
- Fakta
- Biografi
- Penjelasan
- Komentar
- Giovanni Brass lahir pada 26 Maret 1933 dari keluarga seniman, dan mendapat julukan 'Tintoretto' dari kakeknya, Italico Brass.
- Ia memulai karier sebagai asisten sutradara dan bekerja dengan Federico Fellini dan Roberto Rossellini sebelum menyutradarai film pertamanya pada 1963.
- Brass dikenal karena membuat film art-film avant-garde dan erotika, termasuk Nerosubianco, L'urlo, dan Salon Kitty.
- Kesuksesan Salon Kitty menarik perhatian Bob Guccione, yang mengajak Brass mengarahkan Caligula, tapi Brass menolak menambahkan unsur seks ekstrem dan disingkirkan dari proses edit.
- Meskipun Caligula kontroversial, film ini menjadi yang paling terkenal, dan Brass kemudian fokus pada genre erotika sebagai bentuk perlawanan terhadap sensor sosial.
- Karya terakhirnya yang terkenal termasuk Black Angel dan Fallo, yang menegaskan reputasinya sebagai master film erotika dan avant-garde.
Giovanni Brass, yang dikenal sebagai Tinto Brass, lahir pada 26 Maret 1933 dalam keluarga seniman terkenal, Italico Brass. Ia mendapatkan julukan "Tintoretto" dari kakeknya, yang kemudian diadaptasi sebagai nama panggungnya. Brass mewarisi kemampuan seni dari kakeknya dan mengaplikasikannya dalam dunia perfilman.
Ketika bergabung dengan industri film Italia, Tinto bekerja dengan sutradara terkenal seperti Federico Fellini dan Roberto Rossellini, yang menjadi idolanya. Pada tahun 1963, ia menyutradarai film pertamanya berjudul Chi lavora è perduto. Ia kemudian membuat film art-film avant-garde seperti Nerosubianco dan L'urlo.
Pada tahun 1976, Brass diminta mengarahkan film sexploitation Salon Kitty. Ia memutuskan menulis ulang naskahnya agar menjadi satire politik gelap. Kesuksesan film ini mempertemukan Brass dengan penerbit majalah Penthouse, Bob Guccione, yang mengajak Brass mengarahkan film kontroversial Caligula.
Namun, Brass menolak menambahkan unsur seks keras seperti yang diinginkan Guccione. Ia disingkirkan dari proses editing dan kemudian mengkritik film hasil akhir yang penuh kekacauan dan penyisipan adegan dewasa ekstrem. Meskipun demikian, Caligula tetap menjadi film paling terkenal dan sukses secara komersial yang pernah ia buat.
Setelah kesuksesan Caligula, Brass diarahkan menyutradarai film spionase Snack Bar Budapest. Ia kemudian memutuskan fokus pada genre erotika sebagai bentuk perlawanan terhadap sensor dan hipokrisi masyarakat. Film-film terakhirnya, seperti Black Angel dan Fallo, memperkuat reputasinya sebagai master erotika dan film art avant-garde.
- "Tintoretto": Julukan dari kakek Brass yang terinspirasi dari pelukis terkenal, menandai latar seni dalam hidup Brass.
- Caligula: Film kontroversial yang disutradarai Brass dan Guccione, terkenal karena campuran elemen sejarah, seks, dan kekerasan, serta problem dalam proses editing dan kontroversi publik.
- Sexploitation: Genre film yang menonjolkan unsur seks secara eksplisit, biasanya dibuat dengan tujuan komersial dan sensasional.
- Nerosubianco: Film avant-garde karya Brass yang terkenal dengan gaya eksperimental dan simbolisme seni yang kuat.
- Sensor: Pembatasan dan pengawasan konten media yang bertujuan untuk menyaring materi yang dianggap tidak pantas atau kontroversial oleh masyarakat.












































