وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ
Wa ākharīna muqarranīna fil-aṣfād(i).
(Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu.
dan adapun setan yang lain yang tidak mematuhi perintahnya, mereka terikat dalam belenggu sehingga tidak mengganggu mereka yang bekerja.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan beberapa nikmat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, sebagai jawaban dari pada doanya. Pertama: Allah menganugerahkan kepada Sulaiman kekuasaan menundukkan angin. Atas izin Allah, angin berhembus dengan kencang atau gemulai menurut kehendaknya pula.
Allah berfirman:
وَلِسُلَ يْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ ٨١
Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Anbiyā'/21: 81)
Kedua: Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan menundukkan setan-setan yang ahli bangunan dan ahli menyelam, yang melakukan tugas sesuai dengan perintah Sulaiman. Apabila ia memerintahkan kepada mereka membangun suatu bangunan seperti gedung-gedung pertemuan istana, benteng pertahanan, atau gedung-gedung tempat menyimpan harta kekayaan Sulaiman dan lain-lain, maka tugas itu dapat mereka selesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Apabila Sulaiman memerintahkan mereka untuk mengumpulkan mutiara dan marjan serta kekayaan laut lainnya, tugas itu dapat diselesaikan dengan cepat pula.
Ketiga: Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan menundukkan setan yang menentang perintahnya. Tangan dan kaki mereka terikat dalam belenggu, agar tidak berbahaya kepada yang lain, dan sebagai hukuman atas pembangkangannya.
Kekuasaan yang diberikan Allah kepada Sulaiman untuk menundukkan setan maksudnya adalah kekuasaan untuk menggerakkan mereka melakukan tugas-tugas berat, yaitu tugas membangun gedung-gedung, dan menyelam mengeluarkan kekayaan laut. Namun tidak ada keterangan secara pasti mengenai bagaimana Sulaiman membelenggu setan itu. Sikap yang paling utama ialah kita menerima keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan untuk mengungkapkan pengertiannya, kita serahkan kepada ilmu pengetahuan.
1. aṣ-Ṣāfināt al-Jiyād الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ (Ṣād/38: 31)
Term aṣ-ṣāfināt al-jiyād terdiri dari dua kata, yaitu aṣ-ṣāfināt dan al-jiyād. Yang pertama (aṣ-ṣāfināt) merupakan bentuk jamak dari ṣāfin, yang artinya kuda yang berdiri dengan tiga kaki, sedang yang satu terangkat dan hanya ujungnya yang menyentuh tanah. ṣāfin merupakan kata yang hanya dipergunakan untuk menyebut keadaan kuda dalam kondisi seperti yang telah disebutkan. Oleh karena itu, kata aṣ-ṣāfināt merupakan ajektif yang subjeknya tidak disebutkan, namun dapat diketahui bahwa subjeknya adalah kuda-kuda.
Sedang yang kedua (al-jiyād) merupakan bentuk jamak dari kata al-jawad, yang artinya kuda yang istimewa. Kata ini dapat pula berarti pemberian yang sangat banyak. Manusia yang sangat dermawan biasa disebut al-jawad. Kuda yang berlari sekuat tenaga disebut jawad, karena semua tenaganya dicurahkan untuk berlari.
aṣ-ṣāfināt al-jiyād, dengan demikian, dapat diartikan sebagai kuda-kuda istimewa yang dapat berlari kencang. Dalam ayat ini, kuda-kuda ini dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman, dan beliau sangat menyukainya. Karena asyik memperhatikan dan mengaguminya, beliau sampai lupa untuk mengingat (beribadah) kepada Tuhannya.
2. Jasadan جَسَدًا (Ṣād/38: 34)
Jasad artinya tubuh, yang dalam ayat ini adalah tubuh yang dicampakkan ke atas singgasana Nabi Sulaiman. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jasad ini adalah patung dari ayah salah satu istri beliau yang atas izinnya dibuat agar si istri dapat mengenangnya. Patung ini disebut jasad dan dicampakkan, dalam arti diletakkan dengan mantap di sekitar singgasananya.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan jasad pada ayat ini adalah jasad Nabi Sulaiman sendiri pada saat ia menderita sakit parah. Seakan-akan ayat di atas mengungkapkan, ”Dan Kami mencampak-kannya di atas singgasananya, bagaikan satu jasad tanpa roh akibat sakit yang dideritanya.”
Ada pula yang mengartikan sebagai bentuk metafora, yaitu bahwa kewibawaan suatu singgasana itu berkaitan erat dengan sesuatu yang bersifat immaterial. Bila hal itu telah kehilangan substansi abstraknya, maka ia akan menjadi suatu bentuk material saja, atau dalam istilah ayat ini jasad tanpa roh, dan bentuk tanpa jiwa. Berkaitan dengan Nabi Sulaiman yang juga raja, bila sebelumnya memiliki singgasana yang sangat berwibawa, karena tergabung di atasnya kemuliaan kenabian dan keagungan kerajaan. Dengan keadaannya yang sedemikian, tidak seorangpun berani menentangnya. Namun demikian, kini singgasana itu tidak memiliki wibawa lagi, sehingga ada sesuatu yang dicampakkan ke atasnya tanpa keinginan Nabi Sulaiman. Yang sedemikian ini agar beliau mengetahui bahwa kekuasaan itu hanya bersumber dari Allah.
















































