طٰهٰ ۚ
Ṭāhā.
Ṭā Hā.
Bila surah sebelumnya ditutup dengan berita kebinasaan umat terdahulu karena kedurhakaan mereka, surah ini diawali dengan penjelasan bahwa Al-Qur’an turun untuk kebaikan, bukan kesusahan, bagi umat. Taha.
Ṭāhā” termasuk huruf-huruf hijaiyyah yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Qur’an. Para Mufassirin berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Untuk jelasnya dipersilahkan menelaah kembali uraian yang ada pada permulaan surah al-Baqarah jilid I “Al-Qur’an dan tafsirnya” dengan judul “Fawātiḥus Suwar”.
Ṭāhā طه (Ṭāhā/20: 1)
Ṭāhā, para mufasir sepakat, bahwa kata ini terdiri atas dua huruf singkatan Ṭā dan Hā seperti huruf-huruf singkatan (al-muqattaat) yang lain, Yā-Sīn, Alif Lām Mīm, Ḥā Mīm dan lain-lain seperti yang terdapat dalam beberapa surah. Ṭā merupakan huruf yang ke-16 dan hā’ huruf yang ke-26 hija’iyah (alfabet). Para mufasir menguraikan asal dan arti kata ini panjang lebar dari berbagai sumber. Umumnya mereka mengutip beberapa pendapat, antara lain dari sahabat-sahabat Nabi dan para tabiin (tabi’in), bahwa huruf-huruf ini bukan sekadar singkatan, tetapi juga mengandung arti “Hai laki-laki” (ya rajul) yang ditujukan kepada Nabi. Kosakata ini dari bahasa Nabatea, Suryani (Aram) atau Abisinia yang semua itu masih serumpun dan salah satu cabang bahasa Arab; ada juga yang mengatakan itu bahasa ‘Akk, salah satu dialek di Yaman, yang juga sama dengan dialek Quraisy.
2. Aṡ-Ṡarā اَلثَّرَى (Ṭāhā/20: 6)
الثّرى (aṡ-ṡarā) artinya adalah tanah, baik tanah secara mutlak maupun yang dimaksud adalah tanah yang basah. Sedangkan yang dimaksud dengan kata الثّرى تحت (taḥtaṡ-ṡarā) adalah apa-apa yang ada di perut bumi seperti minyak, alumunium, fosfor, batu-batu mulia, biji besi, dan lain-lain. Ayat ini menegaskan bahwa semua yang ada di langit, di bumi dan di antara keduanya bahkan di perut bumi adalah milik Allah. Kata ṡarā hanya disebutkan satu kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini.



























