وَمَا يَنْظُرُ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً مَّا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ
Wa mā yanẓuru hā'ulā'i illā ṣaiḥataw wāḥidatam mā lahā min fawāq(in).
Mereka tidak menunggu selain satu teriakan (saja) yang tidak ada selanya.
Dan apabila kaum musyrik Mekah dan umat-umat durhaka terdahulu itu tetap dalam keingkaran mereka, maka sebenarnya yang mereka tunggu adalah satu teriakan saja yang tidak ada selanya. Itulah teriakan sebagai tanda datangnya hari Kiamat-teriakan yang sangat keras dan cepat.
Pada ayat ini, Allah mengancam kaum musyrik Mekah yang tidak mau mengubah keingkarannya kepada Rasul, dengan ancaman berupa teriakan yang amat keras dan cepat, sebagai tanda datangnya hari Kiamat yang membinasakan. Pada saat itu, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengelakkan diri dari kebinasaan yang datang secara tiba-tiba dan tidak berselang sesaat pun.
1. Żu al-Autād ذُو اْلاَوْتاَد (Ṣād/38: 12)
Kata al-autād merupakan bentuk plural dari kata watīd yang terambil dari kata watada watīd yang berarti kayu atau besi yang runcing yang ditanam di tanah dan ujungnya diikat dengan tali dan dihubungkan dengan tenda atau kemah (patok) untuk mengokohkannya. Kata ini mengandung makna penguatan, penetapan dan pengukuhan. Bentuk jamaknya adalah autād. Gunung disebut dalam Al-Qur’an autād (wa al-jibāl autāda), karena dengan gunung bumi menjadi kokoh.
Pada ayat ini menggambarkan tentang sekian banyak sarana dan prasarana yang menegaskan tentang kebesaran dan kemegahan kekuasaan Fir‘aun. Syeikh Muhammad Abduh misalnya memahami autād di sini dengan arti piramid yang dibangun Fir‘aun sebagai simbol kekuasaannya. Pengertian ini bisa-bisa saja, karena pada dinasti ke-19, Raja Fir‘aun Menepeth II memiliki perhatian yang sangat besar terhadap sarana dan prasarana terutama arsitektur bangunan.
Pada ayat ini Allah juga mengisahkan tentang kehancuran umat terdahulu supaya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah sehingga mereka bisa terlepas dari kesesatan dan mau menerima hidayah Ilahi. Ada enam kaum yang karena keengganannya mengikuti ajakan para nabi, akhirnya mereka dihancurkan. Keenam kaum ini adalah Kaum Nabi Nuh, Kaum ‘Ad (umat Nabi Hūd), Fir‘aun (umat Nabi Musa), Kaum Samud (umat Nabi Saleh), Kaum Nabi Lut dan Aṣḥāb al-Aikah (umat Nabi Syuaib). Dari keenam kaum ini, Fir‘aun disifati dengan żu al-autād yang artinya Fir‘aun yang memiliki bala tentara yang besar. Allah mengutus Musa untuk mengajaknya menyembah Allah, akan tetapi dengan keangkuhannya Fira‘un dan bala tentaranya menolak seruan Musa, bahkan dengan congkak dia mengaku bahwa sebenarnya dialah Tuhan yang maha tinggi (ana rabbukum al-a‘lā). Untuk itu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk mengevakuasi umatnya yang beriman ke tempat yang lebih aman karena Allah akan menurunkan azab kepada Fir‘aun dan bala tentaranya dengan cara menenggelamkan mereka di lautan.
2. Fawāq فَوَاق (Ṣād/38: 15)
Kata fawāq terambil dari kata fāqa yafūqu yang berarti melebihi dari kadar yang biasanya. Kata fauqa yang berarti “di atas” merupakan antonim dari kata tahta yang berarti “di bawah”. Artinya kata fāqa mengandung arti sesuatu yang berada di atas yang lain atau lebih dari yang lain. Imra'at fāiqah berarti perempuan yang memiliki kecantikan di atas kecantikan wanita lain. Pada ayat ini berarti teriakan itu tidak ada yang melebihinya. Ada juga yang mengartikan kata ini dalam arti saat atau jeda antara dua kali perasan susu unta. Biasanya hewan setelah diperas susunya beberapa perasan dibiarkan beristirahat sejenak agar air susunya berkumpul lagi dan setelah itu diperas lagi.
Ayat ini menjelaskan tentang ancaman Allah kepada kaum kafir Mekah yang senantiasa menentang dan membangkang terhadap ajakan Rasul dengan akan ditimpakannya satu teriakan (ṣaiḥah) yang amat keras dan dahsyat sebagai tanda datangnya hari Kiamat. Pada saat datangnya ṣaiḥah yang tiba-tiba ini, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan mengelak, karena teriakan ini tidak mempunyai waktu jeda sedikit pun (mā lahā min fawāq).












































