قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا
Qāla rabbi lima ḥasyartanī a‘mā wa qad kuntu baṣīrā(n).
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?”
Ketika orang yang ingkar itu merasakan balasan Allah, dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta sehingga tidak dapat melihat, padahal di dunia dahulu aku dapat melihat?”
Orang-orang yang kafir itu akan bertanya kepada Allah mengapa Engkau jadikan aku buta sedang mataku dahulu terang dapat melihat. Allah menjawab, bahwa hal itu memang demikian! Karena di dunia ketika datang kepadanya rasul-rasul membawa petunjuk-petunjuk-Nya dia berpaling darinya seakan-akan matanya telah buta dan seakan-akan ia telah melupakannya karena tidak mengindahkan dan memperhatikannya. Oleh sebab itu Allah jadikan mata hatinya buta pada hari Kiamat sehingga engkau tidak dapat mengemukakan suatu alasan untuk membela dirimu dari azab yang telah disediakan baginya sebagai balasan atas kebutaan mereka selama di dunia.
Ma’īsyatan Ḍankā مَعِيْشَةً ضَنْكًا (Ṭāhā/20:124)
Ma’īsy ah artinya “kehidupan” berasal dari akar kata ‘asya “hidup”. Terdapat kosakata lain untuk “hidup” dalam Al-Qur’an yaitu ḥayāh. Kata ḥayāh ini lebih luas, yaitu diperuntukkan pula bagi Allah dan malaikat. Sedangkan ma’īsyah khusus dimaksudkan untuk manusia atau hewan.
Ḍank berarti “sempit”. Dalam Taha/20:124 Allah menegaskan bahwa mereka yang tidak mau mengingat-Nya atau menyebut nama-Nya maka yang akan diperolehnya adalah kehidupan yang sempit, yaitu merana di dunia dan masuk neraka di akhirat.






















