Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 60 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 60 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 315 •  Quarter Hizb 32.25 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

فَتَوَلّٰى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهٗ ثُمَّ اَتٰى

Fa tawallā fir‘aunu fa jama‘a kaidahū ṡumma atā.

Maka, Fir‘aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya. Kemudian, dia datang kembali (pada waktu dan tempat yang disepakati).

Makna Surat Taha Ayat 60
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kesepakatan untuk mengadu mukjizat Musa dengan sihir para penyihir Fir’aun terjalin. Maka Fir’aun meninggalkan tempat pertemuan itu, lalu dengan segera dia mengatur tipu dayanya untuk mengalahkan Nabi Musa. Setelah waktu yang disepakati tiba, kemudian dia datang kembali bersama para penyihir dan orang-orang yang akan menyaksikan peristiwa tersebut.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa tercapai persetujuan antara Musa dan Fir‘aun tentang tempat, hari dan waktu diadakannya pertandingan nanti, pergilah Fir‘aun meninggalkan tempat perdebatan itu, untuk mengatur tipu dayanya. Ahli-ahli sihir dikumpulkan, alat-alat perlengkapan mereka disempurnakan, penyokong dan pembantu-pembantunya serta yang lain-lain dipersiapkan. Pada hari yang telah ditetapkan bersama yaitu pada hari raya Syam an-Nasim, berangkatlah Fir‘aun bersama rombongannya ke tempat yang telah disepakatinya dengan Musa. Duduklah ia di atas kursi kebesarannya, didampingi oleh penjabat-penjabat terasnya, diapit oleh rakyatnya di sebelah kiri dan kanannya. Tidak lama kemudian datang pula Musa dengan tongkatnya ditemani oleh saudaranya Harun. Fir‘aun menggembleng tukang-tukang sihirnya yang telah berdiri dan berbaris rapi di depannya, mengharapkan supaya mereka melaksanakan tugasnya, mendemonstrasikan keahliannya dengan sebaik-baiknya, menjanjikan akan memenuhi segala permintaan mereka, apabila mereka menang, sebagaimana diterangkan di dalam firman Allah:

وَجَاۤءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوْٓا اِنَّ لَنَا لَاَجْرًا اِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغٰلِبِيْنَ ١١٣ قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِيْ نَ ١١٤

Dan para pesihir datang kepada Fir‘aun. Mereka berkata, “(Apakah) kami akan mendapat imbalan, jika kami menang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (al-A‘rāf/7: 113 dan 114)

Isi Kandungan Kosakata

1. An-Najwā اَلنَّجْوَى (Ṭāhā/20: 59)

Secara etimologis, an-najwa berarti percakapan, pembicaraan rahasia, atau bisikan antara dua orang. Dalam kontek ayat di atas, an-najwa berarti perahasiaan percakapan antara tukang sihir Fir‘aun dengan Fir‘aun. Tukang-tukang sihir itu berbisik kepada Fir‘aun, bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun adalah tukang-tukang sihir yang akan mengusir Fir‘aun dari Mesir dengan kekuatan sihirnya.

2. Al-Muṡlā اَلْمُثْلَى (Ṭāhā/20: 63)

Secara etimologis, al-muṡla berarti yang paling utama, paling unggul atau yang terbaik. Dalam kontek ayat di atas, al-muṡla ini masih terkait dengan tema bisikan tukang-tukang sihir Fir‘aun kepada Fir‘aun. Dikatakan bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun yang oleh tukang-tukang sihir itu dituduh sebagai ahli sihir akan merombak atau mereformasi tradisi utama warisan nenek moyang yang selama ini terus dijalankan Fir‘aun dan masyarakat Mesir.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto