يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ
Yafqahū qaulī.
agar mereka mengerti perkataanku.
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik.”
Musa memohon agar lidahnya fasih dan tidak kelu, sehingga ia lancar dan tegas dalam berbicara, supaya kata-katanya mudah dicerna dan dipahami oleh pendengarnya, hingga mereka memperoleh hidayah Allah. Sebab jika lidah Musa kelu mengakibatkan ia tidak lancar bicaranya.
Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab ketidakfasihan (kelunya) lisan Musa, sebagai berikut:
a. Bahwa Musa di waktu kecilnya, ia mencabut selembar rambut dari dagu Fir‘aun, maka marahlah Fir‘aun dan ia berencana untuk melampiaskan kemarahannya itu. Kemudian ia meminta kepada istrinya supaya membawakan balah (kurma mentah) dan se-onggok bara api. Istri Fir‘aun membela Musa dengan mengatakan, “Musa masih kecil, belum tahu apa-apa.” Sekalipun ada pembelaan, tetapi Fir‘aun tetap melaksanakan maksud jahatnya, dan bara itu diletakkan di atas lidah Musa. Sejak itulah lidah Musa menjadi kaku. Oleh karena itu Musa a.s. meminta kepada Allah supaya kekeluan lidahnya itu dihilangkan.
b. Kekeluan lidahnya diakibatkan karena faktor psykologis yang membebani Musa, akibat dari tindakan dan perbuatannya menampar dan membunuh seorang Qibty.
c. Menurut pendapat lain, bahwa kekeluan tersebut akibat bawaan sejak lahir.
1. Hārūn هَارُوْنَ عَلَيْهِ السَّلاَمِ (Ṭāhā/20:30)
“Selamat sejahtera bagi Musa dan Harun. Demikinlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. 37: 120-122).
Perjalanan hidup Harun yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an dapat dikatakan menyatu dengan Musa, saudaranya. Allah sudah memberi kemampuan menilai mana yang benar dan mana yang salah, memberi pencerahan dan risalah kenabian kepada keduanya (QS.21:48). Hampir semua kisah Harun sudah terdapat dalam kisah Musa setelah ia kembali lagi ke Mesir untuk membebaskan orang-orang Israil dari penindasan Fir‘aun—kecuali sebagian kecil ada kisah yang terpisah. Tetapi watak mereka saling bertolak belakang. Ketika orang Israil di Mesir sedang mengalami penderitaan berat dalam menghadapi kezaliman Fir‘aun, Allah memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk mendatangi Fir‘aun yang zalim itu. Harun mendampingi Musa atas permintaan Musa sebelum itu, karena ia tidak lancar berbicara untuk menghadapi Fir‘aun (asy-Syu’arā’/26: 9-13). Peranan Harun sangat penting membantu adiknya itu sebagai juru bicara. Harun sangat lancar berbicara, wajahnya lebih tampan, putih, sedang Musa sawo matang dan berambut keriting.
Harun bersama Musa pergi ke Mesir dan perjuangannya di sana dalam menghadapi Fir‘aun dan para pembesarnya, sampai mereka keluar dari Mesir bersama-sama, dan begitu seterusnya. Oleh karena itu, membaca perjuangan Musa di Mesir dan di Gunung Sinai, sudah juga mencakup kisah Harun. Hampir tidak ada kisah Harun dalam Al-Qur’an yang berdiri sendiri, juga tidak disebutkan, siapa yang lebih tua di antara keduanya. Memang tidak penting, karena perjuangan mereka menyatu, hendak melawan syirik dan membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir‘aun. Melihat kebenaran itu ada pada Musa dan Harun, pengikut-pengikut Fir‘aun pun beriman kepada Musa-Harun.
Bila akhirnya Musa membebaskan Bani Israil keluar dari Mesir, yang dikenal sebagai Exodus, oleh mereka dipandang sebagai karunia Yahweh kepada Harun dan Musa. Peristiwa ini mereka peringati setiap tahun sebagai hari Paskah (Paasover). Tetapi pengaruh penyembahan anak sapi di Mesir itu masih sangat kuat pada mereka. Ketika Musa seorang diri naik ke atas Gunung Sinai (Horeb), kaumnya yang ditinggalkan bersama Harun di bawah, membuat patung anak sapi dari perhiasan mereka dan bila kemudian Musa kembali kepada kaumnya, ia menemukan mereka menyembah patung anak sapi itu. Musa marah dan sedih sekali, dan dilemparkannya loh-loh itu, dan direnggutnya kepala saudaranya Harun. Tetapi Harun mengatakan bahwa mereka hampir saja membunuhnya. Musa sebagai manusia tak dapat menahan amarahnya, karena sebelum itu (al-A‘rāf/7: 142), sebelum naik ke Gunung Sinai ia sudah meminta Harun menggantikannya memimpin kaumnya selama ia tak ada; “Perbaikilah mereka dan janganlah ikuti orang yang berbuat kerusakan,” kata Musa. Tetapi karena sesudah itu ia yakin saudaranya tidak bersalah, ia berdoa, “Tuhan, ampunilah aku dan saudaraku. Masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu.” (al-A‘rāf/7: 148-151).
