اَؤُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْۢ بَيْنِنَا ۗبَلْ هُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْ ذِكْرِيْۚ بَلْ لَّمَّا يَذُوْقُوْا عَذَابِ ۗ
A'unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażūqū ‘ażāb(i).
Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku.
Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad padahal dia berasal dari kalangan jelata, bukan kepada orang terpandang di antara kita?” (Lihat Surah az-Zukhruf/43: 31). Allah menegaskan, “Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Qur’an yang turun dari sisi-Ku karena kedengkian hati mereka, tetapi mereka belum merasakan azab-Ku atas keingkaran mereka. Kelak mereka pasti akan merasakannya.”
Kemudian Allah menjelaskan pengingkaran orang-orang kafir Mekah bahwa Muhammad diberi wahyu, padahal dia manusia biasa. Menurut anggapan mereka, yang pantas diangkat menjadi utusan ialah orang yang mempunyai kemuliaan dan kepemimpinan yang melebihi mereka. Muhammad tidak mempunyai sifat-sifat istimewa yang seperti itu, sehingga tidak mungkin Al-Qur’an diturunkan kepadanya. Sedangkan di antara mereka masih ada orang-orang yang lebih mulia, dan lebih pantas memegang kepemimpinan.
Allah berfirman:
وَقَالُو ْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْن ِ عَظِيْمٍ ٣١
Dan mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?” (az-Zukhruf/43: 31)
Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad karena menurut jalan pikiran mereka, orang yang diutus menjadi rasul adalah orang yang kaya raya dan berpengaruh. Mereka tidak menyadari bahwa Allah berkuasa menentukan pilihan menurut kehendak-Nya di antaranya mengangkat hamba-Nya menjadi Nabi.
Allah berfirman:
وَقَالُو ْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ ٧ اَوْ يُلْقٰىٓ اِلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ تَكُوْنُ لَهٗ جَنَّةٌ يَّأْكُلُ مِنْهَاۗ وَقَالَ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا ٨
Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia, atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau (mengapa tidak ada) kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (al-Furqān/25: 7-8)
Di bagian akhir, ayat ini menjelaskan bahwa penyebab mereka jauh dari kebenaran adalah karena hati mereka diselubungi keraguan yang tidak bisa ditembus oleh cahaya kebenaran Al-Qur’an, dan mereka belum merasakan siksa Allah yang pedih. Seandainya mereka mau memperhatikan tanda-tanda kebenaran wahyu yang diturunkan kepada rasul-Nya, niscaya mereka mengakui kenabiannya, karena wahyu yang diterima itu telah cukup menjadi tanda kenabiannya. Namun demikian, karena penyakit hasad dan dengki yang telah bersarang dalam dadanya, maka mereka tidak mau menerima wahyu itu. Akhirnya mereka terjerumus dalam lembah keingkaran.
1. Manāṣ مَنَــاص (Ṣād/38: 3)
Kata manāṣ terambil dari kata nāṣa-yanūṣu-manīṣan -wa manāṣan yang berarti berlindung dari sesuatu. Sebagian yang lain terutama masyarakat jahiliah Arab menggunakan kata ini sebagai istilah untuk berlari mundur ke belakang ketika terjadi kepanikan dan kekalutan dalam peperangan. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan sesuatu gerakan yang tidak tentu baik ke depan atau ke belakang untuk mencari sebuah perlindungan, akan tetapi gerakan maju mundur ini disertai dengan perasaan panik yang tidak menentu. Sebagian mengartikan bergerak dan pergi. Intāṣat asy-syams artinya matahari telah bergerak dan terbenam. An-Nauṣ berarti melarikan diri. Nāṣa al-faras berarti kuda itu berlari dan bergerak. Kata ini juga mengandung arti keterlambatan, yang pasti kata ini menunjukkan kepada arti gerakan yang tidak menentu dan pasti.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang kisah umat terdahulu sebagai iktibar untuk kaum kafir Mekah. Dijelaskan oleh Allah bahwa umat-umat sebelum mereka karena kesombongan dan keangkuhannya, maka Allah membinasakan mereka dan menurunkan azab yang hebat. Pada saat azab ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah padahal saat itu bukanlah waktu untuk meminta pertolongan, tidak ada gunanya lagi walaupun mengiba sepenuh hati. Mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari siksa tersebut (Walāta ḥīna manāṣ).
2. ‘Ujāb عُجَــاب (Ṣād/38: 5)
Kata ‘Ujāb menggunakan pola wazan fu‘āl dengan ḍammah di awalnya untuk menunjukkan arti mubalagah (melebihkan makna), terambil dari akar kata ‘ajiba-ya‘jabu-‘ajaban yang berarti sesuatu yang sangat mengherankan karena tidak terbiasa atau karena sangat sedikit kejadiannya. Bentuk jamaknya adalah a‘jāb. Sedangkan isti‘jab adalah ungkapan yang menunjukkan pada ketakjuban dan keheranan yang luar biasa. Pola ini mengindikasikan adanya makna kemantapan sifat tersebut. Kata ini dengan berbagai derivasinya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Kesemuanya menunjukkan pada sifat aneh, takjub, ajaib, heran, dan kagum. Sifat ini mustahil dinisbahkan kepada Allah, karena bagi-Nya tidak tersembunyi sesuatu yang aneh. Kendati dinisbahkan seperti bunyi hadis “ajiba rabbuka min qaum yuqāduna ila al-jannah fi as-salāsil”,yang artinya” Tuhanmu merasa heran terhadap satu kaum yang digiring menuju surga dalam keadaan terbelenggu”. Maka itu adalah bentuk kiasan (majaz). Ungkapan ini juga memiliki arti kesombongan.
Pada ayat ini dijelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang merasa aneh dan heran (ta‘ajub) akan ajakan Rasulullah. Orang-orang kafir heran, mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu, padahal sejak dahulu mereka dan nenek moyangnya berkeyakinan bahwa Tuhan itu banyak. Mereka menganggap apa yang diseru oleh Muhammad adalah sesuatu yang mengherankan dan bertentangan dengan keyakinan nenek moyang mereka (inna hāżā lasyai’un ‘ujāb). As-Sulami membacanya dengan menggunakan tasydid pada huruf jim untuk mubalagah pada rasa ta‘ajjub. Untuk itu, mereka tidak mau mengikuti ajakan Muhammad bahkan mereka meng-anggap Muhammad adalah seorang pendusta dan pembohong.















































