arti mubalagah (melebihkan makna), terambil dari akar kata ‘ajiba-ya‘jabu-‘ajaban yang berarti sesuatu yang sangat mengherankan karena tidak terbiasa atau karena sangat sedikit kejadiannya. Bentuk jamaknya adalah a‘jāb. Sedangkan isti‘jab adalah ungkapan yang menunjukkan pada ketakjuban dan keheranan yang luar biasa. Pola ini mengindikasikan adanya makna kemantapan sifat tersebut. Kata ini dengan berbagai derivasinya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Kesemuanya menunjukkan pada sifat aneh, takjub, ajaib, heran, dan kagum. Sifat ini mustahil dinisbahkan kepada Allah, karena bagi-Nya tidak tersembunyi sesuatu yang aneh. Kendati dinisbahkan seperti bunyi hadis “ajiba rabbuka min qaum yuqāduna ila al-jannah fi as-salāsil”,yang artinya” Tuhanmu merasa heran terhadap satu kaum yang digiring menuju surga dalam keadaan terbelenggu”. Maka itu adalah bentuk kiasan (majaz). Ungkapan ini juga memiliki arti kesombongan.
Pada ayat ini dijelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang merasa aneh dan heran (ta‘ajub) akan ajakan Rasulullah. Orang-orang kafir heran, mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu, padahal sejak dahulu mereka dan nenek moyangnya berkeyakinan bahwa Tuhan itu banyak. Mereka menganggap apa yang diseru oleh Muhammad adalah sesuatu yang mengherankan dan bertentangan dengan keyakinan nenek moyang mereka (inna hāżā lasyai’un ‘ujāb). As-Sulami membacanya dengan menggunakan tasydid pada huruf jim untuk mubalagah pada rasa ta‘ajjub. Untuk itu, mereka tidak mau mengikuti ajakan Muhammad bahkan mereka meng-anggap Muhammad adalah seorang pendusta dan pembohong.
















