Menurut Bibel yang berperan dalam menghadapi Fir‘aun adalah Harun, bukan Musa. Peranan Musa ialah sesudah mereka keluar dari Mesir. (Sekitar Harun dengan Musa memang terjadi kontroversial di kalangan Yahudi sendiri). Dalam Kitab Keluaran 32: 1-6, yang mengumpulkan perhiasan emas itu Harun. Harun memerintahkan istri dan anak, laki-laki dan perempuan melepaskan anting-anting emasnya dan dibawa semua kepadanya, yang setelah itu kemudian dibentuknya dengan pahat dan dibuatnya daripadanya anak lembu tuangan. Sudah tentu ini tidak masuk akal, karena Harun dan Musa sama-sama berjuang mati-matian untuk menegakkan tauhid, dan sebelum itu pun Harun telah mengatakan kepada kaumnya bahwa yang patut disembah hanya Tuhan Yang Maha Esa (Ṭāhā/20: 90). Dalam peristiwa ini dan peristiwa-peristiwa lain terdapat banyak perbedaan dengan Al-Qur’an. Yang kita baca di dalam Al-Qur’an, bahwa sementara Musa pergi ke Gunung Sinai untuk memenuhi janjinya dengan Tuhan itu, ada orang yang pandai dan licik, yang di dalam Al-Qur’an disebut “Samiri”* memanfaatkan kesempatan itu dengan membuat anak sapi dari emas yang dapat bersuara (melenguh) untuk menjadi sembahan mereka (Ṭāhā/20: 85-97).
Akhir hayat Harun. Dalam Kitab Bilangan disebutkan 33: 38-39: “Ketika itu imam Harun naik ke gunung Hor sesuai dengan titah Tuhan dan di situ ia mati pada tahun keempat puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada bulan yang kelima; pada tanggal satu bulan itu; Harun berumur 123 tahun, ketika mati di gunung Hor.” Adapun Musa, mendapat perintah dari Allah agar ia naik ke gunung Nebo dan dia melihat tanah yang dijanjikan, untuk pertama kali dan yang terakhir. Setelah itu Musa mati di sana di tanah Moab, dan dikuburkan di suatu lembah di tanah Moab, dalam usia 120 tahun (Ulangan 32: 49; 34: 1; ). Beberapa mufasir mengatakan Harun lebih tua dari Musa empat tahun, sementara dalam Kitab Keluaran disebutkan Harun lebih tua tiga tahun. Kalau pun ada perbedaan mungkin hanya pada akhir hayat mereka.
Siapa Harun dan hubungannya dengan Musa. Bibel menceritakan asal usul Harun dan Musa, anak-anak Amram. Dimulai dari Amram anak Kehat (Kohath) anak Lewi anak Yakub, kawin dengan bibinya, Yokhebed (Jochebed) anak Lawi (Keluaran 6: 19). Jadi bibi Amram dan sekaligus istrinya yang kemudian melahirkan Harun, Musa dan Miryam (Bilangan, 26: 59). (Lihat juga “Nabi Musa” di atas).
2. ‘Uqdah عُقْدَةٌ (Ṭāhā/20: 27)
عقدة (‘uqdah) artinya simpul tempat bertemunya dua tali atau tambang yang diikatkan, arti ini kemudian dialihkan pada kesulitan lidah mengucapkan kata-kata atau menyebutkan huruf tertentu yang disebut cadel. Pada ayat ini dijelaskan bagaimana Nabi Musa berdoa agar dilepaskan dari kekakuan lidah beliau ketika berbicara, dalam arti kekurangfasihan berbahasa ketika berbicara dengan Fir‘aun untuk menghimbaunya agar beriman kepada Allah. Meskipun Nabi Musa pernah tinggal di istana Fir‘aun, namun ia merasa bahasanya tidak sebagus pengikut-pengikut Fir‘aun.
3. Azrī أَزْرِى (Ṭāhā/20: 31)
أزرى (azri) artinya tulang punggung yang menjadi tumpuan semua gerakan tubuh sekaligus penopang tubuh agar bisa berdiri tegak lurus. Kata الأزر (al-azr) bisa juga berarti kekuatan. Dengan demikian al-azr adalah perumpamaan dari keadaan seorang penolong yang memberi kekuatan dan dukungan kepada orang yang ditolongnya. Seperti keberadaan tulang punggung bagi tubuh yang menopang dan menjadi tumpuan dari semua gerakannya.
Dalam ayat ini Nabi Musa memohon kepada Allah agar Nabi Harun lebih bisa meneguhkan kekuatannya dan menjadi mitranya dalam semua urusan sehingga misi kenabian bisa didakwahkan dengan sempurna.






















