قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًاۢ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚفَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى
Qālahbiṭā minhā jamī‘am ba‘ḍukum liba‘ḍin ‘aduww(un), fa immā ya'tiyannakum minnī hudā(n), fa manittaba‘a hudāya falā yaḍillu wa lā yasyqā.
Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu (Adam dan keturunannya) menjadi musuh bagi yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, (ketahuilah bahwa) siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
Allah berfirman, “Wahai Adam dan Hawa, turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Ketahuilah, sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku untuk menjadi pedoman dalam kehidupanmu, lalu siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku dan melaksanakan ajaran-Ku, dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan pula celaka dalam kehidupan akhirat.”
Bukan saja Adam yang harus turun ke bumi tetapi Iblis musuh yang memperdayakannya harus turun pula ke dunia. Kedua jenis makhluk ini akan menjadi musuh satu sama lain, permusuhan Iblis terhadap manusia adalah permusuhan yang abadi dan berkesinambungan sampai datangnya hari Kiamat. Iblis akan selalu berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar dengan berbagai macam tipu dayanya. Oleh sebab itu Allah mengingatkan kepada anak cucu Adam agar ia selalu waspada terhadap musuh utamanya itu. Apabila telah datang petunjuk dari Tuhan dengan perantaraan nabi dan rasul-Nya maka hendaklah manusia mengikuti petunjuk seperti yang diajarkan rasul. Dengan demikian dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Ibnu Abbas berkata mengenai ayat ini bahwa Allah melindungi orang-orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an dari kesesatan di dunia dan dari kecelakaan dan malapetaka di akhirat.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ مَرْفُوْعًا (مَنْ اِتَّبَعَ كِتَابَ اللّٰهِ هَدَاهُ اللّٰهُ تَعَالَى مِنَ الضَّلَالَةِ فِى الدُّنْيَا وَوَقَاهُ سُوْءَ الْحِسَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) (رواه ابن ابي شيبة والطبرانى)
Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah bersabda, “Siapa yang mengikuti kitabullah, Allah akan memberikan petunjuk kepadanya untuk menghindari kesesatan di dunia dan memeliharanya dari keburukan hisab pada hari Kiamat.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan aṭ-Ṭabranī)
1. ‘Azman عَزْمًا (Ṭāhā/20:115)
‘Azm secara harfiyah berarti “meneguhkan hati untuk mengerjakan sesuatu”, atau “tekad”. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat “Bila engkau sudah berazam,” yaitu tekad untuk mengerjakan sesuatu, “maka bertawakallah kepada Allah,” (Āli ‘Imrān/3:159). Dalam al-Baqarah/2:235 Allah melarang laki-laki punya azam atau mengutarakan maksudnya untuk menikahi perempuan yang kematian suami sebelum idahnya habis. Dan di dalam Ṭāhā/20: 115 Allah menerangkan bahwa Ia telah memesankan sekali dari awal kepada Adam a.s. bahwa Iblis itu musuh yang selalu berusaha menjatuhkannya. Tetapi sayang Adam a.s. lupa dan tidak punya azam atau kemauan kuat untuk memenuhi pesan itu.
2. Ta’rā تَعْرَى (Ṭāhā/20:118)
Ta’rā kata dasarnya adalah ‘ara yang berarti “telanjang”. Di dalam Ṭāhā/20: 118 Allah menyampaikan kepada Adam a.s. bahwa di dalam surga ia tidak akan pernah merasakan lapar dan tidak akan pernah pula telanjang, karena penghuni surga akan diberi pakaian yang indah dari sutera.




















