Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
User Photo Profile
Al-Quran
Ayat 33 - Surat Ṣād (Ṣād )
صۤ
Ayat 33 / 88 •  Surat 38 / 114 •  Halaman 455 •  Quarter Hizb 46.25 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

رُدُّوْهَا عَلَيَّ ۚفَطَفِقَ مَسْحًا ۢبِالسُّوْقِ وَالْاَعْنَاقِ

Ruddūhā ‘alayy(a), faṭafiqa masḥam bis-sūqi wal-a‘nāq(i).

Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu, dia mengusap-usap kaki dan leher (kuda itu).

Makna Surat Sad Ayat 33
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Lalu Nabi Sulaiman berkata kepada pelatih kuda, “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu dia pun mengusap-usap kaki dan leher kuda itu sebagai wujud syukurnya kepada Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat menyaksikan latihan kuda itu. Ia mengatakan bahwa ia menyukai kuda karena sangat berguna untuk digunakan sebagai alat menegakkan kebenaran dan membela agama Allah. Kesenangannya melatih kuda itu sedemikian dalamnya, sehingga tiap sore hari ia mengunjungi tempat latihan kuda hingga matahari terbenam di ufuk langit bagian barat yaitu hingga cahaya matahari mulai sirna, dan gelapnya malam menghalangi pemandangannya untuk menyaksikan latihan itu. Pada saat-saat itulah terjadi pergolakan dalam dirinya, kepentingan manakah yang harus didahulukan di antara kedua kepentingan. Kepentingan pertama ialah kesadaran jiwanya untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan kepentingan kedua ialah melatih kuda untuk kepentingan menegakkan kebenaran dan membela kalimat tauhid. Dalam keadaan seperti itu, ia menyadari bahwa apabila ia menyaksikan latihan berkuda itu hingga larut malam, berarti ia mengabaikan ibadah yang harus ia lakukan.

Pada ayat ini tidak dijelaskan secara terperinci apakah kesenangan Sulaiman memeriksa latihan kuda itu menyebabkan ia kehilangan waktu untuk melakukan ibadah atau tidak. Begitu pula tidak diterangkan mana yang didahulukan oleh Sulaiman, memeriksa latihan kuda atau melaksanakan ibadah. Namun yang dapat dipahami dari ayat tersebut ialah pada saat dia asyik menyaksikan latihan kuda, terbetiklah dalam hatinya kesadaran beribadah kepada Allah. Apabila keasyikannya itu dituruti, niscaya berlarut-larut hingga kehilangan kesempatan untuk bermunajat dengan Allah. Maka pengertian yang patut diambil dari ayat ini ialah, pergolakan yang terjadi pada diri Sulaiman itu ialah penyesalan karena tidak melakukan ibadah kepada Allah pada awal waktunya, karena sibuk menyaksikan latihan kuda. Kemudian ia sadar dan melaksanakannya di akhir waktu.

Isi Kandungan Kosakata

1. aṣ-Ṣāfināt al-Jiyād الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ (Ṣād/38: 31)

Term aṣ-ṣāfināt al-jiyād terdiri dari dua kata, yaitu aṣ-ṣāfināt dan al-jiyād. Yang pertama (aṣ-ṣāfināt) merupakan bentuk jamak dari ṣāfin, yang artinya kuda yang berdiri dengan tiga kaki, sedang yang satu terangkat dan hanya ujungnya yang menyentuh tanah. ṣāfin merupakan kata yang hanya dipergunakan untuk menyebut keadaan kuda dalam kondisi seperti yang telah disebutkan. Oleh karena itu, kata aṣ-ṣāfināt merupakan ajektif yang subjeknya tidak disebutkan, namun dapat diketahui bahwa subjeknya adalah kuda-kuda.

Sedang yang kedua (al-jiyād) merupakan bentuk jamak dari kata al-jawad, yang artinya kuda yang istimewa. Kata ini dapat pula berarti pemberian yang sangat banyak. Manusia yang sangat dermawan biasa disebut al-jawad. Kuda yang berlari sekuat tenaga disebut jawad, karena semua tenaganya dicurahkan untuk berlari.

aṣ-ṣāfināt al-jiyād, dengan demikian, dapat diartikan sebagai kuda-kuda istimewa yang dapat berlari kencang. Dalam ayat ini, kuda-kuda ini dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman, dan beliau sangat menyukainya. Karena asyik memperhatikan dan mengaguminya, beliau sampai lupa untuk mengingat (beribadah) kepada Tuhannya.

2. Jasadan جَسَدًا (Ṣād/38: 34)

Jasad artinya tubuh, yang dalam ayat ini adalah tubuh yang dicampakkan ke atas singgasana Nabi Sulaiman. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jasad ini adalah patung dari ayah salah satu istri beliau yang atas izinnya dibuat agar si istri dapat mengenangnya. Patung ini disebut jasad dan dicampakkan, dalam arti diletakkan dengan mantap di sekitar singgasananya.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan jasad pada ayat ini adalah jasad Nabi Sulaiman sendiri pada saat ia menderita sakit parah. Seakan-akan ayat di atas mengungkapkan, ”Dan Kami mencampak-kannya di atas singgasananya, bagaikan satu jasad tanpa roh akibat sakit yang dideritanya.”

Ada pula yang mengartikan sebagai bentuk metafora, yaitu bahwa kewibawaan suatu singgasana itu berkaitan erat dengan sesuatu yang bersifat immaterial. Bila hal itu telah kehilangan substansi abstraknya, maka ia akan menjadi suatu bentuk material saja, atau dalam istilah ayat ini jasad tanpa roh, dan bentuk tanpa jiwa. Berkaitan dengan Nabi Sulaiman yang juga raja, bila sebelumnya memiliki singgasana yang sangat berwibawa, karena tergabung di atasnya kemuliaan kenabian dan keagungan kerajaan. Dengan keadaannya yang sedemikian, tidak seorangpun berani menentangnya. Namun demikian, kini singgasana itu tidak memiliki wibawa lagi, sehingga ada sesuatu yang dicampakkan ke atasnya tanpa keinginan Nabi Sulaiman. Yang sedemikian ini agar beliau mengetahui bahwa kekuasaan itu hanya bersumber dari Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto