وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ
Ważkur ‘abdanā ayyūb(a), iż nādā rabbahū annī massaniyasy-syaiṭānu binuṣbiw wa ‘ażāb(in).
Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan (rasa sakit).”
Cerita tentang Nabi Dawud dan Sulaiman yang diberi berbagai kenikmatan oleh Allah diikuti oleh kisah tentang Nabi Ayyub yang hidupnya penuh ujian dan cobaan. Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad, akan kisah salah seorang hamba Kami, yaitu Nabi Ayyub, yang sangat sabar dan taat kepada Allah. Dan ingatlah ketika dia mendapat ujian dan cobaan dari Allah, dia menyeru dan berdoa kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan, sakit menahun, dan bencana yang besar dengan hilangnya harta kekayaan dan anak keturunanku. Aku mengadu kepada-Mu karena Engkau Maha Penyayang." (Lihat Surah al-Anbiya/21: 83).
Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menceritakan kepada kaumnya kisah Ayub yang sangat sabar menghadapi cobaan hidup dan taat kepada Allah. Pada saat menghadapi cobaan yang sangat berat itu, ia berdoa kepada Allah dan mengadukan agar penderitaannya itu dihilangkan.
Beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa Ayub adalah seorang nabi yang sangat kaya. Ia adalah seorang petani dan pemelihara ternak. Di samping itu, juga sebagai pemimpin kaumnya di sebuah negeri yang terletak di sebelah tenggara Laut Mati. Negerinya terletak di antara kota Adum dan padang pasir Arab, sangat subur, dialiri oleh mata air yang sangat banyak. Ia hidup di antara zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Semula beliau hidup makmur dan bahagia, amat taat beragama, dan banyak sanak keluarganya. Ia sangat senang atas hasil usaha yang dicapainya, juga atas kekayaan, keluarga, dan kesehatannya. Allah lalu ingin menguji ketabahannya dengan menimpakan penyakit kulit yang sangat parah. Begitu berat penyakitnya dan begitu lama dideritanya hingga harta bendanya habis, dan keluarganya bertebaran ke negeri-negeri sekitarnya untuk mencari penghidupan. Di tengah-tengah penderitaannya itu, ia merasa sangat lelah dan menderita. Ia merasa ada setan yang mengusik jiwanya ketika beribadah kepada Allah. Lalu ia mengadukan kepada Allah agar diberi petunjuk untuk melepaskan dirinya dari penderitaan dan siksaan yang dialaminya.
Allah berfirman:
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (al-Anbiyā'/21: 83)
1. Urkuḍ اُرْكُضْ (Ṣād/38: 42)
Urkuḍ berasal dari kata kerja rakaḍa-yarkuḍu, yang artinya menggerakkan atau menghentakkan kaki. Dengan demikian, urkuḍ (kata perintah) dapat diartikan sebagai hentakkan kakimu. Kata ini selalu berkaitan dengan kaki, sehingga penyebutan kata kaki sesudahnya merupakan penguat kalimat. Ungkapan demikian seperti ketika Allah berfirman, “Wa lā ṭā’irin yaṭīru bi janaiḥaihi (dan tidak satu burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya). Burung yang terbang pasti dengan kedua sayapnya. Karena itu penyebutan kedua sayap merupakan kata penguat dari frase sebelumnya.
2. Ḍigṡan ضِغْثًا (Ṣād/38: 44)
Ḍigṡan berasal dari kata ḍagaṡa-yaḍgaṡu, yang artinya campur, berkumpul, atau mencuci. Dalam ayat ini, ḍigṡan diartikan sebagai sekumpulan rumput yang disatukan, atau seikat rumput. Kata ini digunakan dalam ayat tersebut untuk menunjuk pada peristiwa Nabi Ayub yang telah bersumpah akan memukul salah seorang anggota keluarganya (ada riwayat yang menyatakan bahwa yang bersalah itu istrinya dan akan dipukul seratus kali). Kemudian beliau menyesali sumpahnya, sedang dalam syariat agamanya tidak dikenal kaffarat (tebusan pengganti) sebagaimana dalam syariat Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, Allah memberi jalan keluar agar ia tidak melanggar sumpahnya, yaitu dengan mengambil seikat rumput sebanyak yang disumpahkannya untuk dipukulkan kepada keluarganya yang salah itu. Dengan demikian, Nabi Ayub dapat melaksanakan sumpahnya dengan cara yang tidak menyakitkan.













































