فَلَمَّا جَاۤءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوْٓا اِنَّ هٰذَا لَسِحْرٌ مُّبِيْنٌ
Falammā jā'ahumul-ḥaqqu min ‘indinā qālū inna hāżā lasiḥrum mubīn(un).
Ketika telah datang kepada mereka kebenaran (mukjizat) dari sisi Kami, mereka berkata, “Sesungguhnya ini benar-benar sihir yang nyata.”
Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran mukjizat dari sisi Kami sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Musa dan Nabi Harun, mereka berkata dengan angkuh dan sombong, “Ini benar-benar sihir yang nyata.”
Dalam ayat ini diterangkan anggapan pemuka kaum Fir‘aun bahwa mukjizat dan bukti-bukti kebenaran itu adalah sihir yang nyata bagi orang-orang yang menyaksikan dan memperhatikannya. Tuduhan mereka itu sangatlah buruk, karena yang melontarkan tuduhan itu menyadari sepenuhnya bahwa tuduhan itu tidak benar. Keajaiban yang luar biasa yang dilahirkan Musa a.s. itu bukanlah perbuatan dia sendiri, tetapi peristiwa itu adalah mukjizat yang terjadi atas kuasa Allah.
al-Kibriyā’ الْكِبْرِيَاء (Yūnus/10: 78)
Al-Kibriyā’ berasal dari masdar al-kibr wal kabīr merujuk pada arti besar (untuk benda) banyak (untuk jumlah bilangan), tua (untuk usia), dosa besar seperti firman Allah pada Surah Al-Isrā’/17: 31. Bisa pula berarti sesuatu yang sulit seperti pada firman Allah di Surah Al-Baqarah/2: 45. Kata al-kibr wa at-takābur dan istikbār artinya hampir berdekatan yaitu merasa diri besar, lebih dari orang lain. Sedangkan al-kibriyā adalah mengangkat kepala karena sombong merasa diri besar dan menolak untuk patuh. Kata al-kibriyā’ terdapat pada ayat ini dan pada Surah al-Jāṡiyah/45: 37.









































